Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

Din Syamsuddin Bersama Tan Sri Lee Kim Yew Padukan Nilai Islam dan Tionghoa

Bambang S
Terakhir diupdate: 10 November 2025 20:14 8:14 pm
Bambang S
Dipublikasikan 10 November 2025 20:11
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com – Din Syamsuddin dan Tan Sri Lee Kim Yew, berbagi panggung dalam menyerukan agar dunia kembali kepada konsep jalan tengah (wasathiyah) sebagai solusi atas ekstremitas global yang kian menajam.

Daftar isi
  • Pertemanan Lintas Peradaban
  • Perdamaian di Atas Kepentingan Ekonomi
          • Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Seruan itu disampaikan dua tokoh ini dalam pembukaan World Peace Forum (WPF) ke-9 Jakarta, Ahad malam 09 November 2025 di Galeri Nasional. Kegiatan internasional ini digagas oleh Center for Dialogue and Cooperation Among Civilizations (CDCC) bersama Cheng Hoo Multicultural and Education Trust Malaysia, Global Forum of Wasathiyat Islam, dan Muhammadiyah.

WPF ke-9 mengusung tema “Considering Wasathiyat Islam and Tionghoa for Global Collaboration.” Tema yang menyatukan dua nilai luhur Asia: keseimbangan Islam dan harmoni Tionghoa sebagai fondasi moral baru bagi peradaban dunia.

Dalam pidato pembukaannya, Din Syamsuddin menilai dunia tengah berada dalam kondisi tidak teratur, penuh ketidakpastian, dan mengalami kerusakan global yang bersifat kumulatif. Menurutnya, akar masalah tersebut terletak pada ekstremitas sekularisme dan liberalisasi yang berlebihan sebuah penyimpangan dari nilai keseimbangan.

“Karena adanya sikap ekstrem, sistem dunia jatuh dalam ekstremitas yang berakar pada humanisme sekuler, yang membuka jalan bagi liberalisasi politik, ekonomi, dan budaya. Karena itu, kami percaya bahwa jalan tengah dari Islam maupun dari agama-agama lain adalah solusi,” ujar Din.

Baca Juga

Intelijen Inggris Peringatkan Akademisi Supaya Putuskan Hubungan dengan Institusi China
Pentagon Bilang Pasukan Amerika Serikat dan Sekutunya Resmi Mengakhiri Misi di Iraq
Pilot Flydubai Berkelahi Saat Terbang Menuju Tel Aviv, Pesawat Mendarat Darurat di Tabuk Arab Saudi
Iran Gantung Dua Demonstran Antipemerintah
Iseng Buat Gambar Buaya di Waduk Pakai AI Pria di Singapura Terancam Penjara

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu menegaskan, Wasathiyat Islam—konsep jalan tengah yang menekankan keseimbangan, keadilan, dan moderasi—perlu dijadikan paradigma baru dalam membangun tatanan dunia yang damai dan berkeadaban.

Pertemanan Lintas Peradaban

Dalam suasana hangat, Din memperkenalkan Tan Sri Lee Kim Yew, Chairman of Cheng Hoo Multicultural and Education Trust, sebagai “saudara tua” sekaligus rekan seperjuangan lintas iman dan peradaban.

“Ia adalah kakak saya, meski memang usianya lebih tua dari saya,” ujar Din sambil tersenyum. “Tan Sri Lee adalah sosok dengan banyak ide dan juga seorang pelaku. Saya banyak belajar darinya, meskipun ia seorang penganut Buddha dan Konfusianisme. Ia juga mempelajari Islam.” Persahabatan mereka, menurut Din, merupakan simbol nyata dari jembatan yang dibangun atas dasar saling pengertian dan penghormatan spiritual.

Perdamaian di Atas Kepentingan Ekonomi

Menanggapi itu, Tan Sri Lee Kim Yew mengungkapkan bahwa pembentukan Cheng Hoo Multicultural and Education Trust dua dekade lalu dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap gagasan Prof. Din dalam memajukan perdamaian dunia.

“Saya harus jujur, pembentukan Cheng Hoo Trust sekitar 20 tahun lalu memang dilakukan untuk mendukung gagasan Pak Din. Bagi saya, perdamaian jauh lebih penting dari kepentingan ekonomi. Semua negara dan pemimpin harus menempatkan isu perdamaian di atas segalanya,” tegasnya.

