Hidayatullah.com – Ratusan orang berdemonstrasi di luar kedutaan besar ‘Israel’ di Bangkok pada Kamis. Mereka mendesak agar wisatawan wisawatan asing untuk lebih menghargai hukum dan budaya Thailand.
Aksi demo itu setelah maraknya warga negara ‘Israel’ yang berperilaku buruk saat berwisata di negara Asia tersebut.
“Era basa-basi diplomatik yang lembut dan sikap diam yang diperhitungkan—yang telah disalahartikan sebagai persetujuan diam-diam—sudah berakhir,” ujar pemimpin unjuk rasa Sondhi Limthongkul, seorang taipan media dan aktivis politik saat membacakan surat terbuka kepada Dubes Israel untuk Thailand, lansir AP.
Berbagai insiden yang belakangan ini memicu sorotan publik di Thailand melibatkan wisatawan dari berbagai negara. Salah satu kasus yang paling menyita perhatian adalah kasus seorang wisatawan ‘Israel’ yang dinyatakan bersalah karena mengancam pemilik kebun binatang dan kemudian dideportasi.
Tuntutan pendemo
Sondhi, pendiri gerakan protes yang berujung pada penggulingan mantan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra pada tahun 2006, menyuarakan berbagai keluhan terkait warga ‘Israel’ di Thailand. Ia menganggap para wisatawan, terutama dari ‘Israel’ seringkali melakukan pelanggaran hukum, tindakan yang mengganggu ketertiban umum, serta sikap tidak menghormati tradisi dan budaya lokal.
Perekonomian Thailand sangat bergantung pada sektor pariwisata, namun negara ini juga telah menerapkan langkah-langkah baru untuk memastikan wisatawan menghormati norma-norma setempat.
Pemerintah juga telah menindak tegas warga asing yang melebihi batas waktu izin tinggal (overstay) atau berupaya mengakali peraturan kepemilikan properti, sembari memangkas durasi bebas visa kunjungan.
Wisatawan asal Israel menyumbang sekitar US$1,2 miliar dari total pendapatan pariwisata Thailand yang mencapai US$48 miliar pada tahun lalu. Menurut Kementerian Pariwisata dan Olahraga Thailand, lebih dari 277.000 warga ‘Israel’ mengunjungi Thailand dalam delapan bulan pertama tahun 2026, meningkat sekitar 7% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.*




