Hidayatullah.com – Pendiri Rumah Sejarah Indonesia, Hadi Nur Ramadan, menegaskan pentingnya generasi muda Islam memahami sejarah sebagai landasan membangun masa depan gerakan. Namun menurutnya, membaca sejarah saja tidak cukup kader umat harus mampu menjadi pelaku yang membentuk sejarah itu sendiri.
Hal tersebut disampaikannya dalam series webinar Ramadhan 5.0 bertajuk “Kalangan Muda sebagai Game Changer” yang diselenggarakan DPD Hidayatullah Jakarta Selatan pada Selasa malam.
“Kader Abdullah Said membaca sejarah itu penting, tetapi menjadi aktor sejarah jauh lebih penting,” kata Hadi dalam pemaparannya. Menurut Hadi, pesan tersebut menjadi warisan pemikiran penting dari pendiri Hidayatullah, Abdullah Said.
Sekretaris Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam Majelis Ulama Indonesia (LSBPI MUI) ini menilai gerakan Islam harus mampu menjaga keaslian prinsip perjuangan, sekaligus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. “Kita harus menjaga asolah, keaslian perjuangan, tetapi pada saat yang sama juga harus mu’ashirah, mampu mengikuti perkembangan zaman,” ujarnya.
Dalam paparannya, Hadi juga menyoroti kuatnya tradisi literasi yang dimiliki Abdullah Said. Menurutnya, kemampuan membaca dan menyerap gagasan dari berbagai literatur menjadi salah satu faktor yang melahirkan visi besar dalam membangun gerakan dakwah.
Ia menyebut beberapa karya yang menjadi inspirasi intelektual Abdullah Said, diantaranya Tafsir Sinar karya Abdul Malik Ahmad, buku Rangkaian Mutu Manikam Karya Mas Mansur serta tafsir Al-Azhar karya Hamka.
Selain itu, Abdullah Said juga terinspirasi oleh buku Mujahid Dakwah karya Isa Anshary yang memperkuat semangat militansi dakwahnya. “Kalau Abdullah Said tidak memiliki budaya literasi yang kuat, saya kira beliau tidak akan melahirkan gagasan besar seperti Hidayatullah,” ujar Ketua Bidgar Data Arsip serta Kepustakaan PP PERSIS ini
Hadi juga menjelaskan bahwa keberhasilan Abdullah Said dalam membangun Hidayatullah tidak lepas dari strategi dakwah yang berakar pada masyarakat. Ia mencontohkan bagaimana banyak tokoh besar Islam Indonesia terlebih dahulu membangun basis dakwah di masyarakat sebelum mendirikan organisasi.
Di antaranya adalah Ahmad Dahlan yang membina masyarakat Kauman sebelum mendirikan Muhammadiyah, serta Hasyim Asy’ari yang mengembangkan jaringan pesantren sebelum mendirikan Nahdlatul Ulama.
“Para tokoh itu punya basis dakwah yang jelas di masyarakat. Ketika basis itu kuat, organisasi yang mereka dirikan pun meledak dan berkembang,” jelasnya.
Ia menilai pendekatan serupa juga dilakukan Abdullah Said ketika membangun komunitas dakwah di Gunung Tembak, Balikpapan, yang kemudian berkembang menjadi pusat gerakan Hidayatullah.
Miniatur Peradaban Islam
Menurut Hadi, kawasan dakwah yang dibangun Abdullah Said di Gunung Tembak bahkan disebut sebagai “kampus Hidayatullah”, sebuah konsep yang dimaksudkan sebagai miniatur peradaban Islam.
Melalui pendekatan tersebut, masyarakat dapat melihat langsung praktik kehidupan Islam secara nyata.
“Hidayatullah dibangun sebagai miniatur peradaban Islam. Ketika masyarakat melihat contoh nyata itu, mereka tertarik datang dan belajar,” katanya.
Di akhir pemaparannya, Hadi mengingatkan pentingnya kader muda Hidayatullah terus membaca sejarah dan gagasan pendirinya agar tidak kehilangan arah perjuangan.
“Kita bukan hanya menjadi pelanjut organisasi, tetapi juga harus menjadi pembaca Abdullah Said, memahami gagasan dan perjuangannya, lalu melanjutkannya sesuai dengan tantangan zaman,” pungkasnya.*




