Hidayatullah.com – Para penasihat Gedung Putih memperingatkan Presiden Donald Trump bahwa konflik dengan Iran dapat berlangsung selama bertahun-tahun.
Menurut The Wall Street Journal pada Kamis (10/09/2026), Wakil Presiden JD Vance, Menlu Marco Rubio dan pejabat senior lainnya telah menyampaikan kepada Trump kemungkinan bahwa Iran akan terus melawan AS, meskipun ada blokade, sanksi dan operasi militer.
Hal ini sangat kontras dengan pernyataan Trump yang meyakinkan publik AS bahwa konflik akan segera berakhir.
Perang yang kini memasuki bulan ketujuh tersebut telah menewaskan 18 personel militer AS serta menimbulkan kekhawatiran mengenai sumber daya militer dan gangguan terhadap pasar energi global.
Menurut American Automobile Association (AAA), harga bensin di AS rata-rata mencapai 4,22 dolar per galon pada hari Rabu, naik dari 4,01 dolar sebulan sebelumnya dan 3,19 dolar setahun yang lalu.
Trump berulangkali menyatakan keinginannya untuk menyelesaikan konflik dengan cepat sambil memberi tekanan ekonomi terhadap Iran.
Menteri Keuangan Scott Bessent menyebut strategi tersebut—yang dijuluki “Operation Economic Outcast” (Operasi Pengucilan Ekonomi)—sebagai alternatif bagi operasi militer berskala besar.
Juru bicara Gedung Putih, Olivia Wales, membela pendekatan pemerintah dengan mengatakan: “Presiden Trump telah menghancurkan kemampuan militer Iran dan melumpuhkan sisa-sisa ekonominya yang sangat buruk melalui blokade angkatan laut paling kuat dalam sejarah dunia serta sanksi yang sangat keras,” tambahnya.
“Hanya Presiden Trump yang tahu apa yang akan ia lakukan dan kapan.”
Blokade tak akan memberi hasil
Pakar masalah Iran, Suzanne Maloney dari Brookings Institution, mengatakan bahwa blokade tersebut kemungkinan besar tidak akan memberikan hasil yang menentukan dalam waktu dekat.
“Blokade angkatan laut AS kemungkinan besar tidak akan menghasilkan dampak yang menentukan dalam jangka pendek maupun menengah; jadi, satu-satunya penggunaan realistis dari langkah ini harus didasarkan pada rencana pengepungan jangka panjang,” ujarnya.
“Itu pun, peluang keberhasilannya masih diragukan, terutama karena adanya konsekuensi yang tidak terduga,” tambahnya.*




