Hidayatullah.com – Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Muhammad Jusuf Kalla (JK), mendorong Indonesia untuk mengambil peran yang lebih aktif dalam upaya perdamaian di Timur Tengah. Menurutnya, Indonesia memiliki posisi strategis sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan berada di kawasan yang relatif stabil.
Pernyataan tersebut disampaikan JK usai menghadiri hari ketiga Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Ahad (26/7/2026).
JK menyoroti perkembangan situasi di Timur Tengah yang dinilainya semakin mengkhawatirkan. Ia mengungkapkan, harapan terhadap terciptanya kesepakatan damai antara Iran dan Amerika Serikat sempat muncul, namun kembali memudar seiring meningkatnya ketegangan di kawasan.
“Semula kita bergembira bahwa sudah ada kesepakatan antara Iran dengan Amerika. Tapi buyar lagi, malah makin meluas,” ujar JK.
Ia berharap negara-negara di Timur Tengah, khususnya negara-negara Arab, dapat mengedepankan pendekatan dialog dan rekonsiliasi guna mencegah konflik yang lebih luas.
“Kita harap negara-negara Arab juga berusaha untuk saling mendamaikan,” katanya.
JK secara khusus menyinggung konflik yang masih berlangsung di Yaman. Menurutnya, perang berkepanjangan di negara tersebut berpotensi memperburuk stabilitas kawasan dan memicu persoalan baru di Timur Tengah.
“Houthi sendiri juga menahan diri untuk berdamai dengan pemerintah. Jangan sampai perang internal di Yaman menimbulkan masalah tambahan di seluruh Timur Tengah,” ujarnya.
Mantan Ketua Umum Partai Golkar itu juga mengimbau seluruh pihak yang terlibat, termasuk Arab Saudi, Iran, dan Amerika Serikat, untuk menahan diri dan mengutamakan penyelesaian secara damai.
Dalam pandangannya, Indonesia memiliki modal diplomatik yang cukup kuat untuk berkontribusi dalam proses perdamaian. Selain memiliki kedekatan historis dengan berbagai negara Islam, Indonesia juga dinilai memiliki citra sebagai negara yang moderat dan stabil.
“Indonesia sebagai negara dengan penduduk masyarakat Islam terbesar tentu juga perlu memberi inisiatif,” kata JK.
Ia menegaskan bahwa dialog merupakan satu-satunya jalan untuk menyelesaikan konflik yang berkepanjangan.
“Semuanya bisa selesai kalau ada dialog, ada pengertian masing-masing,” tegasnya.
Karena itu, JK menilai Indonesia layak mengambil peran sebagai jembatan komunikasi di antara negara-negara yang tengah berselisih.
“Indonesia siap untuk menjadi, katakanlah, pendengar di antara negara-negara itu karena kita relatif lebih aman di Asia Tenggara,” ujarnya.
Menurut JK, posisi Indonesia yang berada di kawasan Asia Tenggara yang damai dan stabil dapat menjadi keunggulan tersendiri dalam mendukung upaya mediasi dan membangun kepercayaan antarnegara di Timur Tengah.*




