Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Jendela Keluarga

Anak Saleh Buah dari Kesalehan Orang Tua?

Mahmud
Terakhir diupdate: 26 April 2026 14:18 2:18 pm
Mahmud
Dipublikasikan 26 April 2026 14:13
Bagikan
Bagikan

Anak yang saleh adalah buah yang manis, namun ia tumbuh dari akar yang kuat. Akar itu adalah keimanan dan ketakwaan orang tua. Jangan pernah menuntut anak untuk menjadi saleh sementara kita sendiri mengabaikan kewajiban kepada Allah.

Hidayatullah.com | SETIAP orang tua mendambakan anak yang saleh dan salehah; sosok yang mendoakan saat mereka tiada dan menjadi penyejuk mata saat mereka masih ada. Hanya saja, sering kali kita lupa bahwa kesalehan anak bukanlah peristiwa yang terjadi secara kebetulan.

Kesalehan anak merupakan sebuah kesinambungan spiritual yang berakar dari integritas moral orang tuanya.  Dalam tradisi Islam, terdapat korelasi yang sangat kuat antara kualitas ketakwaan orang tua dengan masa depan keturunannya, baik dalam aspek keselamatan dunia maupun akhirat.

Pelajaran ini didapat dari kisah Al-Qur’an, tepatnya pada Surah Al-Kahfi ayat 82. Di sana diceritakan bagaimana Nabi Khidir AS membangun kembali sebuah dinding yang hampir roboh di sebuah desa yang penduduknya kikir. Ternyata, di bawah dinding tersebut tersimpan harta karun milik dua anak yatim.

Mengapa Allah SWT mengutus seorang hamba pilihan seperti Nabi Khidir untuk menjaga harta tersebut? Jawabannya termaktub dalam firman-Nya:

Baca Juga

Muharram, Momen Terbaik Menjadi Ibu Terbaik
Kecantikan Muslimah Sejati
Sebab-sebab Durhaka Istri kepada Suami
Anak Shalih dan Shalihah Takdir Allah, Kita Terus Berusaha
Sudahkah Anak Kita Diajarkan Akidah?

وَأَمَّا ٱلۡجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَٰمَيۡنِ يَتِيمَيۡنِ فِي ٱلۡمَدِينَةِ وَكَانَ تَحۡتَهُۥ كَنزٞ لَّهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَٰلِحٗا

“Dan adapun dinding rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, yang di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua, dan ayahnya adalah seorang yang saleh.”

Para mufasir, termasuk Ibnu Abbas RA, menekankan bahwa kedua anak yatim tersebut mendapatkan perlindungan dan pemeliharaan Allah semata-mata karena kesalehan ayahnya.

Dalam Tafsir Al-Baghawi disebutkan bahwa meski sang ayah sudah wafat, dampak dari amal salehnya tetap mengalir melindungi anak-anaknya. Bahkan, sebagian pendapat ulama menyatakan bahwa sosok “ayah saleh” tersebut bukanlah ayah kandung langsung, melainkan kakek ketujuh dari garis keturunan anak tersebut.

Hal ini membawa pesan yang sangat kuat bahwa kebaikan yang dilakukan orang tua hari ini adalah semacam bentuk “asuransi” terbaik bagi anak cucu di masa depan. Allah SWT menjamin kesejahteraan keturunan orang-orang yang bertakwa.

Muhammad bin al-Munkadir, seorang ulama besar dari kalangan tabiin, menyatakan bahwa Allah senantiasa menjaga karena kesalehan seorang hamba: anaknya, cucunya, keluarganya, bahkan lingkungan di sekitar rumahnya.

Penjagaan Allah ini mencakup perlindungan dari marabahaya, kecukupan rezeki, hingga hidayah untuk tetap berada di jalan yang lurus. Jika orang tua menjaga batas-batas Allah, maka Allah akan menjaga apa yang paling berharga bagi orang tua tersebut, yakni anak-anaknya.

