Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Yaman Menuju Situasi Sebelum 1990 (2)

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 20 Oktober 2014 13:09 1:09 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 20 Oktober 2014 13:20
Bagikan
Pemberontak Syiah al Hautsi di Yaman yang mengangkat senjata
Bagikan

Lanjutan artikel PERTAMA

Oleh: Musthafa Luthfi

Semakin dekat

Lengsernya rezim Saleh bukannya memunculkan pemerintahan baru yang kuat yang mendapat dukungan negara-negara Teluk yang tergabung dalam Dewan Kerjasama Teluk (GCC), akan tetapi sebaliknya membuka peluang gerakan separatisme mewujudkan impiannya untuk mengembalikan eksistensi negara Yaman Selatan. Impian itu pun semakin dekat setelah dalam dua pekan belakangan ini, milisi Syiah al-Hautsi atau Al Houthi yang sejak Saleh lengser mengusung nama “Ansharullah” hampir menguasai seluruh wilayah bagian utara Yaman.

Perluasan pendudukan Ansharullah praktis tidak menemui perlawanan berarti sehingga dengan mudah menguasai instalasi-instalasi vital pemerintah termasuk kamp-kamp militer sehingga saat tulisan ini dibuat tinggal daerah Taiz yang masih berada di bawah kontrol pemerintah. Taiz yang terletak berbatasan dengan Yaman Selatan pada masa kerajaan pernah menjadi ibu kota negara Yaman Utara.

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

Ailisi Ansharullah hampir dipastikan tidak akan menghadapi banyak kesulitan untuk menguasai daerah yang paling padat penduduknya di Yaman itu apalagi pemerintah transisi pimpinan Presiden Mansour Hadi semakin tidak berdaya. Seperti diketahui para elit Syiah (Hautsiyun) ditengarai ingin mengembalikan masa kepemimpinan dinasti kerajaan Syiah yang berkuasa di Yaman Utara sebelum berdirinya negara republik lewat revolusi menumbangkan dinasti Syiah tahun 1962.

Kekacauan bersenjata yang diciptakan Ansharullah yang mengarah ke perang saudara sektarian di wilayah utara Yaman, akhirnya mendorong gerakan Gerakan Selatan memanfaatkan situasi tersebut untuk semakin leluasa menyiapkan memisahkan diri. Dalih pemisahan diri sebelumnya tidak kuat dan belum mendapat dukungan 100 % warga selatan apalagi setelah dicapai kesepakatan negara federal awal tahun 2014 antara mayoritas elit politisi Yaman.

Sebelumnya, ketidakadilan pembagian hasil bumi, ketimpangan pembangunan utara-selatan dan dominasi utara atas pos-pos pemerintahan serta penguasaan bisnis migas menjadi alasan utama tututan pemisahan. Dengan tercapainya kesepakatan negara federasi, masalah tersebut dapat teratasi karena setiap wilayah mendapat hak otonomi mengurus hasil bumi masing-masing.

Aksi Ansharullah menguasai wilayah utara yang diluar kesepakatan dialog nasional akhirnya mencuatkan kembali kemerdekaan menjadi opsi utama selatan yang mendapat dukungan kuat warga selatan. “Situasi Yaman saat ini memberikan peluang besar dibandingkan waktu-waktu sebelumnya bagi elit selatan untuk mewujudkan kembali negara Yaman Selatan,” papar sejumlah pengamat.

Ansharullah yang mengontrol sebagian besar wilayah utara tidak begitu peduli dengan situasi di selatan karena target utamanya adalah mengembalikan masa keemasan mereka di utara sementara selatan diberikan peluang untuk memilih tetap bersatu dalam naungan negara federasi atau opsi merdeka. Dengan situasi yang semakin kacau di utara tentunya logis bila para pemimpin selatan lebih memilih opsi merdeka.

Terlebih lagi adanya kecurigaan banyak pihak yang menilai kontrol Ansharullah di utara yang dicapai dengan mudah tanpa perlawanan tentara pemerintah sebagai bukti nyata adanya konspirasi antara al-Houtsi dengan mantan Presiden Saleh. Para petinggi militer dan sebagian pasukan pemerintah yang masih loyal kepadanya dicurigai bersekutu dengan al-Houtsi untuk menghancurkan pemerintahan transisi.

