Hidayatullah.com—Sebuah akun X yang mengaku-ngaku bernama ‘Fatima Khatun’, mengklaim sebagai Muslimah yang meninggalkan Islam (murtad) dan sering mengkritik Islam, ternyata adalah identitas palsu. Menurut laporan Dialogue Pakistan, akun ini dikendalikan seorang lelaki bernama Pankaj Srivastav dari Patna, India.
Informasi ini kemudian dikonfirmasi lewat penelusuran keamanan siber oleh pengguna X lainnya. Akun tersebut menjadi sorotan setelah mempublikasikan tulisan berjudul “11 reasons for leaving Islam” (11 Alasan Mengapa Meninggalkan Islam), yang menyebut Islam mengajarkan kebencian terhadap komunitas lain.
Konten itu langsung viral, meraih lebih dari 14 juta tayangan, 162 likes, dan 28 repost. Dalam unggahannya, Fatima bahkan mengklaim bahwa “pemerintah Pakistan telah membuat aduan ke platform X” — lengkap dengan tangkapan layar notifikasi keluhan dari Pakistan Telecommunication Authority (PTA).
“Akun ini mencetuskan kontroversi apabila mendakwa dirinya seorang wanita yang meninggalkan Islam. Namun, siasatan netizen membuktikan ia sebenarnya dikendalikan seorang lelaki India,” tulis DialoguePakistan
Identitas Asli Dibongkar
Setelah penyelidikan digital, sejumlah netizen mengungkap bahwa “Fatima Khatun” bukanlah perempuan Muslim. Sebaliknya, akun ini dikelola oleh Pankaj Srivastav dari Patna. Media Dialogue Pakistan mengutip hasil investigasinya:
“Pengendali akaun palsu itu adalah lelaki India bernama Pankaj Srivastav. Identitasnya terungkap setelah sejumlah tangkapan layar memperlihatkan kesamaan data digital dengan akun pribadinya.”
Analisis lebih lanjut juga menunjukkan bahwa foto profil “Fatima” diambil dari akun Instagram wanita yang tidak dikenal dan kemudian dimanipulasi agar terlihat sebagai perempuan Muslimah.
Pembongkaran ini langsung memunculkan kecaman luas, khususnya dari kalangan Muslim dan aktivis media digital. Seorang pemerhati dunia siber, mengatakan: “Strategi seperti ini sengaja dicipta untuk menimbulkan kekeliruan, memecahbelahkan umat Islam, dan menanamkan narasi kebencian terhadap agama.”
Seorang pengguna X menegaskan dalam cuitannya: “Bayangkan betapa banyak orang yang terpengaruh dengan kebohongan akun ini. Ini bukan sekadar kritik, tapi propaganda yang terorganisir.”
Menurut Dialogue Pakistan, kasus Fatima Khatun mencerminkan tren penggunaan akun palsu dengan identitas agama-gender tertentu untuk menyebar ideologi politik. “Ini bukan kali pertama akaun pro-’Israel’ dan anti-Islam yang mengaku eks-Muslim terhubung dengan operator dari India.”
“Kisah ini mengingatkan kita betapa mudahnya identitas boleh dimanipulasi di era digital. Warga Masyarakat perlu lebih berwaspada, jangan cepat percaya dengan naratif ekstrem tanpa memeriksa sumbernya,” kutip media Malaysia, The Merdeka Times.
Beberapa laporan dan studi dari organisasi internasional dan lembaga penelitian menunjukkan adanya peningkatan ujaran kebencian terhadap umat Islam di India dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut laporan tahunan dari India Hate Lab, sebuah lembaga riset berbasis Washington, jumlah insiden ujaran kebecian meningkat tajam dari 668 kasus pada 2023 menjadi 1.165 kasus pada 2024—menandai lonjakan sebesar 74,4 %.
98,5 % dari insiden kebencian itu secara spesifik menargetkan Muslim, baik secara eksplisit maupun bersamaan dengan minoritas lain seperti Kristen. Sekitar 75 % dari insiden terjadi di negara bagian yang dikuasai oleh BJP—partai nasionalis Hindu yang berkuasa lapor The Hindu.
Di paruh kedua 2023 saja, terjadi kenaikan 62 % dalam ujaran kebencian terhadap Muslim (dari 255 insiden meningkat menjadi 413), tulis Reuters. *




