Bagi Gen Z, nilai kuliah kini tidak lagi diukur dari gelarnya, melainkan dari seberapa besar pendidikan tersebut mampu membuka peluang karier yang nyata
Hidayatullah.com—Pandangan generasi muda terhadap pendidikan tinggi tengah mengalami perubahan besar. Jika pada masa lalu gelar sarjana dianggap sebagai jalan utama menuju pekerjaan mapan dan kehidupan yang lebih baik, kini banyak anggota Generasi Z mulai mempertanyakan apakah investasi besar untuk kuliah masih sepadan dengan manfaat yang diperoleh setelah lulus.
Keraguan tersebut tercermin dalam riset terbaru yang dirilis Indeed Hiring Lab. Sebanyak 51 persen responden Gen Z mengaku merasa gelar sarjana yang mereka miliki tidak sebanding dengan biaya pendidikan yang telah dikeluarkan. Angka ini menjadi yang tertinggi dibanding kelompok generasi lainnya.
Meningkatnya biaya kuliah menjadi faktor utama di balik perubahan pandangan tersebut. Banyak mahasiswa harus menanggung utang pendidikan dalam jumlah besar, namun setelah memasuki dunia kerja mereka tidak selalu memperoleh penghasilan atau jenjang karier yang dianggap sepadan dengan pengorbanan tersebut.
Bahkan, hasil survei menunjukkan sebagian besar responden muda tidak lagi memandang gelar sarjana sebagai syarat mutlak untuk bekerja.
“Sebanyak 68 persen responden Gen Z merasa tetap bisa menjalankan pekerjaan mereka tanpa gelar sarjana,”* demikian temuan survei Indeed Hiring Lab baru baru ini.
Temuan itu muncul seiring perubahan pola rekrutmen di berbagai sektor industri. Perusahaan kini semakin menekankan keterampilan praktis, pengalaman kerja, dan kemampuan teknis dibanding latar belakang pendidikan formal semata.
Data Indeed menunjukkan bahwa per Januari 2024, sekitar 52 persen lowongan kerja di platform tersebut tidak lagi mencantumkan persyaratan pendidikan formal. Angka itu meningkat dari 49 persen pada 2019.
Perubahan ini terlihat paling jelas di sektor teknologi, pemasaran digital, desain, dan industri kreatif. Di bidang-bidang tersebut, portofolio, pengalaman proyek, sertifikasi profesional, serta penguasaan perangkat digital sering kali menjadi pertimbangan yang lebih penting dibanding ijazah.
Kemunculan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) turut memperkuat persepsi tersebut. Dalam survei yang sama, sekitar 45 persen responden Gen Z menilai perkembangan AI telah membuat pendidikan tinggi menjadi kurang relevan dengan kebutuhan dunia kerja modern.
Banyak pekerjaan kini dapat dipelajari melalui kursus singkat, pelatihan industri, atau pembelajaran mandiri berbasis internet.
Di sisi lain, banyak lulusan muda mengaku tetap kesulitan memperoleh pekerjaan yang sesuai harapan meskipun telah menyelesaikan pendidikan tinggi.
Kondisi ini memperkuat anggapan bahwa gelar sarjana tidak lagi menjadi jaminan memperoleh pekerjaan bergaji tinggi sebagaimana yang dialami generasi sebelumnya.
Meski demikian, para pakar pendidikan mengingatkan bahwa kesimpulan tersebut tidak berlaku untuk semua bidang. Profesi seperti kesehatan, hukum, teknik, dan pendidikan formal tetap mensyaratkan pendidikan tinggi sebagai jalur utama untuk memperoleh kompetensi dan legalitas profesi.
Sejumlah pengamat menilai persoalan utamanya bukan terletak pada hilangnya nilai pendidikan tinggi, melainkan pada kebutuhan kampus untuk beradaptasi dengan perubahan industri.
Perguruan tinggi didorong memperkuat program magang, pelatihan berbasis proyek, penguasaan teknologi digital, serta keterampilan AI agar lulusan lebih siap menghadapi kebutuhan pasar kerja.
Laporan The Washington Post juga menunjukkan bahwa manfaat ekonomi pendidikan tinggi sangat bergantung pada jurusan yang dipilih. Bidang teknik, bisnis, dan teknologi masih menawarkan tingkat pengembalian investasi pendidikan yang relatif tinggi dibanding sejumlah disiplin ilmu lainnya.
Di tengah perubahan tersebut, semakin banyak anak muda memilih jalur alternatif untuk membangun karier. Kursus daring, bootcamp teknologi, sertifikasi profesional, hingga program pelatihan industri kini menjadi pilihan yang semakin populer karena dianggap lebih cepat, fleksibel, dan selaras dengan kebutuhan dunia kerja yang terus berubah.
Fenomena ini menandai pergeseran penting dalam cara generasi muda memandang pendidikan.
Bagi banyak anggota Gen Z, pertanyaannya bukan lagi apakah kuliah penting atau tidak, melainkan apakah biaya, waktu, dan tenaga yang dikeluarkan masih mampu memberikan keuntungan yang nyata di tengah dunia kerja yang semakin mengutamakan keterampilan daripada gelar.*