Seperti diketahui meskipun Al-Hautsi dan Saleh berbeda platform politik dan idiologi namun memiliki kepentingan yang sama yakni menghalangi oposisi berkuasa di negeri itu. Persekutuan al-Hautsi-Saleh, ibarat malapetaka bagi rakyat Yaman termasuk warga selatan yang tentunya tidak ingin lagi dipimpin oleh kroni-kroni Saleh yang dibonceng al-Hautsi sehingga kemerdekaan menjadi opsi ideal bagi mereka.

Warga selatan juga nampaknya tidak ingin melihat wilayahnya sebagai lahan subur pengaruh Al-Qaidah akibat melemahnya kontrol pemerintahan pusat setelah hengkangnya mantan Presiden Saleh sehingga perlu diupayakan pemerintah yang kuat di selatan tanpa harus terus mengekor ke utara yang mengalami kekacauan menyeluruh. Kondisi seperti ini tentunya membuka jalan lebih lebar bagi kembalinya Yaman seperti sebelum tahun 1990 atau kembali menjadi dua negara.

Bukan solusi

Pada saat sebagian elit pemimpin selatan sudah bertekad untuk berpisah dengan dalih tidak ingin kekacauan besar di utara menjalar ke selatan timbul pula pertanyaan besar di kalangan rakyat apakah pemisahan kembali Yaman Utara dan Yaman Selatan sebagai solusi yang membawa perubahan lebih baik bagi mereka? Sebagian pihak masih meragukan bila “perceraian“ adalah solusi tepat.

Bahkan banyak kalangan yang menilai pemisahan kembali dua Yaman justeru akan menambah permasalahan di utara dan selatan secara bersamaan karena tidak ada kekuatan yang dominan yang dapat mengatasi konflik atau perseteruan bersenjata. Sejarah masa lalu sebelum unifikasi mungkin masih belum terlupakan saat kedua negara selalu terlibat konflik bersenjata yang menjadi penghambat utama pembangunan.

Di selatan sendiri hampir dipastikan akan terjadi pergulatan kekuasaan antara loyalis Ali Salim Al-Beidh dan elit lainnya yang berseteru dengannya yang menjadi penyebab kekalahan telak saat perang saudara tahun 1994 ketika mereka mendukung rezim Saleh. “Intinya dalam situasi saat ini, pemisahan bukan solusi tapi akan menambah kekacauan di utara dan selatan,” papar sebagian pengamat.*/bersambung Yaman, konflik internal dan intervensi asing

Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com, tinggal di Yaman

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:konfliksyiahyaman
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Tidak Hanya Jadi Imam Masjid, Hafidz Quran Juga Bisa Jadi Pengusaha
Tulisan selanjutnya Warga Saudi yang Pelesir ke Luar Negeri akan Berlipat 6 Ditahun 2030

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MTQ Nasional 2026 di Semarang Siap Jadi Panggung Syiar Islam dan Budaya Nusantara

Berita
30 Juni 2026 16:06
Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu
Jeritan Seorang Homoseksual dan Solusi Drs. Faruq Nasution
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Ngaku Bisa Terbang, Pendeta Hindu di India Tewas Usai Terjatuh dari Bukit

Terbaru

  • Membangun Peradaban dari Rumah: Ketahanan Keluarga sebagai Jalan Kebangkitan Umat
  • Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
  • MUI Perjuangkan Akses Hunian Layak bagi Dai dan Guru Ngaji
  • Tangis Perempuan Guangzhou: Ketika Pasar Jodoh China jadi Cermin Krisis Sosial
  • Jeritan Seorang Homoseksual dan Solusi Drs. Faruq Nasution
  • Dua Anggota Garda Revolusi Iran Ditembak Mati dekat Kurdistan
  • Ngaku Bisa Terbang, Pendeta Hindu di India Tewas Usai Terjatuh dari Bukit
  • Dari Ateis jadi Muslim: Perjalanan Simon Wallgren Menemukan Cahaya Islam
  • Ketua Umum MUI Dorong Pemerintah Tiru Rusia Tetapkan Gerakan LGBT Teroris
  • Ketika Penghuni Muslim Terancam Ulah Tetangga

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?