Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Jendela Keluarga

Untuk Apa Di Rumah, Bila Tanpa Ilmu

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 21 Februari 2012 09:14 9:14 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 21 Februari 2012 09:14
Bagikan
Bagikan

DI AWAL PERNIKAHAN, banyak suami-suami yang meminta istrinya untuk tetap tinggal di rumah atau maksimal tetap bekerja di luar rumah hingga mereka dikaruniai anak. Tak jarang, kesadaran sang istri juga mendorong mereka kembali ke rumah dan meninggalkan aktivitas mereka di ranah publik.

Kesadaran ini sungguh mulia, apalagi jika mengingat peran sentral seorang wanita sebagai ibu yang nantinya akan mengasuh anak-anak. Tentu bukan sebuah pemahaman yang baru bahwa anak tak hanya memerlukan terpenuhinya kebutuhan materi, tetapi juga kebutuhan psikis.

Namun, ada sesuatu yang terlupakan saat sang suami meminta istri kembali “pulang” ke rumah atau ketika si istri dengan kesadaran penuh meninggalkan ranah publik untuk berjibaku penuh dalam ranah domestik. Benarkah kedua belah pihak sudah siap dengan konsekuensi bila seorang istri benar-benar hanya berada di rumah?

Rumah vs Bahagia

Banyak orang yang melupakan bahwa ibu, istri, perempuan, tetap adalah manusia yang juga butuh ruang untuk mengaktulisasikan kemampuan mereka. Tentunya, setiap perempuan punya keinginan untuk bisa melakukan hal yang bermanfaat bagi banyak orang, punya teman-teman diskusi, dan jika memungkinkan, punya sedikit penghasilan dari jerih payahnya sendiri. Walaupun ini bukan berarti seorang perempuan akan meninggalkan tugas mulianya sebagai seorang kreator peradaban umat melalui pengasuhan terhadap anak-anaknya.

Baca Juga

Anak Saleh Buah dari Kesalehan Orang Tua?
Muharram, Momen Terbaik Menjadi Ibu Terbaik
Kecantikan Muslimah Sejati
Sebab-sebab Durhaka Istri kepada Suami
Anak Shalih dan Shalihah Takdir Allah, Kita Terus Berusaha

Pemahaman akan kebutuhan untuk berkarya, mengaktualisasikan diri, dan memiliki teman berdiskusi inilah yang seringkali terpendam, dalam pemahaman bahwa wanita harus diam di rumah. Bagaimana dengan wanita yang terbiasa aktif dengan sejumlah kegiatan di kantor atau organisasi kemanusiaan?

Banyak wanita-wanita yang memiliki latar belakang seperti ini akhirnya merasa “banyak tertinggal” saat mereka kemudian seutuhnya berada di rumah. Seperti pengakuan seorang ibu yang terpublikasikan di sebuah situs Islam, “Satu bulan yang lalu, saya memutuskan kembali berkerja meskipun dengan sistem kontrak. Banyak yang bilang terutama keluarga dan teman dekat, saya kelihatan lebih cerah, powerful, dan bahagia. Tetapi pada saat bekerja, pikiran saya jadi bercabang kembali, apakah tidak lebih baik sebagai seorang ibu harus lebih mementingkan keluarga dan anak? Namun, disatu pihak sepertinya saya kurang bahagia jika tinggal di rumah.”

Apa yang membuat mereka merasa kurang berbahagia saat berada di rumah? Apakah semata hanya karena pemahaman mereka tentang tugas mulia yang mereka emban masih rendah? Tentunya tidak. Banyak faktor yang harus diperhatikan ketika hendak menyimpulkan penyebab ketidakbahagiaan ini.

Peduli pada Keinginan

Kini mari sejenak mengingat, pernahkah ada pembicaraan antara suami dan istri tentang apa yang bisa dinikmati seorang istri, saat waktunya mutlak di rumah? Sekali lagi, dinikmati, bukan dikerjakan oleh istri. Si istri merasa bahagia dengan totalitasnya di rumah. Juga, pernahkah terbahas, hal-hal menarik apa yang bisa dilakukan seorang istri dalam mengisi waktunya bersama anak-anak? Atau yang ada, cuma pembicaraan tentang sederet daftar pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, agar rumah rapih dan penghuninya merasa betah tinggal di rumah?

Bila pembicaraan ini belum pernah ada atau pernah ada tapi tak pernah direalisasikan, tentu tak aneh bila seorang istri merasa menjadi “korban dari sebuah kewajiban”. Padahal, tentu akan jadi hal yang menyenangkan bila seorang suami dapat memahami perasaan istrinya. Sangat indah rasanya bila seorang suami dapat mengetahui apa yang membuat istrinya bahagia dan bersemangat setiap waktu. Dan, akan semakin berkesan di hati, bila seorang suami, selain menuntut seorang istri melakukan dengan baik tugas-tugasnya di rumah, juga memenuhi keinginan-keinginan istrinya. Baik keinginan untuk maju, berkembang, bersosialisasi, maupun keinginan untuk mengabdikan potensi yang dimiliki sang istri untuk kemajuan Islam.

