Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Feature

“Orang Bilang, Ayah Teroris”

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 12 September 2005 01:52
Bagikan
Bagikan

Selasa, 13 September 2005

“Abi ada urusan dengan polisi. Kenapa di Bali?

Sebab urusannya di Bali.

Bila polisi nak kembalikan Abi?

Bila urusannya selesai, insya Allah.

Baca Juga

Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
Tangis Perempuan Guangzhou: Ketika Pasar Jodoh China jadi Cermin Krisis Sosial
Dari Ateis jadi Muslim: Perjalanan Simon Wallgren Menemukan Cahaya Islam
Ketika Penghuni Muslim Terancam Ulah Tetangga
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

Bila selesai?

Tak tahu. Kena tanya pak Dai Bakhtiar.

Siapa pak Dai Bakhtiar?

Kepala Polisi Republik Indonesia

Boleh Ummi?

Boleh. Dia baik. Nanti dia jawab kalau ditanya.”

 

Kutipan di atas adalah sekelumit cerita dialog antara Paridah Abas, istri terdakwah bom Bali, Imam Mukhlas dengan salah satu buah hati mereka.

Dialog yang menyentuh hati itu, hanya ada di buku terbaru Paridah berjudul: “Orang Bilang, Ayah Teroris.” Buku buah karya wanita kelahiran Singapura 30 September 1970 ini, kemudian diterbitkan oleh Penerbit Jazera, Solo.

Buku setebal 264 hal berukuran 13,5 x 20,5 cm. mengisahkan perjalanan hidup ibu enam anak itu semenjak suaminya tersangkut kasus Bom Bali.

Paridah Abas, begitu nama lengkapnya, mungkin masih asing bagi telinga kita. Namun tidak demikian bila kita mendengar nama suaminya, Ali Ghufron alias Mukhlas, satu dari tiga orang yang divonis mati oleh Pengadilan Negeri Bali, dalam kasus Bom Bali, selain Imam Samudra dan Amrozi.

Paridah pernah menghiasi pemberitaan di media massa Indonesia. Pasca sang suami diputuskan dihukum mati karena bom Bali, ia juga terseret-seret hukum dan diduga melanggar keimigrasian.

Bersama, anak-anaknya, Paridah kini tinggal di Malaysia. Di kawasan Ulu Tiram, Sungai Tiram, Johor Bahru, Malaysia. Sekitar 300 km arah selatan Kuala Lumpur. Nyaris berada di perbatasan Malaysia-Singapura.

Sehari-hari, Paridah menyibukkan diri anak-anaknya. Selain itu, dia mengajar di Tadika (di Indonesia TK) tak jauh dari rumahnya. Usamah Ali Ghufran, anak terakghirnya, lahir tanpa didampingi ayahnya. Kisah tentang Usamah itu ia tulis di bukunya.
Kisah-kisah lain pertanyaan anak-anaknya perihal berbagai pandangan masyarakat seputar sang ayah, juga ia torehkan dalam bukunya itu. Mungkin karena itulah buku tersebut diberi judul, “Orang Bilang, Ayah Teroris.”

Buku-buku seputar peristiwa Bom Bali barangkali sudah terlalu banyak. Apalagi jika sang penulis itu bertindak sebagai sang analis. Buku Paridah ini sangat unik.

Dia menceritakan kejujuran sebuah keluarga yang kesepian ditinggal suami tercinta. Sebuah keluarga, di mana,  Paridah sekarang menjadi single parent, meski orang lain mencibirnya.

Semenjak suaminya ditangkap, Paridah praktis hidup sendiri. Ia juga kerap harus berurusan dengan aparat. Paspornya raib, seiring dengan “hilangnya” sang suami.

Dalam bukunya, “Orang Bilang, Ayah Teroris”, ia ceritakan suka-duka sebagai ibu dan suami yang dianggap polisi bersalah.

Tunduk ilmu

Cerita mengharu-biru seputar perjalanan Paridah hingga mengenal Imam Mukhlas alias Ghufron di Malaysia juga terekam bagus.

Bagaimana ketika itu, dengan modal US$100, sepulang dari sekolah di Pakistan, hasil ganti rugi barangnya yang hilang di pesawat, saat ia melamar gadis cerdas berumur 20 Tahun atas saran ayah si gadis.

Awalnya, gadis cerdas; berwatak keras; dan hanya tunduk dengan ilmu itu ragu bersuamikan orang desa dari negeri pengekspor TKI.  Karenanya, ia harus bersuamikan orang yang memiliki ilmu

Yang lebih berat bagi Ghufron, dia dilarang melihat calon istrinya sebelum terjadi ijab-kabul. Dan ajaibnya, Saat mendengar ijab-qabul, cinta istri seketika bersemi.

Di bawah Ghufron, Paridah akhirnya benar-benar tunduk. Semenjak menikah, pria Lamongan itu mengurung diri untuk mentarbiyah “santriwati” baru itu selama sebulan. Ia menerapkan tarbiyah pada banyak aspek; fikriyyah, ruhiyyah, diniyyah. Juga tentanga pelajaran akidah, ibadah dan minhajul hayah.

