Hidayatullah.com – Para aktivis yang beberapa bulan lalu berangkat ke Tunisia untuk menembus blokade Gaza menggelar seminar internasional bertajuk Global Palestine Solidarity Series, Selasa (2/12) siang, di Aula AQL Islamic Center Jakarta. Mereka menghadirkan Profesor Sami Al-Arian, akademisi lulusan Amerika Serikat yang lahir dan tumbuh sebagai pengungsi Palestina. Lebih dari seratus peserta hadir, mulai dari pegiat kemanusiaan, kelompok advokasi pro-Palestina, hingga masyarakat umum.
Dalam paparannya, Prof. Sami menegaskan bahwa setiap tindakan untuk membantu Palestina sejatinya adalah bentuk pertolongan kepada diri dan negeri sendiri. Ia menyoroti agresi Israel yang tidak hanya menargetkan kombatan, tetapi juga warga sipil, perempuan, anak-anak, hingga fasilitas vital seperti rumah sakit dan sekolah.
“Lihat bagaimana Israel menyerang negara lain seperti Lebanon, Suriah, Yaman, Iran, bahkan Qatar. Ini menunjukkan bahwa Israel adalah ancaman bagi semua orang, dan Palestina hanyalah samsak pertama,” ujarnya. Ia pun menekankan, “Seharusnya kita tidak menyebutnya ‘masalah Palestina’, karena pusat masalahnya adalah Israel.”
Sami kemudian memaparkan sejarah konflik secara lugas. Menurutnya, proyek Zionisme sejak awal tidak akan berhenti sampai mereka menguasai seluruh tanah Palestina. Apa yang terjadi di Gaza saat ini hanyalah bagian dari rangkaian panjang ekspansi tersebut.
“Jika Gaza berhasil mereka kuasai, Tepi Barat akan menjadi target berikutnya,” tegasnya. Ia menjelaskan bahwa masyarakat Palestina selama bertahun-tahun hanya dihadapkan pada tiga pilihan: mengakui Israel sebagai negara Yahudi, hidup dalam sistem apartheid dan blokade, atau menghadapi kematian.
Solusi dua negara, lanjut Sami, adalah ilusi. Ia menilai Israel sejak awal tidak pernah bermaksud berbagi kedaulatan. Bahkan gencatan senjata pun tidak mampu mereka patuhi. Meskipun kritiknya keras, ia berkali-kali menegaskan bahwa konflik ini bukan tentang permusuhan dengan umat Yahudi. “Ini tentang umat manusia melawan zionisme,” katanya.

Pada seminar yang diselenggarakan oleh Global Peace Convoy Indonesia bekerja sama dengan SMART 171 dan AQL Islamic Center tersebut, Sami menyebut bahwa dunia kini mulai menyadari skala kejahatan yang dilakukan Zionis. Namun umat Islam, menurutnya, masih berada dalam posisi lemah karena belum sepenuhnya berdaulat.
“Lemahnya 57 negara mayoritas muslim muncul karena mereka belum benar-benar independen. Langkah pertama sebelum membela Palestina adalah melepaskan diri dari cengkeraman zionisme dan menolak semua bentuk normalisasi,” ujarnya.
Indonesia, kata Sami, memegang peran penting dalam isu Palestina. Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia dan salah satu benteng terakhir yang menolak normalisasi dengan Israel, Indonesia memiliki tanggung jawab moral untuk mempertahankan sikap anti-penjajahan. Ia menekankan pentingnya memperkuat kemandirian nasional agar posisi Indonesia semakin kokoh dalam membela Palestina.
Pada sesi tanya jawab, seorang peserta muda dari Jakarta menanyakan peran generasi Indonesia. Sami menjawab tegas, “Bila kita tidak terlibat, kita akan membayar akibatnya. Lihat negara-negara sekitar Palestina hari ini.” Ia menyebutkan bahwa pengaruh Zionisme membuat lembaga-lembaga internasional seperti PBB dan ICJ tidak berdaya menghadapi genosida yang berlangsung. “Warga dunia sudah turun ke jalan, namun belum ada yang mampu menghentikan pembantaian. Maka jangan diam,” tuturnya.
Acara ini juga menjadi bagian dari peringatan International Day of Solidarity with the Palestinian People. Dalam rangkaian kunjungannya di Indonesia, Prof. Sami telah berdialog dengan Majelis Ulama Indonesia, berbicara di Universitas Padjadjaran, dan dijadwalkan tampil di Universitas Indonesia pada esok hari.* Fuad Azzam




