Hidayatullah.com – Suriah menjelaskan langkahnya mengintegrasikan faksi-faksi bersenjata ke dalam angkatan daratnya ialah untuk memastikan senjata tetap berada di bawah kendali negara.
Diungkapkan Menteri Luar Negeri Suriah Asaad Al-Shaibani, hal itu dilakukan untuk melindungi pemulihan negara dan memperkuat kedaulatan.
“Untuk melindungi pemulihan ini, kami mengintegrasikan faksi-faksi bersenjata dan membangun kembali tentara nasional kami dengan prinsip membatasi kepemilikan senjata hanya pada negara,” kata Asaad saat berbicara di markas besar Liga Arab di Kairo pada Selasa (08/09/2026).
Asaad menegaskan bahwa monopoli kepemilikan senjata oleh negara bertujuan untuk melindungi seluruh rakyat Suriah.
Membangun kembali Suriah
Menlu tersebut mengungkapkan bahwa Suriah telah bertransformasi selama 20 bulan kepemimpinan Presiden Ahmad Al-Sharaa. Berawal dari fase penanganan krisis, kini menuju fase rekonstruksi.
Ia mengindikasikan bahwa Damaskus telah mengakhiri pemerintahan otoriter yang berlangsung selama beberapa dekade, “menyatukan negara,” menggagalkan upaya pemecahbelahan wilayah, serta mengembalikan kendali negara atas wilayah timur laut Suriah.
Ia menambahkan bahwa pihak berwenang sedang menangani luka sosial yang ditinggalkan oleh rezim sebelumnya melalui langkah “keadilan dan rekonsiliasi.”
Menteri Luar Negeri tersebut menyoroti bahwa Damaskus telah merestrukturisasi lembaga-lembaga nasional dan membentuk parlemen baru, sembari memprioritaskan kembalinya ratusan ribu anak dari kamp pengungsian ke sekolah dan universitas.
Solidaritas regional
Menyinggung konflik regional, al-Shaibani menyatakan bahwa Damaskus telah menyatakan solidaritas terhadap negara-negara Teluk dan Yordania sejak pecahnya peristiwa yang ia gambarkan sebagai “perang Amerika-Israel-Iran.”
“Kami menolak serangan Iran terhadap wilayah mereka serta penggunaan senjata di luar kerangka kendali negara,” tegasnya.
Terkait ‘Israel’, al-Shaibani menyambut baik kecaman Liga Arab terhadap keputusan Kolombia yang mengakui aneksasi ‘Israel’ atas Dataran Tinggi Golan yang diduduki.
“Suriah menegaskan bahwa hak-hak Arab atas Golan yang diduduki tidak dapat diganggu gugat,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa Damaskus tetap berkomitmen pada upaya diplomatik untuk mengakhiri serangan, penangkapan, dan penyusupan Israel ke wilayah Suriah.
Sidang reguler ke-166 Dewan Liga Arab sedang berlangsung di Kairo, di mana para menteri luar negeri dari negara-negara anggota membahas perkembangan situasi di kawasan tersebut.*




