Hidayatullah.com – Pemain timnas sepak bola Sri Lanka, Mohamed Thilham, mendapat sanksi denda 2.000 dolar AS atau setara Rp32,6 juta karena memakai kaos bertuliskan “Pray for Free Palestine” (Berdoalah untuk Palestina Merdeka) usai pertandingan.
Hukuman dari Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) ini dijatuhkan kepada pemain Thilham menyusul selebrasi seusai pertandingan pada 10 Juni, ketika Sri Lanka mengalahkan China Taipei dengan skor 3-1 dalam Kualifikasi Piala Asia AFC 2027 di Stadion Racecourse, Kolombo.
Meskipun Thilham tidak bermain, ia bergabung dengan rekan satu timnya dalam selebrasi pascapertandingan dan mengangkat kausnya untuk memperlihatkan tulisan ‘Praf for Free Palestine’ yang tertulis di kaus dalamnya.
FIFA, berkoordinasi dengan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), berdalih bahwa aksi Thilham melanggar Kode Disiplin, yang melarang slogan-slogan politik, agama, atau pribadi selama pertandingan atau acara terkait. Meskipun Thilham melakukannya setelah pertandingan berakhir, FIFA menilai tindakan tersebut tetap sebagai bagian dari lingkungan pertandingan resmi.
Tak kunjung mensanksi Israel
Setahun yang lalu, Asosiasi Sepak Bola Palestina (PFA) mengajukan mosi kepada FIFA yang menyerukan pelarangan ‘Israel’ atas Genosida Gaza, tim permukiman ilegalnya, dan serangannya terhadap olahraga Palestina. Menurut laporan terakhir, jumlah total atlet dan pencari bakat Palestina yang syahid akibat genosida ‘Israel’ yang sedang berlangsung telah meningkat menjadi 724 orang, termasuk 382 atlet pesepakbola.
Melansir gerakan BDS, FIFA terus melindungi ‘Israel’ yang melakukan genosida dari tanggung jawab.
Konfederasi Sepak Bola Asia (LO) yang beranggotakan 47 orang mendukung mosi PFA dan baru-baru ini mendesak FIFA untuk mengakhiri penundaan dan memberikan sanksi kepada Israel.
LO, Konfederasi Serikat Buruh Norwegia yang beranggotakan 1 juta orang, memberikan suara 77% untuk boikot penuh terhadap Israel, termasuk boikot olahraga, atas genosida Israel di Gaza.
Para penggemar sepak bola terus mengibarkan spanduk bertuliskan “Kartu Merah untuk Israel” di puluhan stadion di seluruh dunia, mulai dari liga papan atas hingga sepak bola lokal.*




