Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Iptekes

Kecenderungan Beragama Generasi Z Meningkat, Ini Temuan Peneliti

Ahmad
Terakhir diupdate: 2 Maret 2026 16:01 4:01 pm
Ahmad
Dipublikasikan 2 Maret 2026 16:00
Bagikan
Bagikan

Di tengah tekanan sosial, ekonomi, dan disrupsi teknologi, Generasi Z menunjukkan kecenderungan baru untuk mencari makna dan stabilitas melalui agama.

Hidayatullah.com | TINJUAUN pendapat terkini menunjukkan adanya peningkatan kecenderungan terhadap agama di kalangan Generasi Z, yakni mereka yang lahir antara 1997 hingga 2012. Fenomena ini memunculkan diskusi serius di kalangan akademisi, peneliti sosial, dan pemuka agama mengenai faktor pendorong serta arah perkembangan spiritual generasi muda tersebut.

Dr. Edward David, Felo Peneliti di Blackfriars Hall, University of Oxford, menilai bahwa peningkatan minat beragama pada Generasi Z tidak bisa dilepaskan dari tekanan sosial dan ekonomi yang mereka alami sejak masa remaja.

“Generasi ini mewarisi bagian paling sulit dalam struktur sosial dan ekonomi,” ujarnya dalam video yang dibagikan melalui Instagram, dikutip oleh The Times.

Menurutnya, dari sisi sosial, Generasi Z tumbuh dalam bayang-bayang pandemi COVID-19. Masa pembatasan sosial yang panjang terjadi justru ketika mereka berada pada fase krusial pembentukan identitas diri. “Secara sosial, mereka tumbuh dalam pandemi dan mengalami isolasi pada periode yang sangat penting dalam kehidupan mereka,” katanya kepada The Telegraph.

Baca Juga

Tak Mau Angkut Senjata 'Israel', Lufthansa Tetapkan Embargo
Nyamuk Datang Naik Pesawat Dua Pekerja Bandara Jerman Meninggal Karena Malaria
Usia Belum Tua, tapi Sering Merasa Tua? Hati-Hati Bisa Sebabkan Imsonia dan Gangguan Kesehatan
Perang Abadi Sistem Imun di Balik Keindahan Tato
UNICEF: Anak-Anak Gunakan AI 3 Kali Lipat Lebih Banyak Dibanding Orang Dewasa
Pakar Bilang Suplemen Harian Lebih Banyak Bahaya Dibandingkan Manfaat

Dari sisi ekonomi, tantangan yang dihadapi juga tidak ringan. Harga properti yang melambung membuat kepemilikan rumah semakin sulit dijangkau. Pasar kerja yang tidak stabil serta kekhawatiran terhadap disrupsi teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), turut menambah tekanan psikologis. “Di tengah pergolakan sosial ini, kaum muda mencari jawaban, dan agama dapat menyediakan sebagian dari jawaban tersebut,” tambahnya, seperti dilaporkan BBC News.

Temuan ini sejalan dengan survei terbaru dari Pew Research Center yang menunjukkan bahwa sebagian responden Generasi Z di Amerika Serikat melaporkan peningkatan frekuensi doa dan refleksi spiritual pascapandemi. Sementara itu, studi dari Barna Group pada 2023 menemukan bahwa 74 persen remaja Gen Z menyatakan mereka “cukup atau sangat tertarik” untuk mempelajari isu-isu spiritual, angka yang lebih tinggi dibanding generasi milenial pada usia yang sama satu dekade lalu.

Di Inggris, laporan dari Theos mencatat adanya peningkatan partisipasi ibadah di kalangan remaja, meskipun tidak merata di semua denominasi. Data demografis menunjukkan remaja Generasi Z lebih sering menghadiri layanan keagamaan dibanding kelompok dewasa awal dalam generasi yang sama.

Namun demikian, Dr. Edward mengingatkan agar fenomena ini tidak digeneralisasi. “Kita perlu mengakui bahwa terdapat banyak kisah berbeda dalam Generasi Z,” katanya kepada The Guardian. Sebagian anak muda kembali menghadiri gereja atau rumah ibadah, sementara sebagian lainnya tetap skeptis dan menyuarakan kekecewaan terhadap institusi keagamaan.

Para pengamat menilai bahwa yang terjadi bukan sekadar “kebangkitan agama” dalam arti tradisional, melainkan munculnya subkultur religius yang beragam. Generasi Z cenderung mengekspresikan spiritualitas secara lebih personal, fleksibel, dan sering kali terhubung dengan isu keadilan sosial, kesehatan mental, serta keberlanjutan lingkungan.

Meski tren menunjukkan peningkatan minat, Dr. Edward tetap berhati-hati dalam menarik kesimpulan jangka panjang. “Apakah ini pertanda kebangkitan umum religiositas di kalangan Generasi Z? Kita belum tahu. Waktu yang akan menjawabnya,” ujarnya kepada Financial Times.

Ia menggambarkan Generasi Z sebagai generasi yang tangguh dan kreatif, tetapi secara keagamaan masih berada dalam proses pencarian. “Secara religius, mereka adalah generasi yang sedang mengalami perubahan,” katanya.

Perkembangan ini dinilai signifikan dalam lanskap keagamaan global, terutama di tengah ketidakpastian politik, ekonomi, dan teknologi. Apakah peningkatan kecenderungan beragama ini akan bertahan atau sekadar fase transisi, satu hal yang jelas: Generasi Z tengah membentuk ulang cara agama dipahami, dijalankan, dan diintegrasikan ke dalam kehidupan modern.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:agamaberagamadisrupsi teknologigenerasi ZHeadlinePilihan Redaksitekanan ekonomitekanan sosial
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Seruan Usir Muslim oleh Pemimpin Radikal Hindu di Uttarakhand Tuai Sorotan
Tulisan selanjutnya Antara Akidah dan Geopolitik: Seruan Bijak Menyikapi Konflik Amerika-Israel dan Iran

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global

Berita
31 Agustus 2026 20:11
Erdogan Serukan Persatuan Dunia Islam dalam Perayaan Maulid di Istanbul
Presiden Iran: Jangan Biarkan Wilayah Negara Muslim Dipakai Menyerang Sesama
Turki Luncurkan Atlas Sejarah Islam Digital, Rekam Berbagai Peradaban Selama 1.300 Tahun
Mengapa Kolombia Ingin Pulihkan Hubungan dengan ‘Israel’?

Terbaru

  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
  • PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta
  • Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
  • Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global
  • DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah
  • Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika
  • UEA Bantah Laporan Serangan di Pangkalan Udara Al Minhad

Mungkin Anda Juga Suka

Iptekes

Ketika Gelar Sarjana Tak Lagi Menjamin Masa Depan: Gen Z Mulai Ragu Nilai Kuliah

25 Mei 2026 08:50
Iptekes

Jumlah Kasus Penyakit Menular Seksual di Eropa Pada 2024 Mencatat Rekor

22 Mei 2026 15:27
Iptekes

Belajar di Waktu Subuh Terbukti Tingkatkan Kinerja Otak dan Daya Ingat

31 Maret 2026 09:28
Iptekes

Pembuat Jutaan iPhone Malah Malah Melarang Main HP Berlebihan karena Bahaya

26 Maret 2026 08:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?