Transfer “energi” yang berlangsung cepat itu membuat wanita penggemar tulisan A. Hassan (Persis) itu lebih memahami arah dan tujuan hidup sang suami, termasuk segala risikonya.

Ia menjadi lebih memahami hak dan kewajibannya; kapan harus bersikap mendengar dan taat; kapan harus bermusyawarah; apa rahasia yang ia boleh tahu dan tidak boleh tahu; kapan ia boleh menahan kepergian suami yang juga ia sebut sebagai gurunya itu.

Dan kapan mesti merelakan; sahabat suami yang mana yang mesti ia tahu dan mana yang tidak mesti tahu; kapan boleh menyatakan ketidaksukaan kepada suami; kapan ia boleh menuntut suami; dan kapan harus bersabar.

“Ternyata suamiku bukan sembarang manusia. Ia mempunyai arah, tujuan, dan cita-cita yang sangat mulia. Ternyata suamiku bukan sekadar binatang ternak berdasi, yang kerjanya hanya menghabiskan nasi dan mengumbar nafsu birahi, ” ujar Paridah.

Menurut Direktur Jazeera, Bambang Sukirno, membaca pergulatan pemikiran Paridah, tak lepas dari shibghah (celupan) seorang Ali Ghufron yang telah berjaya membangun bahtera rumah tangga selama dua belas tahun.

“Anak dan istrinya (Paridah) adalah contoh sebuah “produk” yang ia siapkan jauh-jauh hari. Sebuah ideologi perjuangan, apapun namanya, “ ujar Bambang.

Menurut penulis buku-buku ‘best seller’, pemerhati pendidikan anak, Muhammad Fauzil Adhim, buku yang ditulis dengan ketulusan seorang ibu yang tahu bagaimana memaknai hidup. “Siapapun yang membaca tanpa prasangka, Insya Allah akan mendapat banyak pelajaran. Kecuali kalau nurani kita telah mati dan hati kita telah keruh, “ujar Fauzil.

Kepada sebuah media masaa Indonesia, ia pernah menjelaskan prihal motivasinya menulis buku itu dan bukan untuk mencari uang. Menurutnya, ia menulis, sekadar kenangan bagi dirinya dan keenam anak-anaknya.

Sebab, sejak bom Bali meledak pada 2002, peristiwa-peristiwa yang dialaminya begitu berat. Hanya dalam sekejap –dia mengistilahkan sekelip mata– nasibnya, termasuk hubungan suami istri dengan Ustad Mukhlas, berantakan.

”Mudah-mudahan itu bisa menjadi motivasi bagi istri dan keluarga yang bernasib sama seperti saya. Sebab, masih banyak istri yang mungkin suaminya ditahan atau pergi karena takut ditahan dan tak pulang,” ungkapnya pada Padang Ekspres.com.

Pada akhirnya, sebuah tekad untuk berbagi dan menyampaikan hal yang diyakini benar, membuat seseorang bisa menulis. Begitulah Ibu Paridah mengajarkan pada kita, lewat penerbitan bukunnya. (cha/bs/Hidayatullah.com)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Takut Menerapkan Hukum Islam
Tulisan selanjutnya 21 Tahun Tragedi Tanjung Priok

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

AS Lancarkan Gelombang Serangan ke Iran, Ledakan Terdengar di Sejumlah Kota

Berita
21 Juli 2026 10:00
Empat Negara Islam Sepakat Hidupkan Kembali Jalur Kereta Hijaz Warisan Utsmaniyyah
Pena Muballigh Menentukan Masa Depan Peradaban Islam
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’

Terbaru

  • Buya Amirsyah Ajak Seniman Muslim Bangun Peradaban Bangsa Melalui Kebudayaan Islam
  • AS Lancarkan Gelombang Serangan ke Iran, Ledakan Terdengar di Sejumlah Kota
  • Empat Negara Islam Sepakat Hidupkan Kembali Jalur Kereta Hijaz Warisan Utsmaniyyah
  • Pena Muballigh Menentukan Masa Depan Peradaban Islam
  • Kelompok Houthi Nyatakan Blokade Laut terhadap Arab Saudi
  • SPI Himpun Lembaga Dakwah Perkuat Bela Palestina
  • Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’
  • Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
  • Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
  • Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza

Mungkin Anda Juga Suka

Feature

Karena Politik Penjaga Sapi, Peternak Menangis Pasar Sepi

27 Mei 2026 07:57
Feature

Niat Ajak Teman Kembali Kristen, Pemuda Ini Justru Temukan Hidayah dan Masuk Islam

30 April 2026 14:00
Feature

Jawad Pulang dengan Luka Siksaan ‘Israel’

26 Maret 2026 07:50
Feature

Dapur Tak Pernah Padam: 224 Tahun Memberi Makan Fakir dan Musafir

20 Maret 2026 10:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?