Hidayatullah.com– Pihak kejaksaan Korea Selatan untuk pertama kalinya memasukkan dakwaan pidana terkait penggunaan kacamata pintar AI oleh peserta ujian kualifikasi nasional untuk melakukan kecurangan.
Kantor Kejaksaan Distrik Gwangju bulan lalu mendakwa seorang pria berusia 40-an tahun dengan tuduhan melanggar UU Kualifikasi Teknis Nasional setelah ia kedapatan menyontek dengan menggunakan kacamata pintar berteknologi AI saat mengikuti ujian pada bulan Mei, menurut laporan media setempat seperti dilansir Independent Rabu (15/7/2026).
Kecurangan diketahui setelah seorang supervisor dalam ujian sertifikasi insinyur fasilitas proteksi kebakaran melihat cahaya yang memantul dari lensa kacamata pria itu saat mengikuti ujian di Gwangju, menurut laporan media Korea JoongAng Daily, yang mengutip keterangan aparat hukum.
Saat diinterogasi, ia dikabarkan mengaku berbuat curang dan mengatakan kepada petugas penyidik bahwa dia mengembangkan sebuah aplikasi AI yang dihubungkan dengan kacamata itu dan bermaksud melihat apakah aplikasi tersebut dapat memberikan jawaban yang benar dalam ujian sesungguhnya.
Pihak berwenang mengatakan insiden itu bukan satu-satunya.
Dua pria berusia 20-an ditangkap pada bulan Mei setelah letahuymenggunakan kacamata pintar bertenaga AI selama ujian kualifikasi teknis nasional di Seoul dan Mokpo. Perangkat serupa juga digunakan di beberapa ujian Test of English for International Communication (TOEIC), dua orang ditangkap pada bulan Mei dan satu orang pada bulan Juni.
Serangkaian kasus itu mendorong pihak berwenang untuk meninjau ulang kebijakan terkait penyelenggaraan ujian.
Perwakilan dari berbagai lembaga penyelenggara ujian kualifikasi nasional dikabarkan bertemu para 10 Juli untuk membahas penanggulangan masalah itu, dan secara eksplisit menambahkan kacamata pintar AI ke daftar barang terlarang di ruang ujian dan secara signifikan memperberat hukuman bagi mereka yang ketahuan menggunakannya.
Berbeda dengan kacamata pintar generasi sebelumnya yang kebanyakan hanya menawarkan fungsi kamera dan audio, model terbaru yang didukung AI dapat menganalisis teks yang ditangkap oleh kamera internal, menyampaikan pertanyaan, dan memberikan jawaban kepada pemakainya melalui tampilan terintegrasi atau audio.
Kementerian pendidikan Korea Selatan sudah mempertimbangkan langkah-langkah pengamanan tambahan menjelang Ujian Kemampuan Akademik Perguruan Tinggi (CSAT) tahun ini. Sementara itu, pihak berwenang di China dan Taiwan juga telah memperketat pengawasan terhadap perangkat wearable yang didukung AI selama pemeriksaan.*




