Hidayatullah.com – Angkatan laut penjajah Israel dilaporkan telah menyerang misi bantuan maritim pro-Palestina, Armada Global Sumud, di perairan internasional dekat pulau Kreta di Yunani pada Kamis (30/04/2026).
Serangan itu terjadi jauh dari pantai Israel, setelah para pejabat militer memutuskan untuk mencegat konvoi tersebut karena ukurannya, menurut Radio Angkatan Darat Israel.
Media Israel mengklaim bahwa angkatan laut membajak beberapa kapal dari armada tersebut. Laporan awal mengatakan angkatan laut mengambil alih 7 kapal dari total 58 kapal, sementara laporan lain menunjukkan konvoi tersebut mencakup lebih dari 50 kapal yang membawa sekitar 1.000 aktivis dari hampir 70 negara.
Kementerian Luar Negeri Israel mengumumkan penangkapan 175 aktivis dari 20an kapal Armada Global Sumud.
Para peserta menyatakan bahwa misi tersebut adalah upaya kemanusiaan skala besar dengan tujuan memberikan bantuan dan menantang blokade Israel yang sedang berlangsung di Gaza. Media Israel melaporkan, mengutip sumber, bahwa angkatan laut akan membawa beberapa kapal ke pelabuhan Ashdod.
Penyelenggara armada mengatakan kapal cepat militer Israel mengepung kapal mereka dan mengidentifikasi diri mereka sebagai pasukan Israel.
Mereka menambahkan bahwa tentara mengarahkan laser dan senjata semi-otomatis ke arah orang-orang di atas kapal dan memerintahkan mereka untuk pindah ke bagian depan kapal dan berlutut.
Para aktivis juga melaporkan bahwa sistem komunikasi terganggu selama pencegatan, sehingga awak kapal mengirimkan sinyal SOS karena situasi semakin memburuk.
Armada Global Sumud kali ini menjadi yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
Armada tersebut berlayar sebagai bagian dari Misi Musim Semi 2026, yang diluncurkan pada 12 April dari Barcelona. Konvoi tersebut mencakup puluhan kapal yang membawa pasokan kemanusiaan seperti makanan dan bahan pendidikan untuk anak-anak di Gaza.
Para penyelenggara mengatakan misi tersebut bertujuan tidak hanya untuk mengirimkan bantuan tetapi juga untuk memecah blokade yang telah berlangsung lama dan membangun koridor kemanusiaan berkelanjutan ke wilayah yang terkepung tersebut.
Melalui aksi ini, mereka berupaya untuk membawa perhatian internasional yang baru terhadap krisis kemanusiaan dan tekanan untuk solusi yang berkelanjutan.
Misi ini mengikuti upaya armada sebelumnya pada September 2025, yang juga dicegat oleh pasukan Israel di perairan internasional, menculik ratusan aktivis sebelum mengusir mereka.
Insiden terbaru ini menimbulkan kekhawatiran baru tentang kebebasan navigasi dan keselamatan upaya kemanusiaan yang dipimpin oleh warga sipil.
Perjalanan armada tersebut berlangsung di tengah krisis yang memburuk di Gaza, di mana Israel telah memberlakukan blokade sejak tahun 2007.
Genosida yang terus berlanjut sejak Oktober 2023 telah menghancurkan infrastruktur dan memperdalam penderitaan kemanusiaan, menyebabkan kekurangan pangan, obat-obatan, dan bahan bakar yang parah, sementara rumah sakit dan layanan penting kesulitan untuk berfungsi.*




