Gencatan senjata di Jalur Gaza bukan sekadar isu militer, tetapi ujian integritas politik dunia. Apakah dunia sungguh menginginkan perdamaian atau sekadar menunda perang hingga propaganda berikutnya
- 1. Euforia Perdamaian yang Palsu
- 2. Pintu Rafah: Harapan yang Kembali Tertutup
- 3. Pertukaran Tawanan dan Kesepakatan yang Dilanggar
- 4. Kemanusiaan di Balik Jeruji: Luka Tawanan Gaza
- 5. Propaganda dan Perang Narasi
- 6. Tekanan Internasional dan Risiko Diplomatik
- 7. Seruan Moral dan Perlawanan Naratif
- Yang perlu kita lakukan
Hidayatullah.com | SATU pekan setelah gencatan senjata diumumkan antara penjajah ‘Israel’ dan kelompok perlawanan di Gaza, situasi di lapangan jauh dari kata damai. Serangan masih berlanjut, korban terus bertambah, dan pintu Rafah kembali tertutup.
Aktivis Indonesia yang menikah dan tinggal di Jalur Gaza, Muhammad Hussein atau juga sering dipanggil Hussein Gaza menyoroti sederet pelanggaran, ketidakjujuran politik, dan kepura-puraan diplomasi di balik kesepakatan tersebut. Dalam siaran terbarunya di Channel YouTube pribadinya, ia menyampaikan tujuh catatan kritis yang menelanjangi rapuhnya komitmen gencatan senjata di tengah permainan politik global.
1. Euforia Perdamaian yang Palsu
Hussein mengingatkan bahwa kegembiraan menyambut gencatan senjata hanyalah euforia semu. Dalam sepekan pertama, lebih dari 20 warga Palestina tewas akibat serangan Israel, padahal kesepakatan sudah berlaku.
“Dari awal kita sudah ekspektasi, sudah meyakini pasti akan ada pelanggaran-pelanggaran, dan itu terjadi,” ujarnya.
Ia menilai, penghentian kekerasan hanyalah slogan politik yang tidak dibarengi niat tulus menghentikan agresi. “Gencatan senjata hanya berlaku di atas kertas, bukan di bumi Palestina,” tegasnya.
2. Pintu Rafah: Harapan yang Kembali Tertutup
Pintu perbatasan Rafah, jalur vital bagi bantuan kemanusiaan, seharusnya dibuka 72 jam setelah kesepakatan damai. Namun, Israel kembali menutupnya dengan alasan pihak Gaza melanggar janji.
“Hari ini Rafah ditutup oleh Israel dengan alasan gerakan H di Gaza tidak menepati janji,” kata Hussein, menambahkan bahwa tuduhan itu hanyalah “dalih untuk menghalangi bantuan dan menghukum warga sipil.”
Menurutnya, penutupan Rafah menandakan bagaimana kemanusiaan dijadikan alat tawar-menawar politik. Padahal, perjanjian semula menjamin masuknya setidaknya 400 kontainer bantuan setiap hari.
3. Pertukaran Tawanan dan Kesepakatan yang Dilanggar
Salah satu poin penting dalam 20 butir kesepakatan adalah pertukaran tawanan. Muhammad Hussein menegaskan, pihak pejuang telah memenuhi komitmennya dengan membebaskan sekitar 20 tawanan Israel hidup dan mengembalikan 9–10 jasad tentara.
“Para pejuang komitmen dan menunaikan kewajibannya,” katanya.
Namun, Israel tetap menuduh Gaza melanggar perjanjian karena belum menyerahkan seluruh jenazah. Hussein menjelaskan bahwa sebagian besar jasad masih tertimbun di reruntuhan akibat bom Israel sendiri.
“Ini bukan pelanggaran, tapi masalah teknis. Banyak terowongan tempat tawanan tertimbun reruntuhan gedung yang dihancurkan oleh Zionis,” ujarnya.
Dengan demikian, tuduhan pelanggaran hanyalah alasan untuk menutup Rafah dan menggagalkan distribusi bantuan.
4. Kemanusiaan di Balik Jeruji: Luka Tawanan Gaza
Hussein juga mengungkapkan kondisi mengerikan para tawanan Palestina yang baru dibebaskan. Banyak yang keluar dalam keadaan memprihatinkan — kurus, penuh luka, bahkan ada yang kehilangan anggota tubuh.
