Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Hamka: Hilang Belum Berganti

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 29 Januari 2010 18:15 6:15 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 29 Januari 2010 18:15
Bagikan
Bagikan

Oleh: Afriadi Sanusi*

“Hilang belum berganti”, itulah kalimat yang dapat kita ungkapkan terhadap pribadi Hamka. Kalimat itu diilhami dari sebuah lagu untuk mengenang kepergian P. Ramlee, seorang artis dan aktor Malaysia pada tahun 1950-an.

Sebuah seminar tentang Hamka baru-baru ini, tepatnya 25 Januari 2010 malam, diadakan di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), yang dibuka oleh YB Dato` Seri Utama Dr Rais Yatim, seorang Menteri di Malaysia dan dihadiri oleh berbagai ahli akademik dan tokoh lainnya.

Hamka adalah akronim namanya Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah. Lahir di kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 dan meninggal di Jakarta 24 Juli 1981. Ia seorang ulama, politikus, dan juga sastrawan masyhur Indonesia.

Tidak ada pendewaan, pengagungan terhadap Hamka dalam seminar itu. Semua berjalan realistis dan apa adanya. Rusdhi Hamka, Prof. Dr Yunahar Ilyas, Dr Mochtar Naim umpamanya, lebih banyak menyingkap sisi hidup beliau sebagai manusia biasa dan normal. “Hamka kecil seorang yang “nakal”, malas sekolah, dan sebagainya,” katanya.

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Namun menurut Dr Dato` Siddik Fadhil dari UKM, “tidak ada gunanya kita mengecil-ngecilkan orang besar dan membesar-besarkan orang kecil sebab itu hanya akan sia-sia saja, dan sememangnya Hamka adalah seorang tokoh besar yang menjadi kebanggaan orang Melayu.”

Kebesaran Hamka tidak membuat dia sombong dan ingin didewakan. Dia tidak suka orang mencium tangannya, meminum air sisanya, atau menjadikan air cuci kakinya sebagai ajimat, seperti yang sering berlaku pada sebagian orang, akibat belum habisnya pengaruh Siwa-Buddha di alam Nusantara ini. Bahkan dalam beberapa tulisannya Hamka sering mengatakan bahwa dia bukanlah manusia yang sempurna, tambah Mochtar Naim.

Hamka adalah simbol persatuan dunia Melayu yang identik dengan Islam, khususnya Indonesia, Singapura, Brunei, Malaysia. Baginya ukhuwah Islamiyah dan tali persaudaraan di atas segala-galanya. Kalau beliau masih hidup, pasti dia sangat marah di saat dua negara yang notabenenya serumpun, memiliki hubungan persaudaraan yang dekat, dan seagama ini, mau berperang dan berbunuh-bunuhan hanya karena masalah tari pendet dan perkara remeh temeh lainnya.

Hamka dianggap sebagai seorang tokoh pejuang Bahasa Melayu yang menjadikannya sebagai bahasa pengantar dan bahasa ilmu, seperti yang telah dilakukan oleh ilmuwan silam, seperti Syeikh Nuruddin Ar-Raniri, Hamzah Fansuri, Syamsuddin As-Sumatrani.

Bahasa Melayu dalam karya Hamka sangat tegas dan jelas, sehingga semua orang Melayu dapat memahami tulisannya. Ini tentu saja berlainan dengan ilmuwan saat ini yang menulis dalam bahasa Melayu Indonesia atau Malaysia yang hanya bisa dipahami oleh orang Malaysia saja atau oleh orang Indonesia saja.

Hamka lebih dikenal di Malaysia, Brunei, Singapura, dan dunia Islam lainnya, dibanding di Indonesia sendiri. Beliau adalah seorang yang kritis terhadap penguasa yang gagal dan zalim. Karya-karya beliau masih menjadi rujukan utama hingga saat ini.

