Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

Pendidikan Holistik Harus Mengembalikan Manusia pada Fitrah Universal melalui Adab

Ahmad
Terakhir diupdate: 8 Desember 2025 08:31 8:31 am
Ahmad
Dipublikasikan 8 Desember 2025 09:00
Bagikan
(Kanan) Dr. Henri Shalahuddin, MIRKH, Direktur Eksekutif Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) Jakarta
Bagikan

Hidayatullah.com—Pendidikan holistik yang benar adalah pendidikan yang mengembalikan manusia kepada fitrahnya melalui adab. Pernyataan tersebut disampaikan Dr. Henri Shalahuddin, MIRKH, Direktur Eksekutif Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) Jakarta, sebuah lembaga riset pemikiran dan peradaban Islam dalam “Temu Ilmiah Akhir Tahun INSISTS” yang digelar di markas lembaga tersebut, Kalibata, Jakarta, Sabtu (6/12/2025).

Dalam paparannya, ia menyoroti kegagalan model pendidikan modern—baik di Indonesia maupun di berbagai negara—yang hanya menekankan aspek teknis, tetapi kehilangan ruh pembentuk manusia.

“Pendidikan holistik itu bukan sekadar mengumpulkan pengetahuan. Pendidikan itu harus membentuk manusia sesuai fitrah universalnya—melalui adab, melalui pengenalan pada Allah, bukan sekadar menguasai fakta,” ujar pria yang juga Dosen di Universitas Darussalam Gontor (Unida Gontor) ini.

Pendidikan Meningkat, Moral Merosot

Terkait paparannya, Henri mengungkap paradoks pendidikan modern: semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin rapuh bangunan sosialnya. Hal ini merujuk lonjakan mahasiswa dari 5,8 juta (2014) ke 9,9 juta (2025) tapi pernikahan turun, perceraian naik 13,2%, dan kejahatan susila justru naik 64%.

Baca Juga

Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

Ia juga menunjukkan fenomena antrean panjang di pengadilan agama yang didominasi perempuan mengajukan cerai. Di beberapa daerah seperti Cibinong, Gresik, Bandung, dan Pemalang, permohonan cerai mencapai ribuan kasus.

Di kalangan pelajar, situasinya lebih memprihatinkan. Henri menyebut 82.000 pelajar NTT hamil di luar nikah, ratusan siswi SMP di Ponorogo hamil, dan dispensasi nikah remaja meningkat signifikan.

“Angka pendidikan meningkat, tapi perceraian meningkat, kejahatan susila meningkat, pernikahan menurun. Ada yang salah besar,” katanya.

Belum lagi fenomena semakin banyak orang terpelajar, tapi faktanya semakin banyak mereka takut menikah. “Menunjukkan pendidikan hari ini alih-alih mendewasakan, justru memperpanjang masa kanak-kanak,” ujarnya. “Ini realita pendidikan kita. Ilmu bertambah, tapi adab hilang,” tambahnya.

Ia menyinggung kebijakan seks edukasi di negara Barat yang dianggap menormalisasi perilaku menyimpang tanpa penguatan adab. “Di Australia, anak SMP kalau pesta kelulusan dibekali kontrasepsi. Ini bukan pendidikan, ini legalisasi kerusakan,” tegasnya.

Dalam kacamata Islamic Worldview, ini adalah gejala akut dari kerusakan ilmu (corruption of knowledge). Pendidikan sekular hari ini telah membuang nilai sakral dari tubuh manusia.

Maksiat “diwajarkan” dengan dalih HAM, Friends with Benefits (FWB), dan “otonomi tubuh”. Solusi yang ditawarkan pun bersifat teknis-ateistik: Sexual Consent (persetujuan seksual) dan pembagian alat kontrasepsi, seolah-olah zina itu boleh asalkan “suka sama suka” dan “aman”.

Akibatnya, lahirlah generasi yang cerdas otaknya namun buta hatinya. Ia menyebutnya sebagai budaya kemunafikan yang berujung pada kriminalitas.

Pendidikan yang hanya mengejar keterampilan teknis (skill) tanpa penanaman adab hanya akan melahirkan koruptor yang terampil membocorkan uang negara lewat “Pusdiklat”. Mereka cerdas secara angka, tapi bodoh secara makna.

Akar masalahnya ada pada penyempitan makna ilmu. Hari ini, ilmu direduksi hanya menjadi “informasi” dan data empiris. Padahal, merujuk pada Imam Al-Ghazali dalam Al-Iqtishad fil I’tiqad, ilmu seharusnya mengantarkan pada pengenalan akan zat Yang Maha Tahu.

Ia menegaskan perlunya revolusi cara pandang. Ketika melihat alam semesta, kita tidak boleh hanya berhenti pada aspek fisik-empiris (geologi, astronomi), tetapi harus menembusnya hingga melihatnya sebagai ciptaan Allah (khalqullah). Ketika membaca hadits, itu bukan sekadar teks sejarah, melainkan ta’rifat (pengenalan) dari Allah lewat lisan Nabi.

Pesantren sebagai Model Pendidikan Holistik

Henri menekankan bahwa model pendidikan paling holistik yang ada saat ini adalah pesantren. “Di pesantren, ilmu, adab, ruhani, dan akal dibentuk bersamaan. Ada Kiai sebagai teladan, masjid sebagai pusat ruhani, dan pengajaran agama yang menyatu dengan kehidupan,” jelasnya.

