Hidayatullah.com – Tepi buku-buku itu tampak menghitam. Bagian tengahnya yang tak sempat terbakar terlihat baru. Salah satunya, sebuah buku tulis, nampak tersingkap sampulnya. Tidak ada satupun goresan tinta di halamannya.
Buku milik Wafa’a, bocah perempuan berusia 6 tahun, itu ditemukan di antara puing-puing kendaraan yang berlumuran darah. Tepat di tempat Wafa’a dan ayahnya Yousef Akila syahid dibom ‘Israel’.
Melansir Quds News Network pada Ahad (06/09/2026), hari itu seharusnya adalah hari pertama Wafa’a masuk sekolah dasar.
Rekaman video dan foto-foto yang beredar di media sosial memperlihatkan kendaraan tersebut rusak parah dan hangus terbakar.
Tujuh orang lainnya terluka dalam dua serangan ‘Israel’ di kamp pengungsi Al-Shati, sebelah barat Kota Gaza.
Terjadi peningkatan serangan ‘Israel’ di wilayah Jalur Gaza yang dilanda perang, meskipun gencatan senjata telah diberlakukan sejak bulan Oktober.
Lebih dari 1.330 warga Palestina syahid akibat serangan ‘Israel’ di seluruh Jalur Gaza sejak gencatan senjata yang didukung AS mulai berlaku.
Kementerian tersebut menyatakan bahwa total jumlah korban jiwa akibat perang ‘Israel’ di Gaza juga telah melampaui 73.470 orang.
Menurut Kantor Media Pemerintah Gaza, ‘Israel’ telah melanggar gencatan senjata lebih dari 3.700 kali.
Gedung apartemen, pasar, kendaraan, dan kafe terus menjadi sasaran serangan. Dalam beberapa kasus, keluarga menerima perintah pengungsian hanya beberapa menit sebelum rumah mereka dibom, sementara banyak keluarga lainnya sama sekali tidak menerima peringatan.
Kepala Hak Asasi Manusia PBB, Volker Turk, mengecam serangan ‘Israel’ di Jalur Gaza, seraya menyatakan bahwa “pola pembunuhan yang tiada henti” mencerminkan “impunitas mutlak” yang dinikmati Israel.
“Warga Palestina masih terus tewas dan terluka di sisa-sisa rumah mereka, di tempat penampungan dan tenda-tenda pengungsi, di jalanan, di dalam kendaraan, serta di fasilitas medis dan ruang kelas,” ujar Turk.
“Kami berduka saat Gaza kembali mencapai tonggak sejarah yang tragis… Ribuan orang lainnya—yang sebelumnya diberi tahu bahwa masa-masa terburuk telah berlalu—kini masih harus memakamkan orang-orang terkasih mereka,” kata Fikr Shalltoot, direktur Gaza untuk organisasi Medical Aid for Palestinians.
Anak-anak Target Utama Serangan ‘Israel’
Lebih dari 270 anak Palestina syahid dalam serangan ‘Israel’ di Jalur Gaza sejak dimulainya apa yang disebut sebagai gencatan senjata yang didukung AS.
Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, sebanyak 272 anak tewas dalam serangan ‘Israel’ di seluruh Jalur Gaza hingga 16 Agustus, sementara 1.174 lainnya terluka. Di antara para korban juga terdapat 135 perempuan, 39 lansia, dan 819 laki-laki.
Pasukan ‘Israel’ terus melakukan genosida terhadap warga Palestina dengan secara sengaja menargetkan anak-anak di Jalur Gaza, demikian temuan Komisi Penyelidikan independen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Pada bulan Agustus, badan PBB untuk urusan anak-anak menyatakan bahwa setidaknya 300 anak telah syahid di Gaza dalam kurun waktu sekitar 300 hari sejak apa yang disebut sebagai “gencatan senjata” diumumkan pada 10 Oktober 2025—rata-rata satu anak setiap harinya.
Ratusan anak lainnya terluka, banyak di antaranya mengalami luka parah, ungkap UNICEF dalam sebuah pernyataan. “Gencatan senjata yang mengakibatkan rata-rata satu anak tewas setiap harinya adalah kegagalan bagi anak-anak,” ujar Edouard Beigbeder, Direktur Regional UNICEF untuk Timur Tengah dan Afrika Utara.
“Anak-anak di Gaza masih menantikan berakhirnya kekerasan yang telah dijanjikan kepada mereka.”
Dalam satu serangan di bagian barat Kota Gaza pada 2 Agustus, warga menemukan jenazah bayi yang belum lahir dari balik reruntuhan setelah serangan tersebut menewaskan seorang perempuan hamil, suaminya, dan putra mereka yang berusia lima tahun.
Lebih dari 64.000 anak syahid atau terluka di Gaza antara 7 Oktober 2023 dan 7 Oktober 2025, menurut data PBB.*




