Hidayatullah.com – Untuk menghadapi tantangan dakwah masa kini, lembaga dakwah perlu banyak diskusi. Hal itu disampaikan oleh Kepala Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Pusat, Dr. Akmal Sjafril, saat membuka perhelatan Muslim Network Forum 2026 yang digelar Ahad (19/07) silam di Kantor INSISTS di Kalibata, Jakarta Selatan.
Akmal mengingatkan bahwa hal yang disampaikannya itu lebih mudah dibicarakan ketimbang dilaksanakan. “Persoalannya, kultur diskusi itu perlu dibangun terlebih dahulu. Sebagian di antara umat kita masih belum terbiasa berdiskusi. Beda pendapat disangka beda manhaj, berdebat dipandang sebagai pembangkangan, dan pimpinan diposisikan sebagai pihak yang tak mungkin salah. Semua hal ini mempersulit tumbuhnya iklim yang baik untuk membangun kultur diskusi,” ungkap Akmal.
Persoalan lain yang menyebabkan jarang terjadinya diskusi adalah sebagian orang memang merasa tidak butuh diskusi. “Ini pun penyebabnya bisa bermacam-macam. Ada yang, misalnya, menggampangkan masalah, misalnya dengan mengatakan bahwa masalah umat ini akan mudah diselesaikan, asalkan kita mau kembali kepada Qur’an dan Sunnah. Kata-kata itu benar, namun simplistis, sebab kembali kepada Qur’an dan Sunnah bukan persoalan mudah, dan yang ngomong begitu pun belum tentu semua tindakannya sudah sejalan dengan Qur’an dan Sunnah. Kalau memang persoalan umat ini gampang diselesaikan, kenapa tidak selesai-selesai?” ujar doktor sejarah ini.
Adakalanya, persoalan para da’i adalah tidak melakukan update terhadap persoalan-persoalan kontemporer umat. Karena itu, dari tahun ke tahun dakwah dijalankan dengan cara yang sama tanpa inovasi sama sekali.
“Pada kenyataannya, ada hal-hal tertentu yang dahulu tidak terlalu relevan untuk dibahas, namun menjadi tantangan berat di zaman sekarang. Kalau zaman sekarang dakwah tidak menyentuh persoalan feminisme, penyimpangan seksual, kesehatan mental, dan politik internasional, maka kasihan sekali umat kita, sebab hal-hal itulah yang mereka hadapi sehari-hari,” ungkap lelaki berdarah Minang ini.
Karena begitu kompleksnya permasalahan umat di zaman ini, maka lembaga-lembaga dakwah perlu terus melakukan inovasi dan kolaborasi. “Diskusi perlu digalakkan secara internal, agar setiap lembaga dakwah bisa memberikan respon yang tepat terhadap tantangan zaman. Selain itu, kita juga perlu membangun kultur diskusi antarlembaga dakwah, seperti yang kita lakukan di Muslim Network Forum ini,” papar Akmal lagi.
Dalam perhelatan yang mengambil tema “Building Strategic Collaboration For Palestine” ini, SPI mengundang berbagai lembaga dakwah berbasis pemuda di wilayah Jabodetabek.
“Kami sengaja mengundang lembaga-lembaga dakwah berbasis pemuda, karena memang anak-anak mudalah yang paling siap untuk melakukan terobosan baru. Alhamdulillaah, sebagai langkah awal, hari ini kami menjamu delegasi dari berbagai lembaga dakwah kampus, rohis, remaja masjid dan komunitas keislaman di sekitar Jabodetabek. Mudah-mudahan di masa depan SPI bisa membuat forum diskusi yang lebih besar dan lebih baik lagi,” pungkas Akmal.
Muslim Network Forum perdana ini diselenggarakan bertepatan dengan Milad ke-12 SPI, dan direncanakan akan menjadi kegiatan rutin tahunan sebagai forum untuk mendiskusikan persoalan-persoalan Dunia Islam. (SPI Media Center)




