Hidayatullah.com— Sebuah video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan aksi seorang pria berpenyandang disabilitas yang berusaha melindungi sebuah masjid dari kerusuhan massa diduga kelompok radikal Hindu di wilayah Rautahat, Nepal.
Video tersebut menjadi viral dan memicu reaksi positif dari berbagai kalangan, termasuk kelompok masyarakat sipil dan komunitas agama, sekaligus memicu kembali perdebatan tentang toleransi dan kebebasan beragama di negara tersebut.
Dalam video yang diunggah di platform seperti YouTube dan Instagram, terlihat seorang pria Muslim dengan satu kaki berdiri di depan masjid sambil membawa tongkat, berusaha menahan laju massa yang tampak hendak menyerang dan merusak bangunan ibadah tersebut.
Aksi pria itu mendapat perhatian besar netizen, yang menyebutnya sebagai bentuk keberanian luar biasa di tengah ketegangan antar-komunitas yang meningkat di Nepal belakangan ini.
Insiden itu terjadi di distrik Rautahat, yang berbatasan dengan India, di tengah meningkatnya ketegangan sekuler dan komunal di sejumlah wilayah di Nepal terkait insiden serupa sebelumnya di distrik Dhanusha, di mana sebuah masjid dilaporkan dirusak oleh sekelompok massa setelah video yang diposting di media sosial memicu reaksi emosional.
Pihak berwenang Nepal belum secara resmi mengonfirmasi identitas pria disabilitas tersebut, namun unggahan video yang viral mencerminkan kekhawatiran publik akan meningkatnya konflik agama di wilayah tersebut.
Sejumlah pengguna media sosial memuji keberanian pria itu dengan ungkapan seperti “contoh keteguhan iman dan komitmen terhadap perdamaian” serta “simbol persaudaraan antara komunitas agama berbeda”.
Reaksi Publik dan Apresiasi
Tokoh masyarakat di Nepal menyatakan dukungan terhadap tindakan pria itu. Aksi yang ditunjukkan oleh pria ini tidak hanya menunjukkan keberanian individu, tetapi juga mengingatkan kita tentang pentingnya menghargai tempat ibadah dan menjaga perdamaian antar umat beragama,” ujar anggota organisasi hak disabilitas di Kathmandu mengatakan saat diskusi komunitas di ibu kota yang membahas viral video tersebut.
Selain itu, kelompok advokasi HAM internasional ikut menyoroti kasus ini sebagai contoh pentingnya toleransi dan perlindungan terhadap kelompok minoritas di negara dengan keragaman agama seperti Nepal.
“Video ini telah membawa perhatian global pada perlunya perlindungan hak untuk beribadah tanpa gangguan, khususnya bagi komunitas yang rentan,” ujar seorang juru bicara kelompok advokasi tersebut dalam pernyataan yang dipublikasikan di media sosial.
Menurut laporan media, ketegangan komunal di sebagian wilayah Nepal muncul setelah sebuah video yang diposting oleh dua pemuda Muslim di aplikasi TikTok dinilai menghina tradisi Hindu, yang kemudian memicu aksi protes dan kerusuhan.
Di distrik Dhanusha, kerusuhan tersebut berkembang menjadi penyerangan terhadap masjid setempat dan properti warga Muslim, termasuk melempari dengan batu serta merusak halaman bangunan ibadah.
Otoritas setempat kemudian menahan beberapa individu yang diduga terlibat dalam penyebaran konten yang memicu ketegangan serta tindakan vandalism tersebut, untuk menjalani penyelidikan lebih lanjut. Pihak kepolisian mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan menghindari tindakan yang dapat memperburuk situasi.
Banyak kalangan berpendapat bahwa video pria disabilitas yang menahan massa itu menjadi simbol penting dalam upaya mengembalikan harmoni sosial di Nepal.
“Keberanian seorang individu, terutama yang memiliki keterbatasan fisik, mengingatkan kita bahwa perdamaian dan toleransi harus dijaga oleh semua pihak,” ujar salah satu akademisi hubungan antaragama di Universitas Tribhuvan, Kathmandu. Pernyataan ini dimuat dalam laporan komunitas lokal yang dikutip oleh beberapa akun media sosial Nepal.
Sementara itu, tokoh agama dari berbagai komunitas menyerukan dialog dan penguatan nilai toleransi agama sebagai bagian dari usaha untuk mencegah konflik serupa di masa depan. Mereka menekankan pentingnya menghormati keberagaman sebagai bagian dari identitas sosial Nepal, yang selama ini dikenal sebagai negara yang menghormati pluralisme.*




