Hidayatullah.com- Suriah mulai melakukan pemusnahan material senjata kimia peninggalan rezim Bashar Al-Assad yang sudah diidentifikasi oleh tim pengawas internasional, kata utusan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Suriah.
“Ini merupakan proses pemusnahan perdana sejak kami dibebaskan dari rezim sebelumnya,” kata Ibrahim Olabi kepada Dewan Keamanan PBB hari Kamis (3/9/2026), seperti dilansir Asharq Al-Awsat.
“Ini juga merupakan upaya pemusnahan material senjata kimia pertama yang pernah dilakukan di dalam wilayah Suriah selama lebih dari satu dekade terakhir.”
Pada 2021, Organization for the Prohibition of Chemical Weapons (OPCW) melucuti hak pilih Suriah setelah diketahui angkatan udara negara itu menggunakan bahan kimia perusak saraf berupa sarin dan gas klorin terhadap rakyatnya sendiri.
Namun sejak Assad digulingkan, otoritas baru di Damaskus berjanji akan bekerja sama dengan OPCW untuk memusnahkan senjata kimia rezim terdahulu yang kerap digunakan untuk membunuh rakyatnya sendiri selama 13 tahun perang sipil di Suriah.
“Kami bertujuan untuk melindungi rakyat Suriah sehingga senjata semacam itu tidak jatuh ke tangan-tangan yang salah,” tegas Olabi.
Dia menambahkan bahwa dengan pemusnahan senjata kimia itu negaranya juga melindungi dunia dan kawasan.
“Setiap lokasi yang diamankan, setiap amunisi yang diidentifikasi, tidak hanya menghilangkan bahaya bagi Suriah, tetapi juga seluruh dunia.”
Izumi Nakamitsu, pimpinan kantor PBB untuk perlucutan senjata, mengatakan tim OPCW bulan lalu “memverifikasi penghancuran permanen 42 bom udara” oleh pihak berwenang Suriah.
“Perkembangan penting ini berarti bahwa, untuk pertama kalinya sejak 2014, OPCW telah memverifikasi penghancuran amunisi kimia dari Republik Arab Suriah,” kata Nakamitsu.
Serangan senjata kimia
Pada tahun 2013, Suriah setuju untuk bergabung dengan OPCW dan mengungkap sert menyerahkan simpanan senjata kimianya di bawah tekanan Rusia dan Amerika Serikat, dan demi menghindari serangan udara oleh Washington dan sekutunya.
Hal itu dilakukan menyusul dugaan serangan senjata kimia di Ghuta, daerah pinggiran Damaskus, yang merenggut nyawa lebih dari 1.000 orang – menurut intelijen Amerika Serikat. Serangan itu dituduhkan ke rezim Bashar Al-Assad, yang membantah tuduhan dan justru menyalahkan kelompok-kelompok pemberontak.
Rezim Assad kala itu tidak membuka semua cadangan senjata kimia yang dimilikinya dan berusaha menyesatkan tim pemeriksa internasional.
Di Dewan Keamanan PBB, Amerika Serikat mendesak pemerintah baru Suriah untuk terus bekerja sama dengan OPCW.
“Upaya kami untuk memusnahkan program senjata kimia rezim al-Assad dan mendorong akuntabilitas tidak hanya penting untuk perdamaian dan keamanan internasional, hal ini juga merupakan cara untuk menghormati para pria, wanita, dan anak-anak Suriah yang nyawanya telah direnggut,” kata utusan Amerika Serikat di Dewan Keamanan PBB Tammy Bruce.
China dan Rusia juga memuji kemajuan Suriah dalam upaya penghancuran bahan-bahan senjata kimia.




