Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 4 Juni 2026 07:31 7:31 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 3 Juni 2026 16:00
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com – Cendekiawan Bachtiar Nasir, mengingatkan bahwa pesantren saat ini tengah menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan masa-masa sebelumnya. Menurutnya, persoalan utama yang dihadapi bukan sekadar penurunan jumlah santri atau perubahan pola pendidikan, melainkan bagaimana pesantren mampu menjaga dan memperkuat kepercayaan masyarakat di tengah tuntutan transparansi yang semakin tinggi.

Daftar isi
  • Reformasi Tata Kelola Pesantren
  • Menjaga Warisan dan Masa Depan Pesantren
          • Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Pernyataan tersebut disampaikan Bachtiar Nasir menanggapi data pendidikan keagamaan Islam yang menunjukkan adanya tren penurunan jumlah santri dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data EMIS Kementerian Agama yang diolah sejumlah lembaga riset, jumlah santri yang tercatat pada Tahun Ajaran 2020/2021 mencapai sekitar 4,37 juta orang. Sementara pada laporan sementara Tahun Ajaran 2025/2026, jumlah tersebut tercatat sekitar 1,38 juta santri.

Meski begitu, Bachtiar menilai angka tersebut perlu dicermati secara hati-hati karena masih terdapat persoalan sinkronisasi data dan pembaharuan administrasi di sejumlah daerah. Karena itu, penurunan angka tersebut tidak bisa langsung dimaknai sebagai berkurangnya jutaan santri dari lingkungan pesantren.

“Yang lebih penting untuk diperhatikan adalah adanya gejala penurunan minat masyarakat terhadap pesantren di sejumlah daerah, khususnya pesantren tradisional. Fenomena ini perlu menjadi perhatian bersama,” ujar Ketua Umum Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia ini.

Menurut pendiri AQL Islamic Center itu, perubahan sosial yang terjadi saat ini telah melahirkan generasi baru dengan karakter yang berbeda. Generasi muda tumbuh dalam lingkungan digital yang memungkinkan akses informasi tanpa batas, komunikasi yang lebih terbuka, dan ruang ekspresi yang lebih luas. Kondisi tersebut menuntut lembaga pendidikan, termasuk pesantren, untuk melakukan berbagai penyesuaian tanpa kehilangan jati dirinya.

Baca Juga

Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

“Pesantren memiliki tradisi pendidikan yang kuat, tetapi pada saat yang sama perlu mampu berdialog dengan perubahan zaman dan kebutuhan generasi baru,” katanya.

Selain perubahan karakter generasi, pola pikir orang tua juga mengalami transformasi. Jika pada masa lalu keputusan mengirim anak ke pesantren banyak didasarkan pada kepercayaan penuh kepada figur kiai, kini orang tua semakin kritis dalam memilih lembaga pendidikan.

Masyarakat, kata Bachtiar, menuntut adanya transparansi pengelolaan, standar kesehatan yang baik, keamanan lingkungan asrama, serta kualitas pendidikan yang dapat diukur secara jelas.

Bachtiar menilai tekanan ekonomi pasca pandemi turut mempengaruhi pemilihan pendidikan keluarga. Kenaikan biaya hidup membuat sebagian masyarakat memilih sekolah umum yang dianggap lebih terjangkau, sementara pendidikan agama diperoleh melalui madrasah diniyah, pengajian, atau lembaga pendidikan non asrama.

Namun, ia menegaskan bahwa tantangan paling serius yang dihadapi pesantren saat ini adalah persoalan kepercayaan publik.

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah kasus kekerasan seksual yang melibatkan oknum di lembaga pendidikan berasrama telah menimbulkan kekhawatiran luas di tengah masyarakat.

“Mayoritas pesantren di Indonesia menjalankan fungsi pendidikan dan dakwah dengan sangat baik. Tidak adil jika seluruh pesantren digeneralisasi karena perbuatan segelintir oknum. Tetapi kita juga tidak boleh menutup mata bahwa setiap kasus yang muncul berdampak besar terhadap persepsi publik,” ujarnya.

Menurut Bachtiar, perkembangan media sosial membuat setiap kasus yang terjadi di satu daerah dapat menyebar secara nasional dalam waktu singkat. Akibatnya, muncul pertanyaan baru dari masyarakat mengenai sistem pengawasan dan perlindungan santri di lingkungan asrama.

Reformasi Tata Kelola Pesantren

Untuk menjawab tantangan tersebut, Bachtiar menilai pesantren perlu melakukan penguatan tata kelola kelembagaan secara lebih sistematis. Ia menyebutkan sejumlah langkah yang perlu menjadi perhatian, antara lain penerapan sistem perlindungan anak yang lebih kuat, penyediaan mekanisme pengaduan yang independen, audit berkala terhadap pengelolaan asrama, serta peningkatan keterlibatan orang tua dalam sistem pengawasan.

“Publik tidak cukup hanya mendengar bahwa pelanggaran dilakukan oleh oknum. Yang dibutuhkan adalah jaminan bahwa sistem yang ada mampu mencegah terulangnya kasus serupa,” katanya.

Menurutnya, pengawasan tidak boleh dipandang sebagai ancaman terhadap kemandirian pesantren. Sebaliknya, pengawasan merupakan instrumen penting untuk menjaga marwah, kredibilitas, dan kehormatan lembaga pendidikan Islam tersebut.

Menjaga Warisan dan Masa Depan Pesantren

Bachtiar menegaskan bahwa pesantren telah terbukti menjadi institusi pendidikan yang mampu bertahan menghadapi berbagai tantangan sejarah, mulai dari masa kolonialisme, pergolakan politik nasional, hingga arus modernisasi.

Karena itu, ia optimistis pesantren tetap memiliki masa depan yang kuat selama mampu menjaga kepercayaan masyarakat.”Pesantren tidak akan kehilangan masa depannya karena perubahan zaman. Tantangan terbesar justru ketika kepercayaan umat yang selama ini menjadi fondasi utama keberadaannya mulai terkikis,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah, khususnya Kementerian Agama Republik Indonesia, bersama organisasi-organisasi Islam dan pengelola pesantren dapat memperkuat standar perlindungan santri serta meningkatkan kualitas tata kelola lembaga secara menyeluruh.

“Kepercayaan adalah modal sosial terbesar pesantren. Ketika kepercayaan itu terjaga, pesantren akan tetap menjadi pusat pendidikan, pembinaan karakter, dan peradaban umat sebagaimana yang telah diperankannya selama berabad-abad,” pungkas Bachtiar.

Redaktur: Admin Hidcom
Wartawan: Azim Arrasyid
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:HeadlinepesantrensantriUBNUstadz Bachtiar Nasir
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Tulisan selanjutnya Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang

Berita
18 Juli 2026 11:26
Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital
Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf

18 Juli 2026 09:30
Berita

Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya

17 Juli 2026 15:23
Berita

Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak

17 Juli 2026 14:04
Berita

Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah

15 Juli 2026 21:36
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?