Senin, 3 Oktober 2005
Hidayatullah.com–Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menyerukan kepada warga masyarakat, khususnya media massa Indonesia untuk menghentikan spekulasi yang mengkaitkan peristiwa peledakan Bali II 1 Oktober 2005 kemarin dengan menyebut kelompok tertentu. Menurutnya, disamping spekulasi itu amat terburu-buru juga akan semakin memperkeruh keadaan.
HTI juga mengajak kepada semua lapisan masyarakat agar tidak meniru Perdana Menteri (PM) Australia, John Howard yang sudah secara terburu-buru menuduh Jamaah Islamiah (JI). “Kita jangan mengikuti apa yang dikatakan John Howard yang sudah buru-buru menuduh JI,” ujarnya kepada sejumlah wartawan.
Karena itu menurut HTI, persoalan ini lebih baik diserahkan pada pihak keamanan untuk menangkap pelaku sekalian membuka motifnya.
Lebih jauh, HTI juga menyampaikan, syariat Islam melarang siapapun (muslim atau non-muslim) membunuh tanpa hak milik. Juga melarang merusak milik pribadi atau umum dan menimbulkan ketakutan yang luar biasa pada masyakat. “Karena itu tidak sesuai dengan syariat Islam, “ ujar Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia, Ismail Yusanto kepada para wartawan di Jakarta, Ahad, (2/10) kemarin.
Sebagaimana telah diberitakan, meski aparat keamanan masih sedang bekerja keras untuk mencari motif Bom Bali II, yang terjadi Sabtu 1 Oktober 2005 lalu, PM Australia, John Howard sudah secara langsung menyebut pelakunya adalah Jamaah Islamiah (JI).
Bagaimanapun, penyebutan terburu-buru itu bisa menimbulkan spekulasi baik bagi kelompok lain. Namun pernyataan PM Australia seperti itu bukanlah hal baru. Sebelumnya, setiap kali adanya ledakan yang terjadi di Indonesia, negara ini langsung saja menuduh kelompok Islam. (cha)