Sebuah sikap yang bijak manakala seorang suami menawarkan atau bahkan memerintahkan pada istri-istrinya untuk belajar menguasai keterampilan tertentu yang disukai oleh istrinya, membiarkan istrinya berkarya, dan memiliki waktu yang luas untuk bisa menghadiri pertemuan-pertemuan yang bermanfaat; demi untuk bersama-sama berjuang di jalan Allah?

Tentu seorang istri akan berbunga-bunga hatinya bila suaminya dengan penuh kasih menawarkan padanya untuk mengikuti kursus merias pengantin yang sudah lama didambakannya misalnya. Juga, hati seorang istri akan sangat berbahagia bila suami sepulang bekerja, dengan senyum yang tulus menyodorkan formulir pendaftaran untuk mengikuti lomba penulisan novel di sebuah majalah wanita, atau dengan sepenuh kasih menawarkan diri menemani sang istri mengikuti workshop seputar masalah kecerdasan anak.

Mempersiapkan Generasi Unggul

Intinya, sudah sejauh mana suami dan istri telah saling memahami dan mempersiapkan apa yang akan dilakukan seorang istri ketika ia total “bertugas” di rumah. Sudahkah si istri memiliki keterampilan untuk mengisi hari-harinya? Sudahkah ia juga memiliki keterampilan ketika mengurus dan mengurus si buah hati? Tentu akan jadi sebuah kesia-siaan manakala si ibu berada di samping anak tetapi tidak memiliki ilmu yang cukup untuk mempersiapkan fisik dan mental seorang anak tumbuh dengan baik.

Sejatinya, pengetahuan- pengetahuan seperti inilah yang seharusnya dimiliki seorang istri sebelum dia benar-benar berkiprah di rumah. Sehingga profesi ibu rumah tangga tak lagi identik dengan ketidakproduktifan dan ketertinggalan. Bila seorang ibu rumah tangga kerjanya hanya menonton sinetron setelah selesai mengerjakan tugas rumah atau gaptek (gagap teknologi) saat harus mengoperasikan sebuah perangkat elektronik, maka sebaiknya jangan menyalahkannya semata. Ini semua tentu bukan terjadi dengan sendirinya.

Yang lebih menyedihkan bila kaum wanita sendiri yang memaklumkan diri dengan mengatakan, “ Yaaa…maklumlah ibu rumah tangga, sehari-hari hanya mengurus anak.”

Bila seorang istri, apalagi seorang ibu sampai berkata demikian, sesungguhnya tugas mulia sebagai seorang kreator peradaban umat sudah gagal. Sebab, sangat mustahil seorang kreator bisa menciptakan generasi tangguh yang unggul, bila ia pun bukan seorang kreator yang unggul. Jika seorang istri atau ibu sudah memaklumkan ini pada dirinya sendiri, maka mustahil peradaban Islam yang berjaya akan segera hadir di depan mata.

Generasi unggul di kemudian hari hanya bisa hadir dari sepasang orangtua yang visioner, yang memiliki visi jauh kedepan untuk menyongsong peradaban Islam yang gilang-gemilang. Tak akan mungkin generasi ini muncul dari seorang suami dan ayah yang hanya berpikir bahwa sang istri atau sang ibu, hanya harus berada di rumah. Tanpa membekali pasangannya agar mumpuni melaksanakan tugasnya dan menghasilkan karya terbaik seorang perempuan, yaitu anak-anak yang shaleh dan shalehah.

Sebab itu, inilah saatnya untuk sama-sama meningkatkan kualitas pribadi. Bila kita semua sepakat bahwa kewajiban utama para istri dan ibu adalah di rumah, mengasuh dan merawat keluarga, maka inilah saatnya bagi para suami untuk meng-up grade kemampuan istri dengan berbagai macam pengetahuan dan keterampilan, hingga sang istri pun akan bisa memanfaatkan waktu mereka sebaik-baiknya di rumah. Hingga sabda Rasulullah bahwa “Surga itu ada di bawah telapak kaki ibu.” (Riwayat Muslim) benar-benar tercipta dari ketangguhan pribadi seorang wanita yang akan senantiasa menghiasi rumah dengan ilmu dan cinta.*/Kartika Trimarti

foto: sakinah-ol

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Launcing Wakaf Seribu Al-Qur’an di Kudus dan Pekan Baru
Tulisan selanjutnya Menghatamkan Kitab 500 Kali

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Berita
4 Juni 2026 11:00
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas

Terbaru

  • Laporan: Eurovision Kehilangan 35 Juta Penonton Setelah Israel Tetap Diizinkan Tampil
  • 123 Santri Ar-Rohmah Putri Diterima PTN Jalur SNBP dan SNBT, Terbanyak di Malang
  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas

Mungkin Anda Juga Suka

5 Tips Mendidik Anak agar Cinta Ramadhan
Jendela Keluarga

Sudahkah Anak Kita Diajarkan Akidah?

3 Desember 2022 20:55
Jendela Keluarga

Menjadi Ayah yang “Mesra” dengan Anak

26 November 2022 07:10
Jendela Keluarga

Akhlak Muslimah, Lembutlah dalam Bicara

8 November 2022 21:45
Jendela Keluarga

Hakikat Wanita Shalihah

4 November 2022 10:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?