Hidayatullah.com – Upaya menembus wilayah yang terisolir akibat banjir besar di Aceh dilakukan berbagai cara. Salah satunya dilakukan tim Lembaga Amil Zakat (LAZ) Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Perwakilan Aceh dan SAR Hidayatullah pada Kamis (4/12/2025).
Dengan akses utama terputus total dan jembatan penghubung antara Bener Meriah dan Takengon hanyut dibawa arus, tim terpaksa menyalurkan bantuan menggunakan jembatan gantung dan katrol darurat yang dipasang warga. Dalam kondisi gelap menjelang malam dan hujan yang belum sepenuhnya reda, relawan harus menarik satu per satu paket bantuan melalui katrol untuk menjangkau warga yang terperangkap di seberang.
Penyaluran bantuan dimulai sebelumnya di Kabupaten Pidie Jaya, tepatnya di kawasan Meureudu, pada pukul 16.00 WIB. Wilayah tersebut mengalami banjir cukup parah sehingga warga kesulitan memperoleh bahan makanan sejak pagi. Tim BMH mengangkut paket logistik berisi beras, air mineral, minyak goreng, mie instan, dan kebutuhan pokok lainnya. Kehadiran tim mendapat sambutan hangat karena banyak warga terputus aksesnya dari pusat kota.
“Alhamdulillah, kami sangat membutuhkan bantuan ini. Warung banyak tutup, jalan tergenang, dan kami tidak bisa keluar kampung,” ujar seorang warga Meureudu.
Usai penyaluran di Pidie Jaya, tim bergerak menuju Bireuen dan berencana melanjutkan ke Bener Meriah serta Aceh Tengah untuk menyerahkan bantuan lanjutan.
Kendala besar muncul ketika tim tiba di kawasan Juli, Bireuen, sekitar pukul 18.00 WIB. Jembatan penghubung antar kabupaten ditemukan ambruk dan tidak dapat dilalui kendaraan maupun pejalan kaki. Kondisi itu menyebabkan beberapa gampong di Bener Meriah dan Aceh Tengah terisolir sejak siang hari.
Warga bersama tim relawan kemudian memutuskan memanfaatkan jembatan gantung kecil di sisi lain, yang sejatinya bukan untuk menahan beban berat.
Untuk memastikan bantuan tetap sampai, warga memasang katrol dari tali baja dan roda guling agar logistik bisa ditarik secara perlahan dari seberang. Proses ini dilakukan bergantian untuk menjaga keseimbangan jembatan.
“Kami di lapangan harus benar-benar berhati-hati. Tapi kebutuhan warga tidak bisa menunggu. Dengan gotong royong bersama masyarakat, bantuan berhasil diseberangkan melalui katrol satu per satu,” kata Kepala BMH Perwakilan Aceh, Abdullah Anwar.
Proses penyaluran berlangsung hampir dua jam hingga seluruh paket utama berhasil dipindahkan ke wilayah yang terputus. Warga yang menerima bantuan mengaku terharu karena tidak menduga bantuan dapat menjangkau mereka dalam kondisi akses yang sangat terbatas.
“Bantuan ini sangat berarti. Kami sempat berpikir tidak ada yang bisa masuk karena jembatan sudah hanyut. Syukur alhamdulillah ada relawan yang berani menembus kondisi seperti ini,” ujar Halimah, warga Bener Meriah.
BMH Aceh menyampaikan terima kasih kepada para donatur yang berperan dalam meringankan beban warga terdampak banjir. “Semoga seluruh bantuan yang disalurkan menjadi amal jariyah bagi para donatur,” ujar Abdullah Anwar.
Hingga malam, sejumlah titik di Aceh Tengah dan Bener Meriah masih terisolir menunggu perbaikan akses. Tim berkomitmen melanjutkan distribusi bantuan jika keadaan lapangan memungkinkan.*




