Hidayatullah.com–Inggris menghadapi peningkatan “mengkhawatirkan” dalam ujaran kebencian terhadap komunitas Muslim sepanjang 2025, sejalan dengan peluncuran kampanye kesadaran Islamofobia tahun ini.
Data terbaru dan pernyataan berbagai pihak menyoroti bahwa kelompok sayap kanan semakin terang-terangan melakukan provokasi, terutama saat acara “Unite the Kingdom” yang menampilkan pidato kebencian langsung terhadap Muslim.
Menurut laporan resmi dari Home Office, kejahatan kebencian berbasis agama meningkat menjadi 7.164 kasus pada periode tahun berakhir Maret 2025, naik 3 persen dari tahun sebelumnya, lapor Gov.uk.
Lebih khusus, kejahatan kebencian yang ditujukan kepada Muslim naik 19 persen menjadi 3.199 kasus, menandai lonjakan tajam, tulis The Independent.
Muslim Council of Britain (MCB) menanggapi data ini dengan keras. “Spike (lonjakan) dalam kejahatan Islamofobik sungguh menyedihkan, dan ini mencerminkan kebencian yang terus tumbuh terhadap komunitas Muslim Inggris,” demikian pernyataan Sekjen MCB, Zara Mohammed.
Sementara itu, kelompok pemantau Tell MAMA — lembaga yang fokus memonitor kejahatan anti-Muslim — mencatat peningkatan dramatis kekerasan Islamofobik pada 2024, yakni naik 73 persen dibanding tahun sebelumnya.
Di lapangan, laporan dari British Muslim Trust (BMT) menggambarkan eskalasi nyata intimidasi terhadap masjid dan jamaah. Antara Juli dan Oktober 2025, tercatat 27 serangan terhadap 25 masjid, termasuk upaya pembakaran, grafiti kebencian, dan penggunaan simbol Kristen atau bendera Inggris di fasilitas ibadah Muslim.
“Muslim merasa simbol nasional dan agama disalahgunakan sebagai alat intimidasi,” ujar Akeela Ahmed, CEO BMT, yang menekankan bahwa tindakan ini bukan insiden acak melainkan “sinyal bahwa keberadaan mereka di Inggris diragukan.”
Laporan BMT juga mengaitkan gelombang serangan dengan kampanye nasionalis seperti “Raise the Colours” dan aksi “Unite the Kingdom” oleh kelompok sayap kanan.
Anadolu Agency melaporkan, dalam sebuah aksi unjuk rasa “Unite the Kingdom”, sejumlah peserta membawa simbol nasional yang kemudian dikaitkan dengan ujaran kebencian terhadap minoritas, termasuk Muslim.
“Terlalu banyak orang kini hidup dalam ketakutan karena siapa mereka, apa yang mereka yakini, atau dari mana asal mereka,” kata Menteri Dalam Negeri, Shabana Mahmood, seperti dikutip oleh The Independent.
Imam Qari Asim, co-chair British Muslim Network, menyerukan persatuan melawan kebencian. “Baik itu Islamofobia, antisemitisme atau bentuk kebencian lain, kita harus menghadapi semuanya bersama — dengan keberanian, bukan keheningan.”
Para pemimpin agama juga memperingatkan bahwa beberapa kelompok sayap kanan salah menggunakan simbol Kristen untuk membenarkan ujaran kebencian. Mereka menegaskan bahwa ajaran Kristen justru mempromosikan keadilan dan belas kasih — bukan kebencian.*




