Hidayatullah.com— Video seorang mahasiswa Muslim yang diduga dipukuli sekelompok mahasiswa lain di lingkungan IIMT University viral di media sosial dan memicu sorotan publik. Peristiwa tersebut dilaporkan terjadi saat perayaan Holi di area kampus.
Holi adalah festival keagamaan umat Hindu yang dikenal sebagai festival warna. Dalam video yang beredar luas, terlihat seorang pemuda mengenakan kurta dikejar oleh sejumlah mahasiswa.
Ia kemudian dipukul dan didorong hingga pakaiannya tampak robek. Beberapa orang terdengar berteriak, sementara yang lain merekam kejadian itu menggunakan telepon genggam.
Seorang mahasiswa yang berada di lokasi, yang memperkenalkan diri sebagai Arif Khan, mengatakan situasi awalnya hanya adu mulut. “Awalnya hanya saling dorong dan cekcok kecil, lalu tiba-tiba banyak yang ikut mengejar,” ujarnya kepada media lokal Meerut Chronicle.
Arif menambahkan bahwa korban dituduh lebih dulu menendang dan memukul saat suasana perayaan memanas. Video kejadian berdurasi sekitar 27 detik telah viral di media sosial dan menjadi sumber perhatian publik serta penyelidikan awal oleh polisi dan administrasi kampus
Namun, kronologi pasti insiden tersebut belum dikonfirmasi secara resmi. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan tertulis dari pihak administrasi kampus terkait dugaan kekerasan tersebut. Sejumlah mahasiswa menilai pihak universitas belum memberikan respons terbuka meskipun video kejadian telah menyebar luas.
Aktivis mahasiswa setempat, Sana Rizvi, menyatakan bahwa kampus seharusnya segera mengambil langkah tegas. “Keamanan mahasiswa adalah tanggung jawab institusi. Diam bukan solusi,” katanya kepada The Campus Post. Ia mendesak agar dilakukan investigasi internal secara transparan.
Sementara itu, aparat kepolisian setempat belum mengonfirmasi adanya laporan resmi yang masuk terkait peristiwa tersebut. Seorang petugas yang enggan disebutkan namanya menyebut pihaknya masih menunggu pengaduan resmi dari korban atau keluarganya sebelum memulai proses hukum, sebagaimana dikutip Hind Daily News.
Belum ada pernyataan dari pihak keluarga korban mengenai langkah hukum yang akan ditempuh. Beberapa unggahan di media sosial menyebut keluarga sedang mempertimbangkan opsi pelaporan, namun informasi tersebut belum diverifikasi secara independen.
Insiden ini memicu diskusi luas mengenai keamanan mahasiswa minoritas di lingkungan pendidikan tinggi. Sejumlah organisasi masyarakat sipil menilai pentingnya respons cepat dan tegas dari otoritas kampus untuk mencegah eskalasi dan memastikan perlindungan terhadap seluruh mahasiswa tanpa memandang latar belakang agama.
Dalam konteks yang lebih luas, sejumlah kelompok advokasi mencatat adanya peningkatan laporan insiden intoleransi dan kekerasan terhadap komunitas Muslim selama bulan Ramadhan tahun ini.
Berdasarkan rangkuman pemberitaan media nasional dan laporan organisasi hak asasi, kasus-kasus yang dilaporkan mencakup intimidasi verbal, perusakan tempat ibadah, hingga dugaan kekerasan fisik di beberapa wilayah. Meski demikian, data resmi pemerintah mengenai jumlah total insiden selama Ramadhan belum dirilis secara komprehensif.
Kasus di lingkungan kampus ini kini menjadi sorotan publik, dengan desakan agar investigasi dilakukan secara transparan dan akuntabel. Perkembangan lebih lanjut masih ditunggu, termasuk kemungkinan pelaporan resmi ke aparat penegak hukum serta langkah klarifikasi dari pihak universitas.*




