Hidayatullah.com— Sebuah masjid di wilayah timur laut India menjadi sasaran penyerangan massa. Sekelompok warga lokal yang diduga terkait dengan gerakan kampanye penghapusan masjid menyerang kompleks Jami’ Masjid Tura di kota Tura, distrik West Garo Hills, negara bagian Meghalaya.
Seorang saksi mata mengatakan massa mulai merusak properti masjid dan melakukan kekerasan terhadap orang-orang yang berada di lokasi saat kejadian berlangsung.
“Sekelompok massa yang terkait dengan gerakan penghapusan masjid menyerang kompleks Jami’ Masjid, merusak properti, dan memukuli beberapa orang yang berada di lokasi,” kata seorang saksi mata sebagaimana dilaporkan The Hindustan Gazette, Kamis (13/3/2026).
Dalam insiden tersebut, sejumlah bagian bangunan masjid dilaporkan mengalami kerusakan. Beberapa orang yang berada di dalam kompleks masjid saat kejadian juga mengalami luka akibat pemukulan oleh massa. Seorang imam masjid disebut termasuk di antara korban yang diserang ketika mencoba menghentikan aksi perusakan.
Laporan media juga menyebutkan bahwa kelompok yang melakukan penyerangan terdiri dari warga lokal yang terlibat dalam kampanye menolak keberadaan masjid di wilayah tersebut. Ketegangan antara sebagian warga dan komunitas Muslim setempat sebelumnya sudah meningkat akibat isu keberadaan tempat ibadah tersebut.
Pihak kepolisian setempat kemudian dikerahkan ke lokasi setelah menerima laporan mengenai kerusuhan tersebut. Aparat keamanan disebut langsung mengamankan area sekitar masjid untuk mencegah bentrokan lanjutan.
Kronologi
Kerusuhan terjadi pada 9–11 Maret 2026 setelah muncul kontroversi mengenai aturan baru pemilihan Garo Hills Autonomous District Council (GHADC). Aturan tersebut mewajibkan kandidat menunjukkan sertifikat Scheduled Tribe (ST) atau status suku asli. Ketentuan ini secara efektif menghalangi warga non-tribal untuk maju sebagai kandidat dalam pemilu dewan distrik tersebut.
Ketegangan meningkat ketika dua calon kandidat non-tribal datang ke kantor pemerintah di Tura untuk mendaftarkan pencalonan mereka. Aksi itu memicu protes dan bentrokan yang kemudian meluas ke berbagai wilayah di West Garo Hills.
Istilah non-tribal merujuk pada warga yang bukan bagian dari suku asli yang diakui negara, seperti suku Garo, Khasi, atau Jaintia.
Banyak di antara kelompok non-tribal di wilayah ini adalah komunitas pendatang, termasuk pedagang atau warga keturunan Bengali Muslim yang telah lama tinggal di wilayah tersebut. Ketegangan politik sering muncul karena sebagian kelompok adat ingin mempertahankan kontrol politik dan tanah di wilayah mereka.
Dalam situasi kacau tersebut, massa menyerang kompleks Masjid Jami’ Tura. Media India melaporkan bahwa bangunan masjid dirusak dan imam masjid turut menjadi korban kekerasan.
Kerusuhan yang berlangsung beberapa hari itu menyebabkan korban jiwa. Dua pria dari komunitas Muslim Bengali dilaporkan meninggal dalam bentrokan, sementara beberapa orang lainnya mengalami luka-luka dan sejumlah toko serta properti rusak.
Laporan otopsi kemudian menunjukkan bahwa korban tewas akibat serangan senjata tajam dan tembakan senjata rakitan, bukan karena tembakan polisi seperti dugaan awal,
Serangan terhadap masjid itu kemudian memicu kekhawatiran komunitas Muslim setempat. Organisasi masyarakat Muslim di negara bagian tersebut menyatakan keprihatinan atas kerusakan tempat ibadah.
Shillong Muslim Forum hari Jumat menyatakan keprihatinannya serta mengajukan permohonan kepada Conrad K. Sangma selaku Ketua Menteri Meghalaya agar melindungi lembaga-lembaga keagamaan dan menjaga keharmonisan antar-komunitas.
Dalam suratnya, komunitas Muslim ini mengaku prihatin atas kerusakan tempat-tempat ibadah serta berbagai insiden kekerasan dan perusakan properti selama ketegangan di distrik tersebut.
Mereka menyatakan bahwa insiden-insiden yang tidak menguntungkan tersebut telah mengganggu perdamaian dan keharmonisan yang telah lama terjalin antar komunitas di Meghalaya selama beberapa generasi.
Forum tersebut juga menyampaikan keprihatinan atas pernyataan publik terbaru dari para pemimpin Hynniewtrep Youth Council yang mempersoalkan penggunaan “ungkapan suci” seperti “Allahu Akbar” (Allah Maha Besar) yang digunakan umat Muslim dalam salat sehari-hari dan berbagai ibadah keagamaan.
Seperti halnya setiap agama yang memiliki ungkapan sakral dalam bahasa dan tradisinya masing-masing, frasa tersebut memiliki makna spiritual yang mendalam bagi umat Islam, kata organisasi itu, seraya mengecam penyalahgunaan ungkapan keagamaan apa pun dalam tindakan kekerasan atau pelanggaran hukum.
Hingga kini, otoritas keamanan di Meghalaya masih melakukan penyelidikan untuk mengidentifikasi para pelaku penyerangan dan memastikan situasi keamanan di sekitar masjid tetap terkendali. Insiden ini menambah kekhawatiran terkait meningkatnya ketegangan sosial dan keagamaan di beberapa wilayah timur laut India.*




