Hidayatullah.com— Duka menyelimuti masyarakat Yaman setelah seorang ulama Al-Qur’an terkemuka, Syeikh Ali Al-San’ani, wafat saat tengah mengajarkan Al-Qur’an di sebuah masjid di wilayah Maarib, Yaman.
Kepergian beliau terjadi dalam suasana yang penuh khidmat dan dinilai mencerminkan pengabdian seumur hidupnya pada ilmu dan dakwah.
Sejumlah media lokal Yaman melaporkan bahwa Syeikh Ali Al-San’ani menghembuskan napas terakhirnya di dalam masjid ketika sedang menyampaikan pelajaran Al-Qur’an kepada para santri dan jamaah.
Dr. Al-Sanaani meninggal dunia saat mendengarkan hafalan Al-Quran para santrinya di Masjid Noura, daerah Rumaila, Yaman.
Menurut sumber dekat, kala itu ia sedang duduk dengan Al-Quran di tangannya, mendengarkan pembacaan muridnya dengan penuh khidmat.
Menurut laporan SABA News, media resmi setempat, beliau tiba-tiba terjatuh saat sesi pengajaran berlangsung dan dinyatakan wafat tidak lama kemudian.
“Syeikh Ali Al-San’ani wafat dalam keadaan sedang mengajarkan Kitabullah kepada para muridnya di salah satu masjid di Maarib,” tulis SABA News.
Media tersebut menyebutkan bahwa peristiwa itu disaksikan langsung oleh para penuntut ilmu yang selama ini rutin mengikuti majelis beliau.
Kabar wafatnya Syeikh Ali Al-San’ani dengan cepat menyebar luas dan memicu gelombang duka dari berbagai kalangan, khususnya komunitas ulama dan penghafal Al-Qur’an di Yaman.
Banyak pihak menilai wafatnya beliau sebagai husnul khatimah, karena meninggal dunia dalam aktivitas mulia yang selama ini menjadi jalan hidupnya.
Media lokal lainnya, Al-Masdar Online, menggambarkan Syeikh Ali sebagai sosok yang dikenal sederhana, konsisten mengajar Al-Qur’an, dan menjauh dari hiruk-pikuk politik serta konflik yang melanda Yaman.
Almarhum meraih gelar doktor dengan predikat kelas satu, menggabungkan keunggulan akademik dan pengabdian lapangan dalam pendidikan Quran.
Sebelumnya, Ia menjabat direktur Al-Quran di Masjid Noura dan menjadi pilar utama pendidikan generasi muda di Marib.
Syeikh Al-Sanaani dikenal atas keramahan, kerendahan hati, dan ketulusan dakwahnya, yang mendapat apresiasi luas masyarakat.
Selama bertahun-tahun, ia mengabdikan waktunya untuk membina generasi muda melalui halaqah Al-Qur’an di masjid-masjid dan lembaga pendidikan setempat.
“Beliau dikenal tidak pernah meninggalkan majelis Al-Qur’an, bahkan di tengah kondisi keamanan dan ekonomi yang sulit,” tulis Al-Masdar Online.
Para muridnya menyebut Syeikh Ali sebagai guru yang sabar dan tekun, serta menanamkan kecintaan mendalam terhadap Al-Qur’an, bukan sekadar hafalan, tetapi juga adab dan pengamalan.
Kematiannya memicu kesedihan di Marib, dengan aktivis, murid, dan ulama meratapi kepergiannya sebagai kerugian besar bagi dunia pendidikan Al-Quran.
Prosesi pemakaman Syeikh Ali Al-San’ani dilaporkan berlangsung sederhana dan dihadiri para ulama, tokoh masyarakat, serta ratusan murid dan warga sekitar.
Doa dan ungkapan belasungkawa terus mengalir melalui media sosial dan mimbar-mimbar masjid di berbagai wilayah Yaman. Kepergian Syeikh Ali Al-San’ani menjadi pengingat akan kemuliaan jalan para pengajar Al-Qur’an, yang mengabdikan hidupnya untuk ilmu dan umat. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad ﷺ, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”*