Praktik ini terlihat nyata dalam kehidupan para pendahulu yang saleh. Said bin al-Musayyib, salah satu tokoh ulama terkemuka, pernah memberikan teladan yang sangat menyentuh. Beliau sering kali menambah durasi shalat sunnahnya dan beribadah lebih giat dengan niat yang spesifik.

Beliau pernah berkata:

إِنِّي ‌لَأُصَلِّي فَأَذْكُرُ وَلَدِي فَأَزِيدُ فِي صَلَاتِي

“Sesungguhnya aku sedang salat, lalu aku teringat anakku, maka aku pun menambah (memperpanjang) salatku.” Kalimat ini menunjukkan sebuah kesadaran spiritual yang tinggi bahwa seorang manusia memiliki keterbatasan dalam mengawasi anaknya selama dua puluh empat jam.

Dengan memperkuat hubungan pribadinya kepada Allah, Said bin al-Musayyib menitipkan penjagaan anaknya kepada Dzat Yang Maha Menjaga. Ia menjadikan kesalehannya sebagai wasilah atau perantara untuk memohon perlindungan bagi keturunannya.

Selain melalui jalur ibadah ritual, kesalehan orang tua juga harus mewujud dalam keteladanan karakter. Anak adalah peniru yang sangat ulung. Mereka lebih banyak belajar dari apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar.

Tidak mengherankan jika ‘Utbah bin Sufyan pernah memberi nasihat kepada guru bagi anak-anaknya:

لِيَكُنْ أَوَّلَ إِصْلَاحِكَ لِوَلَدِي ‌إِصْلَاحُكَ ‌لِنَفْسِكَ، فَإِنَّ عُيُوبَهُمْ مَعْقُودَةٌ بِعَيْبِكَ، فَالْحَسَنُ عِنْدَهُمْ مَا صَنَعْتَ، وَالْقَبِيحُ عِنْدَهُمْ مَا تَرَكْتَ

“Jadikanlah perbaikan dirimu sebagai awal perbaikan bagi anakku. Sebab cacat mereka terikat dengan cacatmu. Apa yang engkau lakukan dianggap baik oleh mereka, dan apa yang engkau tinggalkan dianggap buruk oleh mereka.” (Abbul Abbas Asy-Syuraisyi, Syarh al-Maqāmāt, III/368).

Jika orang tua menginginkan anak yang jujur, maka mereka harus melihat kejujuran pada orang tuanya. Jika mereka mendambakan anak yang dermawan, maka tangan orang tua harus lebih dahulu ringan dalam memberi. Harta yang halal dan perilaku yang mulia dari orang tua akan menjadi nutrisi spiritual yang bersih bagi pertumbuhan karakter anak.

Sebaliknya, perilaku yang buruk atau harta yang haram dapat menjadi “racun” yang merusak fitrah anak. Itulah mengapa kemaksiatan bisa berpengaruh kepada keluarga. Ada ungkapan yang biasa dinisbatkan kepada Fudhail bin Iyadh bahwa:

إِنِّي لَأَعْصِي اللَّهَ فَأَرَى ذَلِكَ ‌فِي ‌خُلُقِ ‌دَابَّتِي، ‌وَامْرَأَتِي

“Sesungguhnya aku bermaksiat kepada Allah, lalu aku melihat akibatnya pada perangai tungganganku dan istriku.” (Ibn al-Qayyim, al-Dā’ wa al-Dawā’, 54). Kemaksiata yang dilakukan bisa berpengaruh negatif kepada keluarga bahkan anak dan binatang tunggangan.

Di samping itu, penting untuk diketahui bahwa janji Allah bagi orang-orang yang saleh tidak hanya terbatas pada keselamatan diri sendiri. Dalam Surah Al-A’raf ayat 196, Allah berfirman bahwa Dia-lah pelindung bagi orang-orang yang saleh.

Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa perlindungan ini meluas hingga ke tujuh turunan di bawahnya. Hal ini memberikan ketenangan bagi setiap orang tua di tengah zaman yang penuh dengan tantangan moral seperti sekarang.

