Hidayatullah.com – Berbeda dengan pemerintah mereka, mayoritas warga Jerman mendukung pengakuan negara Palestina. Hal ini terungkap dalam survei Internationale Politik yang diterbitkan pada Ahad (10/08/2025).
“Sekitar 54% responden menyatakan mendukung pengakuan Palestina sebagai negara merdeka, sementara 31% menolaknya,” bunyi laporan Anadolu mengutip survei.
Sebagian besar pemuda Jerman dan pendukung partai oposisi sayap kiri radikal, Partai Kiri, mendukung langkah ini.
Di antara pendukung Partai Kiri, sekitar 85% responden mendukung pengakuan Palestina. Di antara pendukung Partai Hijau, angkanya mencapai 66%, dan di antara pendukung Partai Sosial Demokrat (SPD) yang ikut memerintah, angkanya mencapai 52%.
Dukungan sangat rendah di antara partai Uni Demokratik Kristen/Uni Sosial Kristen yang berkuasa bersama (48 persen) dan partai oposisi sayap kanan Alternatif untuk Jerman (AfD) (45 persen).
Mayoritas warga Jerman menginginkan pemerintah mereka untuk memberikan lebih banyak tekanan kepada ‘Israel’ terkait tindakannya di Jalur Gaza, menurut jajak pendapat baru yang dirilis pada hari Kamis. Survei DeutschlandTrend, yang ditugaskan oleh lembaga penyiaran publik ARD, menemukan bahwa 66% peserta setuju dengan pernyataan bahwa “pemerintah Jerman harus memberikan tekanan lebih besar kepada pemerintah Israel untuk mengubah sikapnya terhadap Jalur Gaza,” sementara hanya 24% responden yang tidak setuju dengan posisi ini.
Menurut berbagai laporan media, Partai Sosial Demokrat (SPD) yang sedang berkuasa bersama sedang menyusun proposal untuk mengakui negara Palestina.
“Sebagai SPD, kami memutuskan dalam kongres partai federal baru-baru ini bahwa pengakuan tidak harus menjadi akhir dari proses menuju solusi dua negara,” ujar juru bicara kebijakan luar negeri untuk fraksi parlemen SPD, Adis Ahmetovic.
“Kami sepenuhnya memahami pengumuman mengenai pengakuan Palestina oleh Prancis, Inggris Raya, dan Kanada.” Ini adalah “langkah logis selanjutnya dalam kebijakan luar negeri mereka.”
Meningkatnya tekanan publik terhadap pemerintah Jerman—dipicu oleh laporan tentang anak-anak yang kelaparan di Gaza—mendorong Kanselir Merz untuk mengumumkan penangguhan sebagian ekspor senjata ke ‘Israel’ pada hari Jumat.
Pemimpin konservatif tersebut mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pemerintah tidak akan mengizinkan ekspor peralatan militer apa pun yang dapat digunakan di Jalur Gaza, sebagai tanggapan atas keputusan pemerintah ‘Israel’ baru-baru ini untuk memperluas serangan militernya dan menduduki Kota Gaza.
Selama berbulan-bulan, Kanselir Friedrich Merz menolak seruan dari anggota parlemen oposisi untuk menghentikan ekspor senjata ke ‘Israel’ dan menolak permohonan dari anggota Uni Eropa untuk menangguhkan perjanjian perdagangan dengan Tel Aviv.
Ia bahkan tidak bergeming ketika agresi militer dan blokade ‘Israel’ di Gaza membunuh lebih dari 61.000 korban jiwa, dengan perempuan dan anak-anak merupakan hampir setengah dari korban.*




