Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

Konsep Pendidikan Holistik Barat Dipertanyakan, Model Pondok Pesantren Paling Utuh

Ahmad
Terakhir diupdate: 7 Desember 2025 06:14 6:14 am
Ahmad
Dipublikasikan 7 Desember 2025 06:04
Bagikan
Diskusi Temu Ilmiah Akhir Tahun INSISTS yang digelar di markas lembaga tersebut, Kalibata, Jakarta
Bagikan

Hidayatullah.com—Diskusi Temu Ilmiah Akhir Tahun INSISTS yang digelar di markas lembaga tersebut, Kalibata, Jakarta, Sabtu (6/12/2025), berlangsung meriah. Lebih dari 150 peserta hadir untuk mengikuti pemaparan para pakar pendidikan, salah satunya Direktur INSISTS, Prof. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi.

Dalam presentasi bertajuk “Pendidikan Holistik Pondok Pesantren”, Rektor UNIDA Gontor menegaskan bahwa konsep pendidikan holistik di pesantren jauh lebih utuh dibanding model serupa di Barat maupun Jepang.

Hamid menjelaskan bahwa di Jepang, pendidikan holistik dipahami sebagai pelibatan fisik siswa dalam aktivitas sekolah—mulai dari menyapu kelas hingga bercocok tanam.

Sedang di Barat, sebagaimana konsep Miller dan Forbes, pendekatan holistik menggabungkan aspek intelektual, emosional, fisik, dan spiritual. Namun, “spiritual” di Barat kerap terjebak pada praktik kontemplatif yang tidak terkait agama dan hukum moral yang jelas.

Di Australia, guru prioritaskan pendidikan mental: sabar antri, tertib di ruang publik – matematika bisa selesai 3 bulan, tapi mental butuh bertahun-tahun.

Baca Juga

Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis

Bagus dalam disiplin dan empati. Pendidikan spiritualitas dipisahkan dari syariat: tidak ada ibadah yang mengikat, hanya perasaan dan nilai umum. Tujuan hidup yang dipatok adalah “sukses di dunia” dan “menjadi warga negara yang baik”, bukan menjadi hamba Allah dan khalifah di bumi.

“Spiritualitas mereka berhenti pada relaksasi, bukan pada amal. Itulah cacat epistemologisnya,” ujar Hamid. “Ini not really holistic – teori luar biasa, praktiknya tidak utuh,” ujarnya.

Living Model

Berbeda dengan di pondok pesantren, makna kurikulum adalah segala aktivitas yang dilihat, didengar, dan dirasakan santri selama 24 jam. Ini sejalan dengan konsep bahwa pendidikan dalam Islam bukan sekadar transfer of knowledge, melainkan ta’dib (penanaman adab).

Hal ini merujuk pada pandangan Syed Muhammad Naquib al-Attas dan Ibnu Qayyim, bawah adab adalah inti agama. Maka, sains, matematika, dan keterampilan umum di pesantren tidak berdiri sendiri, melainkan harus diikat oleh worldview Islam.

“Di sinilah letak kuncinya: pikiran diisi dengan ilmu (syariah dan sains), hati diisi dengan iman dan akidah serta fisik /motorik digerakkan oleh amal dan akhlak.”

Ekosistem pendidikan di pesantren adalah ekosistem holistik: ada kiai (figur tauladan), masjid, asrama, santri, pengajaran agama – yang berjalan 24 jam. Kurikulum bukan daftar pelajaran, tapi seluruh kehidupan: kelas, masjid, asrama, organisasi, dan kerja kolektif.

​Santri belajar syariah, akidah, akhlaq dan adab sekalitus, tidak ada dikotomi agama-umum; semua kembali ke tauhid.

Selanjutnya, Ia mengutip pandangan seorang profesor asing yang mengamati sistem pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor-Ponorogo, yang dinilai justru menyimpulkan bahwa pesantren Indonesia lebih holistik daripada Jepang.  

Alasannya, nilai spiritual di pesantren menyatu dengan adab dan tindakan nyata sehari-hari, bukan sekadar meditasi atau refleksi umum.

“Di pesantren, ruhani bukan teori. Ia hadir dalam wudhu, salam, sopan santun, dan akhlak harian,” katanya.