Jika kita khawatir dengan pergaulan bebas, dekadensi moral, atau tantangan zaman yang mengancam anak-anak, maka solusi utamanya bukanlah sekadar menambah pengamanan fisik atau fasilitas duniawi, melainkan memperbaiki hubungan kita sendiri dengan Sang Pencipta.

Sebagai penutup, kita harus menyadari bahwa anak yang saleh adalah buah yang manis, namun ia tumbuh dari akar yang kuat. Akar itu adalah keimanan dan ketakwaan orang tua. Jangan pernah menuntut anak untuk menjadi saleh sementara kita sendiri mengabaikan kewajiban kepada Allah.

Mari kita ikuti jejak para kekasih Allah dengan memperbagus shalat, menjaga kejujuran, dan memperbanyak amal kebaikan dengan niat agar Allah berkenan menjaga anak-cucu kita. Kesalehan orang tua adalah warisan paling berharga, jauh lebih mulia daripada harta benda, karena ia menjadi kunci pembuka rahmat Allah bagi generasi masa depan. Wallahu a’lam. (MBS)

Redaktur: Mahmud
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Anak Salehorang tuaparenting
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Presiden Iran Minta Rakyatnya Hemat Energi
Tulisan selanjutnya Bunuh Diri di Kalangan Militer Zionis Terus Terjadi, Bulan Ini 10 Tentara

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Eurovision
Berita

Laporan: Eurovision Kehilangan 35 Juta Penonton Setelah Israel Tetap Diizinkan Tampil

Berita
6 Juni 2026 11:02
Bersama DPR-DPD RI, MUI Gelar Hari Dialog Antar Peradaban Internasional, Dorong Perdamaian Global dari Indonesia
MUI: Kasus Hukum di BGN Harus Jadi Momentum Perbaikan Tata Kelola dan Integritas Pengelola
Penjajah ‘Israel’ Lancarkan Serangan di Berbagai Wilayah Gaza, 10 Orang Syahid
Pra Kongres Umat Islam VIII, MUI Gelar Halaqah Nasional Bahas Pesantren Aman dan Ramah Anak

Terbaru

  • Pasokan Avtur Saudi ke Eropa Melebihi Sebelum Penutupan Selat Hormuz
  • Vape Piu Piu Bikin Pengguna Seperti Zombie, Kata Kepolisian Malaysia
  • PHK Tembus 23 Ribu Pekerja, DPR Desak Penguatan Perlindungan dan Percepatan Penyerapan Tenaga Kerja
  • Pra Kongres Umat Islam VIII, MUI Gelar Halaqah Nasional Bahas Pesantren Aman dan Ramah Anak
  • Bersama DPR-DPD RI, MUI Gelar Hari Dialog Antar Peradaban Internasional, Dorong Perdamaian Global dari Indonesia
  • Kemendikdasmen Siapkan Kurikulum PAUD untuk Dukung Program Wajib Belajar 13 Tahun
  • MUI Kembali Dorong Undang-Undang Ketahanan Keluarga untuk Perkuat Fondasi Bangsa
  • Jenderal ‘Israel’ Naik Pangkat Usai Bunuh Anak Palestina, Kini Dipecat karena Skandal Moral
  • Haedar Nashir: Reformasi Pendidikan Harus Bertumpu pada Tradisi Ilmu dan Kebijakan yang Berkelanjutan
  • Timur Tengah Kian Memanas, Iran Tutup Wilayah Udara usai Serangan ke ‘Israel’

Mungkin Anda Juga Suka

Jendela Keluarga

Menjadi Ayah yang “Mesra” dengan Anak

26 November 2022 07:10
Jendela Keluarga

Akhlak Muslimah, Lembutlah dalam Bicara

8 November 2022 21:45
Jendela Keluarga

Hakikat Wanita Shalihah

4 November 2022 10:00
Jendela Keluarga

Adab Komunikasi antar Orang Tua dan Anak: Belajar Kisah Luqman Hakim

30 September 2022 13:08
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?