“Banyak yang keluar dalam kondisi tubuh kurus kering, memar di mana-mana. Tidak sedikit yang pulang dengan kaki teramputasi atau tangan patah,” ujarnya.
Ia menyebut hal itu sebagai bukti nyata penyiksaan sistematis di penjara Israel. Sebaliknya, pejuang Palestina memperlakukan tawanan musuh secara manusiawi.
“Para tawanan itu dimuliakan, diberi makan, dijaga, dan dirawat,” kata Hussein, menegaskan bahwa tidak ada dalam “kamus para pejuang” untuk membunuh tawanan.
Kontras ini, menurutnya, menjadi cermin moral antara penjajah dan yang dijajah.
5. Propaganda dan Perang Narasi
Muhammad Hussein juga menyoroti bagaimana Netanyahu dan Donald Trump memainkan narasi untuk menutupi kegagalan mereka menjaga kesepakatan damai.
“Netanyahu menggunakan nama Trump, Trump menggunakan nama Netanyahu. Mereka sedang menjaga citra masing-masing,” ujarnya.
Kedua tokoh itu, lanjutnya, berupaya menghindari tanggung jawab atas potensi kembalinya perang. “Mereka berbicara tentang perdamaian sambil menyiapkan alasan untuk perang berikutnya,” tambah Hussein.
Baginya, ini membuktikan bahwa diplomasi yang dijalankan hanyalah bentuk damage control, bukan niat tulus menghentikan konflik.
6. Tekanan Internasional dan Risiko Diplomatik
Hussein menyinggung peran 59 negara yang turut menandatangani Perjanjian Syam As-Syekh di Mesir untuk mengawal implementasi gencatan senjata. Ia menilai, tekanan global itu menjadi faktor penting yang menahan penjajah ‘Israel’ dan Amerika agar tidak memicu perang baru.
“Bayangkan, kalau Donald Trump membiarkan perang terjadi lagi, semua upaya diplomasi dan pencitraan akan hancur sehancur-hancurnya,” tegasnya.
Menurutnya, Trump menginisiasi Trump Peace bukan karena empati kemanusiaan, tetapi demi memperbaiki citra Amerika yang rusak oleh perang dan krisis politik internal.
7. Seruan Moral dan Perlawanan Naratif
Di akhir refleksinya, Muhammad Hussein menegaskan bahwa perjuangan kini bukan lagi sebatas senjata, melainkan narasi.
“Narasi kita harus terus mengalir. Kalau dulu kita turun ke jalan meminta genosida dihentikan, sekarang tugas kita adalah memastikan genosida tidak terulang lagi,” ujarnya.
Bagi Gaza, perang opini sama pentingnya dengan perlawanan di medan tempur. Ia menyerukan agar solidaritas kemanusiaan tidak padam meski perang fisik berhenti.
Yang perlu kita lakukan
Dari seluruh catatan itu, Muhammad Gaza menggariskan sejumlah langkah nyata yang dapat dilakukan masyarakat global:
- Menjaga narasi publik agar dunia tidak lupa pada pelanggaran gencatan senjata dan penderitaan Gaza.
- Menggelar aksi damai serta kampanye kemanusiaan untuk menekan komunitas internasional menegakkan keadilan.
- Menuntut pembukaan kembali Rafah agar bantuan kemanusiaan dapat masuk tanpa hambatan politik.
- Mengawal peran 59 negara pengawas kesepakatan agar mereka benar-benar aktif dan transparan.
- Menguatkan solidaritas lintas bangsa dan agama, karena perjuangan kemanusiaan di Gaza bukan isu agama semata.
- Melanjutkan perlawanan non-kekerasan melalui media, literasi, dan diplomasi publik.
Menurutnya, gencatan senjata di Gaza bukan hanya ujian bagi pihak berseteru, tetapi juga ujian bagi nurani dunia. Perdamaian sejati tidak akan lahir dari tekanan politik atau diplomasi semu, melainkan dari keberanian menegakkan kebenaran dan kemanusiaan.
“Mereka terluka, tapi kita pun terluka. Bedanya, kita berharap kepada Allah sesuatu yang tidak bisa mereka harapkan,” ujar Muhammad Hussein Gaza menutup pesannya — mengingatkan bahwa harapan adalah senjata terakhir rakyat Gaza.*




