Hidayatullah.com – Iran dilaporkan telah mengaktifkan “Decentralize Mosaic Defence, sebagai strategi pertahanannya menyusul serangan ke pusat komando Iran. Keputusan ini diambil setelah Amerika Serikat dan Israel membombardir Iran pada Ahad kemarin.
“Pemboman di Ibu Kota kami tidak berdampak pada kemampuan kami untuk berperang. Decentralized Mosaic Defence memungkinkan kami untuk memutuskan kapan, dan bagaimana perang akan berakhir,” kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Aragchi melalui X pada Ahad. Decentralize Mosaic Defence merupakan sebuah doktrin perang gerilya untuk perang jangka panjang.
Pernyataan Aragchi juga dikonfirmasi oleh Ketua Dewan Keamanan Nasional Ali Larijani pada Ahad. “Iran, tidak seperti Amerika Serikat, telah mempersiapkan diri untuk perang yang panjang,” ujarnya di X.
Cara kerja Decentralized Mosaic Defence
Istilah ini sedang ramai dibicarakan di kalangan militer saat ini dan terdengar seperti sesuatu dari film fiksi ilmiah.
Sederhananya begini, biasanya sebuah militer bekerja seperti tubuh manusia. Ada “otak” di ibu kota yang mengirimkan sinyal ke “tangan” di perbatasan. Jika Anda menghancurkan otak, tubuh akan mati. Inilah yang disebut para ahli militer sebagai “pemenggalan kepala.”
Iran tahu bahwa dalam perang besar-besaran, komando pusat mereka akan menjadi target pertama. Jadi, mereka menghabiskan bertahun-tahun mendesain ulang seluruh militer mereka agar bekerja seperti mozaik (gambar atau pola yang dibuat dengan menyusun potongan-potongan kecil kaca, batu, dll. dengan warna berbeda).
Bayangkan sebuah mozaik kaca yang indah di dinding. Jika Anda mengambil palu dan menghancurkan salah satu sudutnya, bagian gambar lainnya tetap utuh. Itulah yang mereka lakukan. Iran telah membagi militer mereka menjadi 31 unit independen, berdasarkan provinsi.
Dalam kondisi ini, komandan provinsi tidak perlu menghubungi Teheran (ibu kota) untuk meminta izin meluncurkan drone atau memindahkan rudal. Mereka memiliki uang, senjata, dan wewenang untuk berperang sendiri di wilayah mereka.
Artinya, bahkan jika ibu kota benar-benar diam, 31 pasukan kecil terus berperang sendiri. Ini adalah sistem yang dirancang tanpa tombol “mati”.
Ini adalah strategi “pil racun”. Strategi ini membuat suatu negara tidak mungkin untuk “mati”, tetapi juga membuat pertempuran menjadi tempat yang jauh lebih tidak terduga. *