Di masjid, surau, rumah, institusi pendidikan lainnya di Malaysia, kita akan dengan mudah menemukan buku beliau seperti “Tafsir al-Azhar”, “Tasauf Modern” atau novel “Dibawah Lindungan Ka’bah”, dan sebagainya. Bahkan seorang profesor senior di Universiti Malaya pernah mengatakan, “Walaupun sudah berpuluh kali membaca buku “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk”, namun saya masih ingin terus membaca, dan membacanya lagi.

Seorang Profesor lain di Universitas Malaya (UM) juga pernah mengatakan, “Saya banyak membaca buku karya Hamka, harapan saya suatu hari nanti bisa menulis sebuah novel sehebat Hamka, tetapi sampai saat ini saya belum mampu melakukannya.”

Sebuah museum Hamka yang memuat berbagai karya dan peninggalan Hamka dapat kita temui di Maninjau Sumatera Barat saat ini. Museum itu terletak di bibir Danau Maninjau yang nyaman, tenang, asri, dan damai, dengan pemandangan dan suasana perkampungan yang menyejukkan jiwa. Walaupun museum itu sederhana, namun saya sangat kagum saat berkunjung pada tahun 2008 lalu.

Namun perlu diingat bahwa di museum, kuburan Hamka, dan ayahnya Dr Abdul Karim Amrullah, tidak ada manusia yang datang berziarah berdoa meminta keberkatan, murah rezeki, dijauhkan dari penyakit, dapat jodoh, apalagi meminta nomor di kuburannya. Barang-barang peninggalannya juga tidak dijadikan ajimat yang diperebutkan dan dikeramatkan. Beliau hanya manusia biasa yang diberi kelebihan oleh Allah, itulah yang tergambar di dalam benak kita di waktu berkunjung ke sana.

Sekitar 300 buku telah beliau tulis dan “Tafsir al-Azhar” adalah karya agung beliau. Tulisannya selaju lidahnya, keras dan tegas. Kalau hitam, tidak dia katakan coklat dan sebagainya. Semua keberhasilan itu beliau hasilkan di balik berbagai tekanan dan keterbatasan keuangan lainnya.

Walaupun saat ini terdapat kemajuan bidang ilmu pengetahuan dengan berbagai kemudahan dari segi pendanaan dari Dikti, FRGS, dan berbagai program pendanaan penyelidikan lainnya, namun seorang pengkaji belum tentu bisa dikategorikan sebagai ahli dalam bidang yang dia kaji, walaupun anggaran pendidikan itu bermilyar-milyar rupiah jumlahnya.

Di zaman keemasannya dahulu, Islam tidak mengenal sistem dikotomi ilmu pengetahuan. Sejarah mencatatkan Ibn Rusyd, Ibn Sina, al-Farabi, Ibn Khaldun, al-Biruni, Muhammad ibn Abi Bakr al-Isfahani, Ibn Nafis, Imam Shuyuthi, dan sebagainya. Namun, mereka menguasai berbagai macam disiplin ilmu pengetahuan. Hamka adalah termasuk seorang ulama besar Indonesia yang menguasai multi disiplin ilmu pengetahuan, seperti bidang falsafah, sastra, sejarah, sosiologi, dan politik Islam serta Barat.

Inilah yang membuat kita berdecak kagum dengan Hamka serta mengharapkan lahirnya Hamka-Hamka baru yang mampu mewarnai dan mengubah zamannya dan ratusan tahun setelah kepergiannya. Semoga kehilangan Hamka segera mendapatkan ganti sebagai penerus cita-cita dan perjuangan beliau. Amin. [Kuala Lumpur, 25 Januari 2010/hidayatullah.com]

Afriadi Sanusi. Penulis adalah mahasiswa S3 bidang sains politik Islam, pengkaji produk halal Asia Tenggara di Universiti Malaya dan juga pengurus Muhammadiyah Malaysia

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Menggugurkan Janin Sebelum Peniupan Roh, Haram?
Tulisan selanjutnya “Begadang Jangan Begadang..”

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Berita
3 Juni 2026 16:00
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan

Terbaru

  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?