Hidayatullah.com—Juru bicara atau ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf tiba di Baghdad pada hari Rabu (19/8/2026) untuk lawatan selama tiga hari guna mempererat hubungan dengan Iraq, sementara negara tetangga itu meminta supaya armada minyak Iraq diizinkan untuk melewati Selat Hormuz.
Menjelang kunjungannya, Ghalibaf lewat platform X mengatakan bahwa Iraq dan Iran akan mengambil langkah-langkah praktis dan signifikan guna memperkuat keamanan kedua negara.“Hubungan antara rakyat Iran dan Iraq adalah hubungan yang bersejarah dan tak terpisahkan,” kata Ghalibaf.
“Hubungan bertetangga kami dibangun atas dasar persaudaraan di masa-masa sulit, penolakan terhadap campur tangan asing, dan keyakinan akan takdir bersama kedua negara. Pelajaran-pelajaran dari sejarah ini akan menjadi panduan untuk masa depan,” kata pemimpin parlemen Iran itu.
Setibanya di negeri jiran, Ghalibaf mengatakan kunjungannya dilakukan karena kebutuhan untuk mempercepat kerja sama bilateral tanpa campur tangan asing di tengah situasi regional saat ini.
“Kami akan bertemu dengan pejabat senior pemerintah,” imbuhnya, berbicara kepada wartawan usai meletakkan karangan bunga di sebuah tugu peringatan untuk Abu Mahdi al-Muhandis dan Qassem Soleimani di dekat Bandara Internasional Baghdad.
Ghalibaf juga mengatakan Iran siap memperdalam kerja sama dengan negara-negara di seluruh kawasan tersebut.
Kantor juru bicara parlemen Iraq, hari Rabu, mengeluarkan pernyataan bahwa Haibat al-Halbousi menyerukan status khusus bagi ekspor minyak Iraq melalui Selat Hormuz saat pembicaraan dengan sejawatnya dari Iran Mohammad Bagher Ghalibaf. Namun, tidak ada keterangan lebih lanjut yang diberikan, lapor Reuters.
Kunjungan ini dilakukan setelah beberapa sumber terpercaya mengatakan bahwa Presiden Wilayah Kurdistan Nechirvan Barzani mengupayakan mediasi rahasia antara pemerintahan Amerika Serikat dan Korps Garda Revolusi Iran.
Pertemuan itu juga bertepatan dengan upaya pemerintah Iraq untuk menempatkan semua senjata di bawah kendali negara, termasuk senjata yang dimiliki oleh kelompok-kelompok bersenjata yang bersekutu dengan Iran.
Sejak perang yang melibatkan AS-Israel di satu sisi dan Iran di sisi lain meletus pada akhir Februari, Wilayah Kurdistan Iraq telah mendapatkan serangan lebih dari 1.000 kali, menurut otoritas setempat.
Serangan-serangan tersebut mencakup yang diklaim oleh faksi-faksi bersenjata Iraq terhadap kepentingan AS, serta serangan Iran yang menargetkan kelompok-kelompok oposisi Kurdi Iran yang berbasis di bagian utara Iraq selama bertahun-tahun.
Kunjungan Ghalibaf dilakukan setelah badan kontra terorisme Kurdistan Iraq mengatakan dua drone Hadid-110 bermuatan peledak pada Senin dini hari diluncurkan dari arah perbatasan Iran menuju kantor pribadi Perdana Menteri Pemerintah Daerah Kurdistan dan kediaman kepala Dinas Perlindungan di distrik Pirman di Provinsi Erbil. Beruntung tidak ada korban yang dilaporkan dalam insiden itu.*




