Hidayatullah.com – Setelah lebih dari 33 tahun menjalin hubungan diplomatik dengan ‘Israel’, Kazakhstan menyatakan akan bergabung dengan Perjanjian Abraham (Abraham Accords). Hal itu diumumkan pada Kamis menjelang pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan para pemimpin negara Asia Tengah.
“Aksesi yang kami antisipasi ke dalam Perjanjian Abraham merupakan kelanjutan yang wajar dan logis dari arah kebijakan luar negeri Kazakhstan – yang didasarkan pada dialog, saling menghormati, dan stabilitas regional,” dalih pemerintah Kazakhstan dalam pernyataan, menurut kantor berita AFP pada Kamis (06/11/2025).
AS sudah mengumumkan kabar tersebut di hari yang sama, namun tidak mengungkapkan identitas negara tersebut.
“Perjanjian Abraham sangat penting. Saya akan terbang kembali ke Washington malam ini karena kami akan mengumumkan, malam ini, satu negara lagi yang akan bergabung dalam Perjanjian Abraham,” kata Utusan AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff.
Belum jelas apakah bergabungnya Kazakhstan, yang 70 persen warganya merupakan Muslim itu, akan langsung berdampak pada hubungan dengan ‘Israel’ yang telah ada. Kedua negara menjalin hubungan diplomatik pada tahun 1992, tak lama setelah Kazakhstan merdeka dari Uni Soviet.
Pada 2016, gembong zionis Benjamin Netanyahu sempat mengunjungi Kazakhstan dan menjalin beberapa perjanjian bilateral. Kazakhstan tampaknya berupaya mempererat hubungannya dengan AS seiring kunjungan Presiden Kassym-Jomart Tokayev ke Washington.
Abraham Accords digagas oleh Donald Trump saat masa jabatan pertamanya sebagai presiden AS. Perjanjian itu menormalisasi hubungan ‘Israel’ dengan sejumlah negara Arab – Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Maroko.
Hal itu menghancurkan konsensus negara-negara Arab yang disepakati dalam Inisiatif Perdamaian Arab 2002, yang menyarasatkan pengakuan ‘Israel’ dengan pembentukan negara Palestina.
Netanyahu, yang menolak konsensus tersebut, justru mendorong kesepakatan dengan negara-negara Arab yang mengabaikan Palestina.
Namun, perjanjian-perjanjian tersebut – yang ditengahi oleh negara-negara yang tidak pernah berperang – tidak banyak membantu menyelesaikan konflik antara ‘Israel’ dan Palestina, serta pendudukan selama puluhan tahun yang menurut kelompok-kelompok hak asasi manusia terkemuka merupakan sistem apartheid.
Namun, kesepakatan normalisasi tersebut berhasil bertahan dari perang dua tahun di Gaza, yang menyebabkan ‘Israel’ meratakan sebagian besar wilayah tersebut dan membunuh lebih dari 68.800 warga Palestina.*




