Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

Kebohongan Profesor Cambridge Jason Arday yang Diungkap Media

Ama Farah
Terakhir diupdate: 7 Agustus 2026 13:46 1:46 pm
Ama Farah
Dipublikasikan 7 Agustus 2026 07:48
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com– Dunia akademik Inggris beberapa waktu terakhir dihebohkan dengan sejumlah kebohongan Profesor berkulit hitam termuda Universitas Cambridge Jason Arday. Selain tuduhan plagiat pada disertasi doktoral dan beberapa karya ilmiahnya, media juga mengungkap kebohongan dan kejanggalan sejumlah pencapaian non-akademik yang diklaim Arday.

Jabatan dan pencapaian akademik

Arday mengklaim pernah memegang sejumlah posisi sebagai peneliti dan profesor tamu di sejumlah universitas lain.

Situs web Jesus College, di mana Arday berstatus sebagai peneliti, menyatakan bahwa dia pernah menjadi profesor tamu di Office of Diversity and Inclusion di Ohio State University dan di School of Education di University of Glasgow. Namun, kedua universitas itu membantahnya, lansir The Guardian Kamis (6/8/2026).

Biografinya juga menyatakan bahwa Arday masih berstatus “profesor kehormatan” di Fakultas Sosiologi Universitas Durham, tempatnya bekerja sebelum masuk Cambridge. Akan tetapi universitas itu mengatakan kepada Daily Mail bahwa Arday sudah tidak memiliki peran apapun di lembaga pendidikan tersebut.

Baca Juga

Pilot Malaysia Airlines yang Ditangkap di Jakarta Membawa Narkoba Tidak Menerbangkan Pesawat, Kata Malaysia Aviation Group
Kepala Intelijen Saudi di Baghdad Bahas Keamanan Regional dengan PM Iraq
Erdogan Buka Pintu Bagi Negara Sahabat Gabung Perjanjian Pertahanan Makkah
Tiga Negara Muslim Bersatu, Serangan ke Satu Negara Dianggap Serangan ke Semua
Nasyiatul Aisyiyah Gelar Muktamar ke-15, Dihadiri 6.700 Kader

Arday juga mengklaim telah menyelesaikan gelar master dalam praktik psikodinamik di Birkbeck, Universitas London, dan setelah itu menjadi konselor yang berkualifikasi penuh, sebuah pengalaman yang memberinya “pemahaman mendalam tentang kesehatan mental”.

Namun, ketika Guardian menghubungi Birkbeck, perguruan tinggi itu mengatakan bahwa mereka tidak menemukan catatan tentang seorang mahasiswa bernama Jason Arday yang pernah belajar di sana.

Arday mengklaim sudah menerbitkan sebuah buku berjudul “Being Young, Black and Male: Challenging the Dominant Discourse”, melalui Palgrave Macmillan. Namun, penerbit itu kemudian mengkonfirmasi bahwa pihaknya memang pernah menerima proposal dari Arday, tetapi buku itu tidak pernah diterbitkan.

Olahraga

Di dalam buku memoarnya, Arday mengklaim pernah mengikuti 30 maraton dalam 35 hari untuk mengumpulkan donasi. Pada tahun 2012, ketika Arday bertemu dengan Andy Murray, ia mengatakan kepada bintang tenis itu bahwa ia mengalami kejang epilepsi dan patah kaki saat mengikuti salah satu maraton tersebut. Terlepas dari insiden itu, Arday mengaku mengikuti sembilan maraton lagi untuk menyelesaikan tantangan.

Sejumlah dokter mengatakan kepada Guardian bahwa lari sembilan maraton dalam keadaan mengalami retak setipis rambut di bagian fibula akan terasa sangat sakit, meskipun masih mungkin untuk dilakukan.

Di dalam buku memoarnya yang akan segera terbit, Arday mengaku menjalani maraton-maraton itu sambil mengkonsumsi obat penghilang rasa sakit, dan menyelesaikannya meskipun dalam keadaan kaki kanan membengkak dua kali ukuran normal.

Di dalam sebuah wawancara tahun 2021 dia mengaku berendam air es untuk menghilangkan sakit di antara maraton-maraton yang diikutinya.

Di sejumlah acara publik Arday juga mengklaim pernah berlari sejauh 600 mil dalam waktu enam hari, sebuah pencapaian yang – jika itu benar adanya – akan menjadikannya sebagai salah satu pelari jarak jauh paling berbakat di dunia. Sebagai informasi, wanita pertama yang pernah meraih prestasi serupa, Megan Eckert, baru bisa mewujudkannya tahun lalu; sementara di kalangan pria rekornya tercatat 650 mil.

Pertanyaan juga bermunculan terkait klaim Arday pada tahun 2024 yang mengaku pernah bermain untuk klub sepakbola Crystal Palace saat belum berusia 18 tahun. Pada podcast Talking Matters dia mengaku bergabung dengan klub itu beberapa tahun sebelum bermain sepakbola semi-profesional selama 12 tahun.