Ia menjelaskan, tujuan pendidikan Islam adalah melahirkan kemampuan al-furqan: kemampuan membedakan antara kebenaran (al-haqq) dan kepalsuan (al-batil). Budaya ilmu dalam Islam adalah budaya perlawanan terhadap sufastha’iyyah (kaum Sofis), yaitu orang-orang yang pandai bersilat lidah membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar.

Dalam wacana modern, “holistik” sering diartikan sekadar “menyeluruh” (whole). Namun, Prof. Al-Attas membawa pemaknaan ini ke level ontologis yang lebih tinggi. Holistik dalam Islam merujuk pada konsep kamil (sempurna) atau kulli (universal). Tujuannya adalah mencetak al-insan al-kamil (manusia sempurna) dengan Rasulullah ﷺ sebagai prototipe utamanya.

Mengutip Imam Al-Ghazali dalam al-Iqtisad, ia menjelaskan bahwa ilmu harus membawa manusia mengenal Allah. “Ketika melihat alam, jangan hanya melihat fisiknya. Lihat bahwa ia ciptaan Allah,” ujarnya.

Ia juga membantah anggapan bahwa sufi hanya identik dengan kehidupan zuhud. Ia menyebut Syamsuddin—guru Sultan Muhammad Al-Fatih—sebagai penemu konsep mikroba pertama dalam teks Maddat al-Hayat. “Sufi bukan anti-ilmu. Justru mereka memadukan adab dan sains dengan sangat tinggi,” jelasnya.

Henri memberi contoh kegagalan pendidikan universitas modern berdasarkan pengalamannya mengajar. Dari puluhan mahasiswa yang pernah dia tanya, banyak yang tidak tahu arti dasar “Islam”, atau perbedaan fardhu ‘ain dan fardhu kifayah.

“Mahasiswa tahu rumus fisika, tapi tidak tahu arti Islam. Ini tragedi,” katanya.

Ia menyoroti bahwa banyak guru dibekali aspek teknis tetapi tidak diajarkan bagaimana menangani siswa yang berbohong atau bermasalah akhlaknya.

Belajar dari Turki Utsmani

Untuk membangun kembali peradaban, Henri mengajak menengok model pendidikan Turki Utsmani, khususnya pada sosok Akşemseddin (guru spiritual Muhammad Al-Fatih). Akşemseddin bukan hanya seorang sufi dan mursyid, tetapi juga seorang dokter dan ilmuwan yang menguasai sains.

Ini membuktikan bahwa dalam Islam, tidak ada dikotomi antara “ilmu agama” dan “ilmu dunia”. Lembaga pendidikan seperti Sahn-i Seman kala itu melahirkan peradaban besar karena dibangun di atas disiplin adab yang ketat.

Ia juga menjelaskan sistem pendidikan kulliye (kompleks pendidikan Islam terintegrasi) sebagai model holistik yang menggabungkan masjid, medrese, rumah sakit (darussifa), dan fasilitas sosial yang melingkupinya.

Secara etimologis, kulliye berasal dari kata kulli (universal) inilah lahir istilah kulliyyah (fakultas/kampus), yang kemudian diserap Barat menjadi college. Sejatinya, universitas (kulliyyah) adalah tempat mencetak manusia yang berpikir universal, bukan manusia yang terkotak-kotak dalam spesialisasi sempit (partikular) hingga kehilangan perspektif besarnya.

Ia membandingkan pesantren yang ada saat ini dengan model kulliye di masa Turki Utsmani, ketika masjid, sekolah hadis, rumah sakit, dan pusat ilmu berada dalam satu kompleks.

“Itulah pendidikan yang membangun peradaban,” katanya.

Anak Takut Sekolah

Henri menutup pidatonya dengan kritik mendalam terhadap realita pendidikan Indonesia, di mana banyak anak justru takut berangkat ke sekolah. Ia menyaksikan fenomena anak-anak yang malas kembali ke sekolah atau pondok pesantren meski masa liburan sudah habis.

“Ini pasti ada yang terbalik. Sebab sekolah seharusnya menjadi tempat paling aman untuk anak. Kalau anak takut sekolah, takut bertemu gurunya, berarti sistem pendidikannya tidak membangun jiwa, tidak membangun adab, dan tidak mengembalikan manusia pada fitrahnya,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pendidikan holistik adalah pendidikan yang menyatukan ilmu, adab, ruhani, dan pengenalan terhadap Tuhan. “Kalau pendidikan tidak melahirkan manusia beradab, maka pendidikan itu gagal membangun peradaban,” tegasnya.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:adab. pendidikan modernfitrahINSISTSpendidikan holistik
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Masyarakat Aceh Tamiang 'Ini Seperti Tsunami Kedua' Masyarakat Aceh Tamiang: ‘Ini Seperti Tsunami Kedua’
Tulisan selanjutnya ‘Israel’ Mengaku Tidak Akan Mundur dari Wilayah Suriah yang Dicaploknya

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air

Berita
18 Juli 2026 10:48
Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
ASN Jabar Bisa Dipecat Jika Terbukti Jadi Bagian Kelompok LGBT, Wagub Erwan Tegaskan Sanksi Terberat
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura
Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf

18 Juli 2026 09:30
Berita

Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya

17 Juli 2026 15:23
Berita

Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah

15 Juli 2026 21:36
Berita

Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

15 Juli 2026 21:25
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?