Dengan menjadikan Pondok Modern –utamanya PP Darussalam Gontor– sebagai model hidup (living model), Hamid menggambarkan kurikulum pesantren sebagai rangkaian aktivitas yang dialami santri selama 24 jam.

Konsep ini sejalan dengan gagasan ta’dib—penanaman adab—sebagaimana dirumuskan Syed Muhammad Naquib al-Attas dan para ulama klasik. Di pesantren, ilmu syariah, akidah, dan adab menjadi poros yang mengikat seluruh disiplin, termasuk sains dan keterampilan modern.

Contoh integrasi itu tampak dalam praktik harian santri: mempelajari fikih thaharah di kelas lalu mempraktikkannya dalam wudhu dan shalat berjamaah; mempelajari akhlak lalu menerapkannya dalam penghormatan kepada guru, menjaga lisan, dan disiplin berasrama.

Sehari penuh, santri mengikuti mata pelajaran tafsir, matematika, bahasa Inggris, pramuka, olahraga, hingga halaqah tahfiz pada malam hari.

“Pagi hari belajar tafsir ayat-ayat ahkam, siang hari mengikuti pelajaran matematika dan fisika, sore hari mengikuti kegiatan pramuka atau olahraga, malam hari kembali ke halaqah tahfiz dan kajian kitab turats. Inilah contoh langsung bagaimana satu hari santri memadukan ilmu wahyu, ilmu rasional, adab, dan keterampilan hidup,” ujarnya.

Dimensi holistik juga terlihat dalam pekerjaan fisik. Santri menjalankan piket kebersihan, menyapu, mengepel, dan mengelola halaman, tetapi dengan niat ibadah dan adab terhadap sesama.

Di unit dapur, mereka melayani ribuan santri, menyusun belanja, mengatur stok, dan memastikan makanan tepat waktu. “Di sini bukan hanya manajemen yang dipelajari, tapi amanah dan keikhlasan,” jelas Hamid.

Di pesantran anak bahkan sejak awal diajarkan pakaian pada tempatnya. Pakaian olahraga berbeda dengan pakaian ibadah (sholat), celana training (celana olahraga) tidak mungkin biasa dipakai untuk olahraga sebagai pakaian sholat di masjid.

“Dari sisi fikih, mungkin sah saja jika menutup aurat, tetapi pesantren tetap membiasakan santri memakai pakaian yang lebih pantas dan khusus untuk sholat, seperti sarung dan baju yang rapi.”

Poinnya: pesantren mendidik bahwa setiap tempat dan ibadah memiliki pakaian yang sesuai, sehingga olahraga dan sholat tidak disamakan dari sisi adab berpakaian.

Dalam organisasi santri, mereka mengelola acara besar, menyambut tamu, mengatur keamanan, konsumsi, dan protokoler. Kegiatan ini menumbuhkan kepemimpinan, komunikasi, dan tanggung jawab—semua dalam bingkai akhlaq dan aturan syariah.

Sementara itu, minat bakat seperti olahraga, jurnalistik, atau teknologi diarahkan sebagai sarana dakwah dan pengabdian.

Hamid menilai, pendidikan holistik sejati harus menyentuh seluruh dimensi manusia: akal, hati, jasad, keterampilan sosial, dan ruh.

“Pendidikan yang tidak menghubungkan manusia dengan Allah dan tugas kekhalifahannya hanyalah setengah holistik,” ujarnya menutup sesi.

Nah, dengan pendekatan terpadu, pesantren dinilai menawarkan model pendidikan yang lebih utuh dan berorientasi pada tujuan hidup yang transenden, jauh dibanding apa yang digagas Barat.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:adabHamid Fahmy ZarkasyiHeadlinekonsep pendidikan holistikpendidikan Baratpendidikan holistikpendidikan JepangpesantrenPondok Pesantrenta'dibUNIDA Gontor
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Banyak Penipuan Taiwan Blokir Medsos China RedNote
Tulisan selanjutnya Biarawati di Zagreb Diduga Lukai Diri Sendiri dan Rekayasa Serangan Berbau Islamofobia

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

Berita
3 Juni 2026 13:30
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’

4 Juni 2026 08:06
Berita

Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

3 Juni 2026 16:00
Berita

Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki

3 Juni 2026 13:00
Berita

Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

3 Juni 2026 12:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?