Pakar memperingatkandampak teknologi terhadap perkembangan otak generasi muda mempengaruhi penurunan kemampuan intelektual, termasuk perhatian, daya ingat, literasi, numerasi, dan kemampuan memecahkan masalah
Hidayatullah.com | SEJUMLAH ahli saraf di Amerika Serikat (AS) memperingatkan bahwa Generasi Z (Gen Z) berpotensi menjadi generasi pertama dengan tingkat kecerdasan dan perkembangan kognitif lebih rendah dibandingkan generasi milenial meskipun secara statistik Gen Z menghabiskan waktu lebih lama di sekolah.
Peringatan itu disampaikan oleh ahli saraf sekaligus mantan pendidik, Dr. Jared Cooney Horvath, dalam forum ilmiah di AS yang membahas dampak teknologi terhadap perkembangan otak generasi muda.
Ia menyoroti adanya tren penurunan kemampuan intelektual pada sejumlah indikator seperti rentang perhatian, daya ingat, literasi, numerasi, kemampuan memecahkan masalah, hingga skor IQ bila dibandingkan milenial pada usia yang sama.
“Walaupun generasi ini menghabiskan lebih banyak waktu dalam pendidikan formal, data menunjukkan bahwa Gen Z mencatat hasil yang lebih rendah secara konsisten dalam pengukuran kognitif,” tulis laporan tersebut, kutip Moneycontrol.
Horvath menjelaskan, penurunan itu mulai tampak sejak sekitar tahun 2010, bertepatan dengan adopsi luas teknologi digital di ruang kelas. Penggunaan educational technology (EdTech) seperti komputer, tablet, dan pembelajaran berbasis layar dinilai berpengaruh pada cara otak memproses informasi.
“Manusia pada dasarnya dirancang untuk belajar melalui keterlibatan langsung dan pemahaman mendalam, bukan sekadar menelusuri layar untuk ringkasan cepat,” ujarnya dalam forum tersebut, kutip New York Post.
Ia menilai paparan layar yang terlalu dominan dalam proses belajar mendorong pembelajaran yang lebih dangkal, mempersempit fokus, dan berdampak pada kemampuan konsentrasi jangka panjang.
Lebih lanjut, Horvath menyebut fenomena ini tidak hanya terjadi di AS. Tren serupa, menurutnya, teramati di sedikitnya 80 negara yang mengintegrasikan teknologi digital secara masif dalam sistem pendidikan. Data yang ia paparkan menunjukkan korelasi antara tingginya penggunaan teknologi pendidikan dan menurunnya performa belajar di sejumlah negara, kutip Times of India.
Laporan lain juga menyoroti tantangan Gen Z dalam membaca teks panjang, menyelesaikan persoalan kompleks, serta mempertahankan fokus dalam waktu lama. Sejumlah pengamat mengaitkan kondisi ini dengan kebiasaan scrolling konten digital secara terus-menerus yang membentuk pola perhatian yang pendek.
Pernyataan para ahli ini memicu perdebatan di kalangan pendidik dan pembuat kebijakan. Sebagian menilai teknologi tetap penting sebagai alat bantu pembelajaran, namun harus digunakan secara terukur dan tidak menggantikan metode belajar mendalam yang melatih daya pikir kritis.
Komunitas pendidikan di berbagai negara kini mulai mengevaluasi kembali pola integrasi teknologi di sekolah. Para pakar kurikulum mendorong pendekatan yang lebih seimbang antara pemanfaatan perangkat digital dan metode pembelajaran tradisional agar siswa tetap memperoleh kedalaman pemahaman.
Upaya tersebut dinilai penting agar generasi muda tetap mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis, fokus, dan keterampilan memecahkan masalah yang dibutuhkan di masa depan.
Di sisi lain, para pendidik di sejumlah negara kini tengah mempertimbangkan peninjauan kurikulum dan metode pembelajaran yang mampu menyeimbangkan penggunaan teknologi dengan pembelajaran tradisional untuk mengatasi potensi penurunan kemampuan kognitif tersebut.*




