Hidayatullah.com – Hubungan antara Iran dan Amerika Serikat kembali menjadi sorotan menyusul meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Sejumlah peristiwa terbaru dinilai semakin memperuncing relasi kedua negara yang sejak lama berada dalam ketegangan.
Wakil Ketua Umum MUI sekaligus Ketua PP Muhammadiyah, Anwar Abbas, menilai bahwa setiap bangsa pada dasarnya menginginkan kemerdekaan dan kedaulatan yang utuh tanpa intervensi pihak luar.
“Setiap bangsa dan negara tentu ingin merdeka dan berdaulat. Tidak ada yang ingin terus-menerus diusik, direcoki, atau diintervensi oleh negara lain,” ujar Buya Abbas sapaan akrabnya dalam keterangan persnya yang diterima Hidayatullah.com, Selasa (03/03/2026).
Menurutnya, Iran membangun kekuatan nasionalnya melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi agar dapat berdiri mandiri. “Iran berupaya mendidik putra-putri terbaiknya dan mengembangkan teknologi strategis agar negaranya kuat dan tidak bergantung kepada pihak luar,” katanya.
Ia menilai, kemajuan tersebut justru memunculkan kekhawatiran di pihak Amerika Serikat. “Jika Iran berkembang menjadi negara maju dan kuat, maka hegemoni Amerika di kawasan Timur Tengah bisa tergerus, termasuk pengaruhnya terhadap negara-negara kaya minyak seperti Irak, Arab Saudi, Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab,” ujarnya.
Tuduhan pengembangan senjata nuklir terhadap Iran, lanjutnya, menjadi salah satu pemicu utama ketegangan. “Isu nuklir itu kemudian dijadikan dasar untuk menekan Iran. Dunia Barat banyak yang mengikuti narasi tersebut,” jelas Buya Abbas.
Ia juga menyoroti dampak sanksi ekonomi yang dijatuhkan Amerika Serikat terhadap Iran. “Sanksi ekonomi itu sangat berdampak pada perekonomian dan kehidupan rakyat sehari-hari. Ini tentu memperburuk hubungan kedua negara,” tegasnya.
Konflik semakin memanas setelah serangan yang diklaim menyasar fasilitas di Fordow, Natanz, dan Isfahan, serta meningkatnya keterlibatan Israel dalam dinamika konflik kawasan. Situasi semakin memicu kemarahan publik Iran.
“Bagi Iran, persoalan ini bukan sekadar soal menang atau kalah. Ini soal harga diri dan kedaulatan bangsa. Jika harga diri diinjak-injak, mereka merasa harus melawan,” Tegasnya.
Ia menambahkan, dalam pandangan Iran, mempertahankan martabat bangsa lebih penting daripada tunduk pada tekanan asing. “Bagi mereka, lebih baik menghadapi risiko besar daripada hidup dalam penindasan,” katanya.
Buya Abbas pun berharap konflik yang terus meningkat dapat segera diredam melalui jalur diplomasi. “Perang hanya akan membawa kerugian besar bagi semua pihak. Dunia tentu berharap ada ruang dialog dan penyelesaian damai,” pungkasnya.*




