Hidayatullah.com – Majelis Ulama Indonesia menyatakan kegeramannya terhadap dugaan penggunaan senjata thermal atau bom vakum yang menyebabkan 2,842 warga Palestina lenyap tak bersisa.
“Saya shock dan sekaligus geram membaca hasil investigasi yang disampaikan oleh Al Jazeera terkait dugaan penggunaan senjata Thermal atau bom vakum dalam agresi militer Israel di Gaza,” kata Sudarnoto Abdul Hakim, ketua MUI bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional, dalam rilisnya.
Menurutnya, apabila laporan tersebut terbukti benar, maka tindakan itu merupakan kebiadaban yang melampaui batas kemanusiaan dan nurani apalagi dengan kehancuran yang telah terjadi di Gaza.
“Sejak agresi militer Israel pada Oktober 2023, kita telah menyaksikan kehancuran yang luar biasa di Gaza. Namun informasi tentang ribuan warga Palestina yang “lenyap” tanpa jejak akibat suhu ekstrem yang dihasilkan senjata semacam ini menambah daftar panjang tragedi kemanusiaan,” imbuh Sudarnoto.
Sudarnoto mengatakan penggunaan senjata ekstrem terhadap manusia semakin memperparah tragedi kemanusiaan yang telah terjadi.
“Senjata yang mampu menghasilkan suhu hingga ribuan derajat Celsius dan menyebabkan tubuh manusia hancur tanpa sisa adalah bentuk kekerasan yang sangat menjijikkan dan bertentangan dengan prinsip-prinsip hukum humaniter internasional,” ujarnya.
Ia menegaskan, jika dugaan penggunaan senjata tersebut terbukti, maka hal itu merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional. “Saya menegaskan, penggunaan senjata semacam itu—apabila terbukti—merupakan pelanggaran serius terhadap Konvensi Jenewa dan norma-norma hukum internasional,” ujarnya.
MUI, kata dia, memandang tragedi di Palestina sebagai persoalan moral dan kemanusiaan universal. “Majelis Ulama Indonesia memandang bahwa tragedi kemanusiaan di Palestina bukan hanya isu politik, melainkan persoalan moral dan kemanusiaan universal,” ucapnya.
Ia mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa dan komunitas internasional membentuk investigasi independen serta menghentikan pasokan senjata yang berpotensi memperparah konflik. “Kami juga mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa dan komunitas internasional untuk segera membentuk investigasi independen yang kredibel,” katanya.
Sudarnoto menambahkan, solidaritas dan tekanan diplomatik harus terus diperkuat. “Perdamaian tak mungkin terwujud jika keadilan tak ditegakkan,” ujarnya.*




