Hidayatullah.com– ConocoPhillips mengatakan bahwa pihaknya sudah mencapai kesepakatan dengan BP untuk bergabung sebagai mitra minoritas dalam proyek penambangan minyak di bagian utara Iraq yang digarap oleh perusahaan asal Inggris itu.
Dalam pengumuman yang disampaikan hari Jumat (17/7/2026), perusahaan asal Amerika Serikat itu akan menguasai 42 salah BP Energy Company of Kirkuk Limited (BP ECKL), dengan kesepakatan yang ditandatangani saat Perdana Menteri Iraw Ali al-Zaidi berkunjung ke Washington.
BP ECKL memegang kontrak untuk pembangunan kubah-kubah minyak di Baba dan Avanah di wilayah Kirkuk dan tiga ladang minyak lain yang berada di sebelahnya, kata ConocoPhillips dalam sebuah pernyataan.ConocoPhillips tidak mengungkap tentang kesepakatan finansial dari penguasaan saham tersebut, lapor AFP.
Dalam sebuah pernyataan ConocoPhillips CEO Ryan Lance mengatakan pihaknya melihat peluang untuk menciptakan nilai melalui program pembangunan kembali yang efisien modal yang akan meningkatkan produksi saat ini di ladang-ladang minyak penting Iraq.BP dan Iraq menyepakati perjanjian proyek di Kirkuk itu pada Februari 2025 sebagai bagian dari strategi untuk meningkatkan produksi minyak dari Iraq.
Pengumuman tersebut muncul beberapa hari setelah Presiden Donald Trump menyambut kedatangan Zaidi di Gedung Putih, di mana Presiden AS mengisyaratkan akan adanya kesepakatan minyak dengan Iraq.Pertemuan di Gedung Putih itu dilakukan di saat terjadi eskalasi militer antara AS dan Iran.
Sejak runtuhnya rezim Saddam Hussein, Washington dan Teheran merupakan sekutu utama Iraq, tetapi keduanya terlibat perang proksi memperebutkan pengaruh atas Iraq.Seperti negara-negara produsen minyak lain, Iraq — yang merupakan salah satu negara pendiri OPEC — sangat terdampak dengan perang Timur Tengah.
Negara itu sangat tergantung pada ekspor minyak, yang mencakup sekitar 90 persen anggaran pendapatan, dan sebagian besar ekspor minyak mentahnya dikirim melalui Selat Hormuz, yang saat ini menjadi jantung konflik AS-Iran.*




