Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

Eep Saefullah Fatah: Inkonsistensi Jokowi Cerminkan Krisis Demokrasi

Ahmad
Terakhir diupdate: 17 Oktober 2025 09:53 9:53 am
Ahmad
Dipublikasikan 17 Oktober 2025 09:52
Bagikan
Eep Saefullah Fatah
Bagikan

Hidayatullah.com—Analis politik Eep Saefullah Fatah melontarkan kritik tajam terhadap mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Menurutnya, sikap tidak konsisten Jokowi sejak awal masa kepemimpinannya menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan demokrasi Indonesia.

Eep menilai, inkonsistensi itu paling nyata terlihat dari pernyataan Jokowi mengenai keluarganya yang semula diklaim tidak akan terlibat dalam politik, namun justru kini aktif di panggung kekuasaan.

“Janji-janji itu dibantah oleh fakta yang dia sendiri ciptakan. Ini bukan sekadar pelanggaran etika, tapi cermin dari ketidaksiapan melepaskan kekuasaan,” tegasnya dalam Podcast Madilog Forum Keadilan yang digelar pada Kamis malam (16/10/2025).

Menurut Eep, Jokowi bukan hanya tidak konsisten antara ucapan dan tindakan, tetapi juga terjebak dalam kecemasan untuk kehilangan kendali politik.

“Jokowi tampaknya orang yang paling tidak siap meninggalkan kekuasaannya,” ujar Eep dalam wawancara itu.  “Ketidaksiapan itu terlihat sejak ia berperan besar dalam perubahan syarat capres-cawapres yang akhirnya membuat putranya memenuhi syarat dan terpilih. Itu tanda jelas seorang pemimpin yang cemas kehilangan kekuasaan.”

Baca Juga

Pentagon Perlu $80 Miliar untuk Tutup Biaya Perang Iran dll
Dua Ledakan di Jalan Raya Khyber Pakhtunkhwa Sedikitnya 7 Orang Tewas
Pesepakbola Paraguay Jadi yang Pertama Diusir dari Lapangan Piala Dunia karena Menutup Mulut
Pengadilan Penjarakan Orang Tua dari Bocah Pelaku Penembakan di Sekolah Beograd Serbia 2023
Label Teroris untuk Palestine Action Dibenarkan Pengadilan Banding Inggris

Eep menyebut bahwa kecemasan tersebut tampak dari upaya Jokowi membangun jejak kekuasaan dalam keluarga, melalui keterlibatan anak-anak dan menantunya di panggung politik nasional.

“Dua putranya sudah berpolitik, putrinya tidak, tapi menantunya iya. Jadi kalau keluarga itu terdiri dari empat pasang, semuanya terwakili. Tidak ada keluarga lain yang semasif itu,” tegasnya.

Selain soal dinasti, Eep juga menyoroti inkonsistensi Jokowi yang dianggap sudah menjadi tabiat.

“Pak Jokowi itu terbiasa untuk tidak konsisten,” kata Eep. “Dulu beliau mengatakan anak-anaknya tidak akan terjun ke politik, tapi kemudian semua itu dibantah sendiri. Ini bukan soal harus inkonsisten, tapi sudah menjadi kebiasaan untuk tidak konsisten.”

Ia menambahkan, kecenderungan tersebut menunjukkan bahwa Jokowi tidak sungguh-sungguh membangun sistem demokrasi yang sehat dan terbuka.

“Ketika masa jabatannya berakhir, yang tersisa bukan semangat demokrasi, melainkan kekhawatiran kehilangan kendali,” ujar Eep.

Lebih lanjut, Eep menilai pemilu 2024 menjadi bukti paling nyata dari kecenderungan otoritarian itu.

“Pemilu 2024 adalah pemilu dengan keterlibatan kekuasaan yang paling brutal dalam sejarah reformasi,” ujarnya.

“Kalau Soeharto mempraktikkan otokratisme dalam sistem otokratis, Jokowi mempraktikkan otokratisme dalam sistem demokratis.”

Eep menegaskan, kebiasaan Jokowi yang memadukan politik keluarga, pengaruh kekuasaan, dan lemahnya konsistensi nilai membuat demokrasi Indonesia mundur ke belakang.

“Kita harus belajar bahwa seorang penguasa bukan hanya dibatasi ketika berkuasa, tapi juga ketika kekuasaan berpindah. Kalau tidak, dia akan merusak aturan, etika, dan moral politik,” tutupnya.

Selain soal dinasti politik, Eep juga menyoroti lemahnya posisi Jokowi dalam menjaga independensi lembaga-lembaga negara, terutama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Saat KPK dilemahkan, presiden justru diam. Itu sinyal jelas bahwa ia tidak berdiri di atas kepentingan publik,” lanjutnya.

Di akhir perbincangan, Eep mengingatkan masyarakat agar tidak menormalisasi praktik kekuasaan semacam ini. “Inkonsistensi seorang pemimpin, bila dibiarkan, akan melahirkan sistem yang korosif dan jauh dari cita-cita demokrasi,” pungkasnya.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:demokrasi indonesiaEep Saefullah FatahinkonsistensiJoko widodoJokowi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Menguji Komitmen Gencatan Senjata Gaza: 7 Catatan Kritis Muhammad Hussein
Tulisan selanjutnya Eep Sebut Jokowisme adalah Warisan Otoritarian yang Berbahaya

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Artikel

Khalwat Digital, Fenomena Pacaran Era Media Sosial

Artikel
16 Juni 2026 16:34
Dua Ledakan di Jalan Raya Khyber Pakhtunkhwa Sedikitnya 7 Orang Tewas
Jangan Cuma di Stadion, Pria Jepang Diminta Ikut Bantu Bersihkan Rumah
Label Teroris untuk Palestine Action Dibenarkan Pengadilan Banding Inggris
Tiga Kapal Tanker Saudi Melewati Selat Hormuz Setelah Iran-AS Sepakat Mengakhiri Perang

Terbaru

  • Pentagon Perlu $80 Miliar untuk Tutup Biaya Perang Iran dll
  • Dua Ledakan di Jalan Raya Khyber Pakhtunkhwa Sedikitnya 7 Orang Tewas
  • Pesepakbola Paraguay Jadi yang Pertama Diusir dari Lapangan Piala Dunia karena Menutup Mulut
  • Pengadilan Penjarakan Orang Tua dari Bocah Pelaku Penembakan di Sekolah Beograd Serbia 2023
  • Label Teroris untuk Palestine Action Dibenarkan Pengadilan Banding Inggris
  • Amerika Serikat Hentikan Pendanaan Program HIV di Afrika Selatan
  • Hujan Hitam di Moskow Usai Ukraina Bombardir Pengilangan Minyak Rusia
  • Jangan Cuma di Stadion, Pria Jepang Diminta Ikut Bantu Bersihkan Rumah
  • Tiga Kapal Tanker Saudi Melewati Selat Hormuz Setelah Iran-AS Sepakat Mengakhiri Perang
  • Semua Biaya Ditanggung Qatar Kirim 1.000 Pendukung Timnas Jelang Laga Versus Kanada

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Amerika Serikat Hentikan Pendanaan Program HIV di Afrika Selatan

20 Juni 2026 09:58
Berita

Hujan Hitam di Moskow Usai Ukraina Bombardir Pengilangan Minyak Rusia

19 Juni 2026 15:34
Berita

Semua Biaya Ditanggung Qatar Kirim 1.000 Pendukung Timnas Jelang Laga Versus Kanada

18 Juni 2026 18:56
Berita

MUI Serukan Masyarakat Lawan Gerakan Normalisasi LGBT

18 Juni 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?