Hidayatullah.com– Pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) mengumumkan sudah menguasai ladang minyak terbesar Sudan, Heglig, di tengah peperangan memperebutkan wilayah strategis dan kaya minyak Kordofan.
Sejak RSF berhasil mengusir tentara pemerintah dari tempat persembunyian terakhirnya di Darfur pada akhir Oktober, fokus pertempuran beralih ke wilayah tetangga Kordofan, di mana serangan terhadap sebuah sekolah taman kanak-kanak dan rumah sakit pekan lalu menewaskan sejumlah anak, menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
“Pembebasan kawasan minyak Heglig merupakan titik krusial dalam pembebasan seluruh tanah air, mengingat pentingnya wilayah tersebut secara ekonomi,” kata RSF dalam sebuah pernyataan hari Senin (8/12/2025), seperti dilansir AFP.
Sebuah sumber RSF mengatakan kepada AFP bahwa sebuah pangkalan yang menjadi markas divisi tentara pemerintah setempat juga sudah dikuasai oleh kelompoknya.
Seorang insinyur di ladang minyak Heglig, terletak di selatan Kordofan, mengkonfirmasi pengambilalihan sumber minyak itu oleh pasukan RSF, mengatakan kepada AFP bahwa tim sudah menghentikan produksi dan menutup fasilitas di sana, serta para pekerjanya dievakuasi ke Sudan Selatan – tetangga yang melepaskan diri dari Sudan pada 2011.
Tentara pemerintah menarik diri dari daerah itu “guna melindungi dan mencegah kerusakan pada fasilitas minyak” di sana, kata sebuah sumber militer kepada AFP.
Sumber-sumber itu memberikan keterangan kepada AFP dengan syarat identitasnya tidak diungkap karena mereka tidak berwenang untuk berbicara kepada media.
Sejak April 2023, RSF mengobarkan perang melawan tentara pemerintah. Konflik bersenjata di antara mereka telah merenggut nyawa puluhan ribu orang dan menjadikan 12 juta orang mengungsi, serta kerusakan parah infrastruktur di mana-mana.
Pekan lalu, serangan drone di negara bagian Kordofan Selatan menarget sebuah sekolah TK dan rumah sakit, menewaskan 114 orang termasuk 63 anak-anak, kata WHO hati Senin, mengutip sistem pemantauannya Attacks on Health Care.
Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengecam serangan-serangan “tidak berperasaan” itu, yang menurut pemerintah setempat dilakukan oleh RSF.
“Yang meresahkan, paramedis dan petugas yang berusaha menolong diserang saat mereka berusaha memindahkan korban luka dari taman kanak-kanak ke rumah sakit,” tulis Ghebreyesus di platform X.
Heglig adalah ladang minyak terbesar di Sudan, dan merupakan fasilitas pengolahan utama untuk ekspor minyak Sudan Selatan, yang mencakup hampir seluruh pendapatan pemerintah Juba.
Jaringan pipa yang menyalurkan minyak Sudan Selatan dari perbatasan selatan ke Port Sudan di kawasan Laut Merah juga merupakan sumber pendapatan utama bagi negara Sudan yang miskin, yang perekonomiannya hancur akibat perang.
Ketika Juba memisahkan diri pada tahun 2011, hampir seluruh cadangan minyak Sudan ikut diambil alih. Heglig diperebutkan oleh kedua negara dan menjadi lokasi bentrokan singkat pada tahun 2012.
Selain Heglig, RSF juga menguasai ladang minyak utama di bagian barat Block 6 yang dioperasikan sejak tahun 1990-an oleh China sebelum dipaksa tutup pada awal perang.
Bulan lalu, Chinese National Petroleum Corporation memberitahukan pemerintah Sudan bahwa pihaknya bermaksud mengakhiri investasi di sana, menurut salinan surat yang dilihat oleh AFP.
Sejak kehilangan kendali terakhir mereka di Darfur, tentara pemerintah berada dalam posisi bertahan, berusaha menghentikan pergerakan pasukan paramiliter yang bergerak menuju Kordofan, sambil berusaha kembali ke ibu kota Khartoum.
Sudan saat ini secara efektif terpecah menjadi dua, dengan tentara pemerintah menguasai wilayah di bagian utara, timur dan tengah, dan RSF mengendalikan wilayah Sudan bagian barat serta sebagian besar wilayah selatan, dengan bantuan kelompok-kelompok bersenjata sekutunya.*