Ia menambahkan, makna filosofis dari kata Tionghoa sejatinya sejalan dengan semangat wasathiyah dalam Islam. “Kata ‘Tiong’ berarti jalan tengah, sedangkan ‘Hua’ berarti kemakmuran. Jadi, ‘Tionghoa’ bukan sekadar nama bangsa atau tempat, melainkan konsep budaya universal milik seluruh dunia,” ujar Lee.

Selanjutnya, Tan Sri Lee menekankan bahwa budaya adalah bahasa universal perdamaian, jembatan antara hati dan bangsa-bangsa.

“Budaya bukan hanya warisan, tetapi bahasa hidup dari perdamaian. Di bawah kepemimpinan luar biasa Pak Din, CDCC telah membangun jembatan di saat orang lain berperang, membuka dialog di saat orang lain menanam perpecahan, dan mengingatkan kita semua bahwa perdamaian tidak dimulai dari perjanjian, melainkan dari saling pengertian,” katanya.

Ia menutup pidatonya dengan apresiasi terhadap Indonesia yang dinilainya berhasil mempraktekkan keberagaman. “Indonesia mengingatkan kita bahwa Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar semboyan, tapi kompas moral dunia. Tanpa perdamaian, bangsa-bangsa tidak hanya kehilangan 12 hingga 15 persen PDB, tapi juga kehilangan kasih sayang, harapan, dan kemanusiaan itu sendiri,” tutur Lee.* Azim Arrasyid

Redaktur: Bambang S
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Center for Dialogue and Cooperation Among CivilizationsDin SyamsuddinIslam WasatiyyahMuhammadiyahtionghoaWorld Peace Forum
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Arab Saudi Tanam Ribuan Pohon di Perbatasan Utara
Tulisan selanjutnya DPR RI Dorong Diplomasi Perdamaian Dunia Lewat World Peace Forum ke-9 DPR RI Dorong Diplomasi Perdamaian Dunia Lewat World Peace Forum ke-9

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Lentera Hidup

Jika Bumi Menutup Semua Pintu, Ketuklah Pintu Langit!

Lentera Hidup
30 September 2026 19:34
PBB Identifikasi 214 Perusahaan Berkaitan dengan Pemukiman Ilegal Yahudi Israel
Pemerintahan Baru Kolombia Dukungan AS Memutus Hubungan Diplomatik dengan Iran
Mahathir Mohamad Dilarikan ke RS Sehari setelah Istri Meninggal Dunia
Pipa Minyak Sharara ke Zawiya Mati Libya Rugi $75 Juta

Terbaru

  • Intelijen Inggris Peringatkan Akademisi Supaya Putuskan Hubungan dengan Institusi China
  • Pentagon Bilang Pasukan Amerika Serikat dan Sekutunya Resmi Mengakhiri Misi di Iraq
  • Pilot Flydubai Berkelahi Saat Terbang Menuju Tel Aviv, Pesawat Mendarat Darurat di Tabuk Arab Saudi
  • Jika Bumi Menutup Semua Pintu, Ketuklah Pintu Langit!
  • Iran Gantung Dua Demonstran Antipemerintah
  • Iseng Buat Gambar Buaya di Waduk Pakai AI Pria di Singapura Terancam Penjara
  • Mahathir Mohamad Dilarikan ke RS Sehari setelah Istri Meninggal Dunia
  • Gagal Bunuh Petinggi Hamas di Qatar, ‘Israel’ Kembali Tebar Ancaman Pembunuhan
  • Keadilan dan Kemanusiaan di Balik Jeruji Besi
  • Ubah Tradisi, Rektor UNIDA Gontor Ajak Dosen Jadi Magnet Keilmuan Mahasiswa karena Kepakarannya

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Gagal Bunuh Petinggi Hamas di Qatar, ‘Israel’ Kembali Tebar Ancaman Pembunuhan

30 September 2026 12:55
Berita

Ubah Tradisi, Rektor UNIDA Gontor Ajak Dosen Jadi Magnet Keilmuan Mahasiswa karena Kepakarannya

29 September 2026 20:51
Berita

UNIDA Gontor Kukuhkan 4 Guru Besar Baru, Dorong Tradisi Keilmuan

29 September 2026 20:47
Berita

Jadi Beban dan Masalah, Malaysia Repatriasi Ribuan Pengungsi dan Migran Myanmar

29 September 2026 19:17
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?