Hidayatullah.com– Amazon hari Kamis (30/4/2026) mengatakan bahwa pihaknya butuh waktu berbulan-bulan untuk memulihkan operasi cloud computing di Bahrain dan Uni Emirat Arab, yang rusak akibat serangan semasa konflik di Timur Tengah. Data center milik Amazon di Timur Tengah dihantam serangan drone Iran awal bulan Maret, sehingga layanan cloud computing-nya terganggu.
Amazon Web Services, yang memasang laman kabar terbaru di situs webnya, menyarankan para pelanggannya untuk memindahkan semua sumber daya yang dapat diakses ke kawasan lain dan memulihkan sumber daya yang tidak dapat diakses dari cadangan jarak jauh sesegera mungkin.
Seorang juru bicara Amazon membenarkan bahwa imbauan tersebut berkaitan dengan masalah operasional bulan Maret.
AWS merupakan penyedia layanan cloud computing terbesar di dunia. Pelanggannya termasuk perusahaan-perusahaan raksasa dari berbagai industri seperti Netflix, BMW dan Pfizer, serta lembag-lembag keuangan, kelompok media dan organisasi sektor publik.
AWS merupakan unit usaha Amazon yang paling menguntungkan, lansir Reuters.
Menurut pemberitahuan di laman situsnya, per 30 April terdapat 31 layanan di Bahrain dan Uni Emirat Arab yang terganggu operasinya. Beberapa layanan tersebut sudah terganggu sejak awal Maret.
Menurut AWS, akibat kerusakan operasi di UEA dan Bahrain pihaknya menangguhkan tagihan pembayaran bagi pelanggannya.*