Crystal Palace mengatakan bahwa mereka tidak memiliki catatan tentang Arday antara akhir 1990-an dan awal 2000-an, tahun-tahun Arday mengklaim terdaftar sebagai pemain mereka.

Kabarnya, Arday memang pernah bermain sepakbola tetapi di Southern Counties East Division One bersama Lewisham Borough, klub yang berada di posisi nyaris terbawah di piramida non-liga.

Kerja amal

Di dalam beberapa wawancara di media, Arday mengklaim berhasil mendulang £5 juta untuk badan-badan amal selama kurun 20 tahun (dalam beberapa wawancara angkanya berubah menjadi £5,5 juta).

Warganet yang mengkritisi klaim-klaimnya mengatakan bahwa angka itu teramat besar untuk seseorang yang tidak terkenal seperti Arday.

Ketika ditanya apakah angka £5 juta itu akurat, Arday mengatakan kepada Guardian bahwa uang tersebut dikumpulkan dengan bantuan “banyak kelompok penggalangan dana selama kurun dua dekade”.

Dia juga mengatakan bahwa dirinya adalah bagian dari sebuah sindikat yang beranggotakan 100 orang. Ketika diminta untuk menyebutkan orang lain yang ikut serta dalam sindikat penggalangan dana itu, Arday mengatakan bahwa dia menandatangani perjanjian kerahasiaan (NDA) sehingga tidak bisa mengungkapkan informasi tersebut.

Arday mengklaim pernah mengunjungi Amerika Selatan dan Afrika Barat bersama organisasi amal WaterAid yang bergerak di bidang pengadaan air bersih.

Menanggapi klaim itu, WaterAid mengatakan pihaknya tidak pernah mengirim sukarelawan ke luar negeri, dan tidak juga mendorong untuk melakukan atau memfasilitasi kunjungan swadana ke tempat-tempat yang rawan air.

Di buku memoarnya, Arday menyebut pernah pergi ke Brazil untuk membuat sumur, tetapi tidak menyebut nama WaterAid.

Didiagnosis sebagai autis, Arday mengaku tidak bicara sampai usianya 11 tahun dan baru belajar membaca serta menulis di usia 18 tahun, sebelum menjadi seorang profesor di Universitas Cambridge pada usia 37 tahun.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Dua Tentara Penjajah ‘Israel’ Tewas Akibat Bom di Lebanon Selatan
Tulisan selanjutnya Mayoritas Orang Amerika Menentang Perang AS-Iran, Menurut Jajak Pendapat Reuters/Ipsos

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Dua Tentara Penjajah ‘Israel’ Tewas Akibat Bom di Lebanon Selatan

Berita
7 Agustus 2026 06:00
Ajak Masyarakat Shalat Berjamaah, Pemerintah Johor Kenalkan Semarak Maghrib dan Isya’
Hadiri Saudi Education Expo 2026, UBN Dukung Penguatan Kerja Sama Pendidikan Indonesia-Arab Saudi
Nasyiatul Aisyiyah Gelar Muktamar ke-15, Dihadiri 6.700 Kader
Tiga Negara Muslim Bersatu, Serangan ke Satu Negara Dianggap Serangan ke Semua

Terbaru

  • Pilot Malaysia Airlines yang Ditangkap di Jakarta Membawa Narkoba Tidak Menerbangkan Pesawat, Kata Malaysia Aviation Group
  • Kepala Intelijen Saudi di Baghdad Bahas Keamanan Regional dengan PM Iraq
  • Membangun Ketahanan Mental dengan Nilai-Nilai Al-Qur’an
  • Erdogan Buka Pintu Bagi Negara Sahabat Gabung Perjanjian Pertahanan Makkah
  • Tiga Negara Muslim Bersatu, Serangan ke Satu Negara Dianggap Serangan ke Semua
  • Nasyiatul Aisyiyah Gelar Muktamar ke-15, Dihadiri 6.700 Kader
  • Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
  • Serangan Houthi Lukai 11 Orang, Koalisi Saudi: Sengaja Targetkan Sipil
  • Menko Pangan: Ponpes dengan 1.000 Santri Lebih Boleh Bikin SPPG
  • Investigasi Drop Site: Ada Pejabat PBB Jadi Informan ‘Israel’

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Serangan Houthi Lukai 11 Orang, Koalisi Saudi: Sengaja Targetkan Sipil

7 Agustus 2026 16:00
Berita

Menko Pangan: Ponpes dengan 1.000 Santri Lebih Boleh Bikin SPPG

7 Agustus 2026 11:40
Berita

Investigasi Drop Site: Ada Pejabat PBB Jadi Informan ‘Israel’

7 Agustus 2026 11:27
Berita

Mayoritas Orang Amerika Menentang Perang AS-Iran, Menurut Jajak Pendapat Reuters/Ipsos

7 Agustus 2026 08:54
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?