Hidayatullah.com– Andy Burnham hari Senin (20/7/2026) menjadi perdana menteri Inggris yang baru setelah Raja Charles III di Istana Buckingham secara resmi memintanya untuk membentuk pemerintahan baru menggantikan Keir Starmer yang mengundurkan diri.
Seremoni itu, yang dikenal sebagai “kissing hands”, menandai peralihan kekuasaan secara resmi.Peralihan kekuasaan dilakukan setelah Burnham terpilih untuk menggantikan Keir Starmer sebagai pemimpin partai pemerintah saat ini, Partai Buruh, pada hari Jumat (17/7/2026).
Berdasarkan sistem pemerintahan parlementer Inggris, partai yang sedang berkuasa bisa mengganti pemimpinnya, yang kemudian otomatis akan menjadi perdana menteri, tanpa menggelar pemilihan umum. Pemilihan ketua partai yang baru dilakukan secara internal oleh partai bersangkutan.
Burnham, 56, merupakan perdana menteri Inggris yang ketujuh sejak 2016.”Ini adalah momen untuk refleksi dan resolusi baru,” kata Burnham di luar kediaman dan kantor resmi perdana menteri Inggris 10 Downing Street setelah dilantik, seperti dilansir RFI.
Dia berjanji akan membuat rencana 10 tahun untuk Inggris, mengatakan bahwa negara itu perlu membiarkan politik untuk bekerja.
“Inggris perlu menunjukkan kepada dunia bahwa kita dapat meraih kembali stabilitas kita,” ujarnya.
Ia berjanji akan memberantas tunawisma, meningkatkan taraf hidup rakyat dan membuat politik “tidak terlalu toksik”. Ia juga menjanjikan “circuit breaker” untuk sistem politik dan ekonomi Inggris yang dikatakannya bergerak menuju ke arah yang salah sejak tahun 1980-an.
Mantan wali kota Greater Manchester itu merupakan calon tunggal untuk menggantikan Starmer sebagai pemimpin Partai Buruh, memenangi 379 dukungan dari 403 kader partainya yang duduk di parlemen.
Perhatian sekarang beralih pada jajaran menteri yang akan ditempatkan Burnham, yang diperkirakan akan mengalami perubahan dengan pergeseran di beberapa posisi paling senior seperti menter luar negeri.
Burnham menggatikan Keir Starmer, yang mengundurkan diri setelah seruan mundur semakin menguat disebabkan langkah-langkah politiknya yang dinilai tidak layak.
Sebelum pergi ke Istana Buckingham untuk menyerahkan surat pengunduran diri, Starmer membela hasil kerjanya selama berkantor di 10 Downing Street. “Kerja saya sudah selesai,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa dia meninggalkan Inggris dalam kondisi yang lebih kuat dibandingkan dua tahun sebelumnya ketika dia baru menjabat.
“Saya pergi dengan penuh ketenangan, saya pergi dengan senyuman, dan saya pergi dengan bangga atas semua yang sudah kita raih,” imbuhnya.
Starmer naik ke jajaran kepemimpinan partainya ketika Partai Buruh mengalami kekalahan telak pada 2019, dan kemudian berhasil membawanya ke kejayaan pada pemilu 2024. Selama menjabat perdana menteri ia memperkuat hak-hak buruh, membuat sejumlah kebijakan untuk mengurangi kemiskinan di kalangan anak dan memberikan anggaran yang lebih besar untuk pertahanan.
Di masa akhir jabatannya ia mengunjungi Kyiv untuk menunjukkan komitmen Inggris terhadap Ukraina.Pada 14 Juli, Presiden Prancis Emmanuel Macron memberikan Starmer anugerah tertinggi negaranya, Legion d’honneur, di akhir pertemuan Coalition of the Willing yang dibentuk oleh kedua pemimpin Eropa itu untuk membantu Ukraina menyusul invasi Rusia.*




