Hidayatullah.com—Seksolog Boyke Dian Nugraha memberikan perhatian khusus kepada orang tua mengenai peran keluarga dalam membentuk orientasi seksual anak. Ia menekankan bahwa keharmonisan keluarga dan sosok ayah yang kuat menjadi faktor penting agar anak-anak tidak terjerumus pada orientasi sesama jenis.
“Ketika anak-anak saya pacaran, apakah perempuan atau laki-laki, saya bersyukur kepada Tuhan. Itu berarti anak saya bukan gay, bukan lesbian. Saya tidak melarang anak-anak saya pacaran karena lingkungan bisa memengaruhi orientasi,” kata dokter spesialis obstetri dan ginekologi (SpOG) ini di kanal YouTube SUARA BERKELAS bertema “BONGKAR FAKTA DIBALIK Maraknya Kelainan Seksual di Masyarakat Kita”.
Pengisi acara “Malam Malam” di NET., ini mengatakan Menurut Dr. Boyce, lingkungan sekolah atau interaksi sehari-hari dapat memberikan pengaruh hingga 75–80 persen terhadap orientasi anak.
Ia mencontohkan beberapa kasus di mana laki-laki atau perempuan yang mengalami ketidakharmonisan keluarga atau kekerasan dalam rumah tangga cenderung mencari pasangan sesama jenis di kemudian hari.
“Banyak kasus wanita lesbian yang disakiti oleh pasangan atau suaminya dan akhirnya menjalin hubungan dengan perempuan lain. Begitu juga laki-laki yang kehilangan sosok ayah yang kuat bisa menjadi gay,” jelas “Go Healthy” di Metro TV.
Dr. Boyce juga membahas pentingnya pendidikan seksual yang sehat dan pengawasan orang tua dalam hubungan pacaran anak. Ia membolehkan anak-anaknya pacaran dengan batas tertentu, misalnya hanya sampai berciuman, untuk mengenal kecocokan pasangan tanpa melakukan hubungan intim lebih jauh.
Sekolah Muridnya Pria Pun Potensi Homo
Ia menekankan bahwa lingkungan sekolah juga memiliki pengaruh besar terhadap orientasi seksual anak. Menurutnya, anak yang berada di sekolah khusus laki-laki atau boarding school yang seluruh pria atau sebaliknya yang semuanya wanita tetap memiliki risiko lebih tinggi tertarik sesama jenis karena faktor lingkungan.
“Bisa saja dipaksa di sekolah yang semuanya laki-laki, mereka akhirnya menjadi suka sesama jenis. Sama halnya di sekolah boarding yang semuanya perempuan bisa menjadi lesbian. Lingkungan bisa memengaruhi sampai 75–80 persen,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa pengalaman traumatis, kehilangan figur ayah, atau dominasi ibu yang berlebihan juga bisa menjadi faktor risiko bagi anak laki-laki menjadi gay.
Ia menekankan bahwa keluarga yang harmonis, pendidikan agama yang kuat, serta bimbingan orang tua yang tepat menjadi faktor utama dalam membentuk anak yang sehat secara psikologis dan emosional.
“Orang tua harus memilih pasangan anak dengan cermat dan menjaga keharmonisan keluarga. Keharmonisan ini sangat luas dampaknya,” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa usaha membimbing anak memerlukan perhatian dan effort yang besar, dan jika orang tua merasa tidak mampu, anak-anak dapat mencari lingkungan yang lebih menerima di negara-negara yang liberal terhadap LGBT, seperti Belanda, New Zealand, atau Amerika Serikat.
Berita ini menjadi pengingat penting bagi orang tua bahwa peran keluarga, sosok ayah, dan pendidikan yang harmonis sangat menentukan perkembangan psikologis dan orientasi anak.*




