Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Feature

Frustasi, Wanita Afghanistan Pilih Bakar Diri

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 15 Maret 2010 14:14
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Dengan sedikit riasan yang tersisa di sekitar matanya, Rahma terbaring di tempat tidur Rumah Sakit Pusat Herat, Afghanistan. Bagian tubuhnya yang lain hampir tidak menampakkan sama sekali bahwa ia adalah seorang perempuan belia.

Usia Rahma baru 16 tahun, tapi statusnya sudah menikah. Ia meninggal setelah membakar dirinya sendiri.

Suara ribut yang diiringi tangis terdengar di luar ruangan, ketika sanak saudara Rahma bersitegang dengan keluarga besar suaminya.

“Lebih dari 90 persen kasus pembakaran diri, menghanguskan 50% lebih bagian tubuh mereka,” Dr. Muhammad Aref Jalali menjelaskan.

Sejak jatuhnya kekuasaan Taliban di Herat, kasus pembakaran diri menjadi sebuah fenomena yang kerap terjadi. Para wanita dan anak gadis menyiram tubuh mereka dengan minyak lalu membakarnya, sebagai bentuk protes atau frustasi akibat persoalan-persoalan dalam keluarga.

Baca Juga

10 Ribu Porsi Bakso untuk Ukhuwah di Muktamar NU
Kisah Mualaf Big Frank, Influencer Penuh Tato asal Inggris
Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
Tangis Perempuan Guangzhou: Ketika Pasar Jodoh China jadi Cermin Krisis Sosial
Dari Ateis jadi Muslim: Perjalanan Simon Wallgren Menemukan Cahaya Islam

Fenomena serupa juga mulai tampak pada laki-laki, meskipun jumlahnya masih relatif kecil.

Dalam satu tahun terakhir, rumah sakit di ibukota propinsi Herat mencatat ada 52 kasus pembakaran diri yang dilakukan oleh wanita. 47 orang dari mereka menemui ajal. Sementara satu orang dari lima kasus yang terjadi pada pria, masih bisa diselamatkan.

Pada saat mayat Rahma yang hangus terbakar terbaring dalam balutan perban, Dr. Jalali sedang menangani pasien-pasien wanita lain yang juga telah melakukan tindakan serupa.

Shrin Gul, perempuan muda berusia 16 tahun yang telah menjadi ibu, mengalami luka bakar 30% di tubuhnya.

Seorang wanita lain, wajah, leher, dada, perut, tangan kanan dan kirinya terbakar. Dia bilang hal itu terjadi karena kecelakaan. Tapi menurut Dr. Jalali, wanita itu sengaja menyulut api ke tubuhnya. Wanita itu mengatakan, lengan kirinya yang patah adalah luka lama. Namun dokter yakin itu adalah luka baru, yang kemungkinan disebabkan oleh suaminya.

Herat terletak di Afghanistan sebelah barat. Posisinya yang dekat dengan Iran, mempengaruhi perubahan drastis pada daerah itu sejak tahun 2001. Bekas pengungsi yang pernah merasakan budaya yang lebih terbuka di luar perbatasan, dinilai menuntut lebih banyak kebebasan ketika mereka kembali ke negaranya.

Mereka lebih banyak menuntut hak-haknya sebagai manusia. Musik, televisi, dan pakaian asing menjadi kebutuhan dasar, seakan menjadi banjir yang menyerang masyarakat lokal, yang hidup dalam budaya tradisonal dan relatif sederhana. Hal ini diperparah dengan serbuan pasukan asing dibawah komando Amerika Serikat.

“Zaman sekarang perempuan lebih pandai dibanding dulu, dan mereka berjuang melawan sebagian tradisi dan budaya yang ada,” kata Sorya Baligh, seorang penasihat bagian hukum di kantor Urusan Wanita Provinsi Herat.

Baligh sekarang menangani 4-6 kasus perceraian setiap minggunya, jumlah yang tidak pernah terjadi beberapa tahun lalu. Bahkan ketika ia sedang bicara, datang Azaro. Wanita berusia 17 tahun itu menuntut cerai. Ia ingin meninggalkan suaminya, karena baru mengetahui kalau pria itu sebelumnya pernah menikah, dan iparnya memukuli dirinya.

“Mereka punya dua pilihan, bunuh saya atau ceraikan saya,” ujar Azaro.

Berbeda dengan sebagian orang di Herat lainnya, Baligh yakin ketegangan budaya yang terjadi di wilayah itu menandakan bahwa segala sesuatunya berjalan sebagaimana mestinya. Menurut hematnya, tidak semua perubahan akan berakibat baik.

Berdasarkan catatan Baligh, kasus pembakaran diri pertama yang terjadi di Herat disebabkan oleh hal sepele. Si pengantin wanita tidak bahagia, karena pasangannya tidak bisa menyelenggarakan pesta perkawinan yang mewah dan meriah sebagaimana yang diinginkannya.

“Dalam masa 30 tahun perang, para pengungsi di negara-negara tetangga meniru kebudayaan di sana dan membawanya masuk ke sini.”

“Namun, masyarakat kami tidaklah sebebas itu. Tidak mungkin bagi gadis-gadis di sini memiliki kehidupan yang sama seperti kehidupan gadis di Iran. Hal ini menciptakan masalah dalam keluarga.”

Meskipun Herat bukanlah satu-satunya wilayah Afghanistan yang mengalami kasus itu, sepertinya di dalam masyarakat secara umum memang terjadi pergesekan antara budaya lama dan baru.

Maria Bashir adalah kepala penuntut di provinsi Herat. Dengan bangga ia mengatakan bahwa dirinya adalah wanita Afghanistan pertama yang menduduki jabatan itu. Ia telah mendapatkan banyak ancaman akibat pekerjaannya, dan selamat dari percobaan pembunuhan.

Setelah mendengar terjadi lagi penganiayaan suami terhadap istri, Bashir membeberkan sederet daftar kasus yang menyeramkan.

“Saya pernah melihat seorang wanita yang hidung dan kupingnya dipotong oleh suaminya. Wanita yang dicukur gundul oleh suaminya agar tidak keluar rumah. Wanita yang dipukul dengan panci berat sampai kupingnya masuk ke tulang kepala. Dan wanita yang dipukuli dengan sekop,” papar Bashir.

Menurut Bashir, sementara kemajuan telah dicapai, perjuangan untuk membela hak-hak kaum wanita Afghanistan paling tidak membutuhkan waktu 20 tahun lagi.

“Para pemimpin politik yang berteriak-teriak tentang demokrasi belum siap menerapkan demokrasi atas wanita-wanita mereka sendiri.”

“Para wanita mereka hanya tinggal di rumah. Mereka hanya menginginkan demokrasi buat wanita tetangganya.” [di/tnae/hidayatullah.com]

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Dzikir Juga Thibbun Nabawi
Tulisan selanjutnya PKS Dukung Kehadiran Obama ke Indonesia

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Siti Hasmah Mohamad Ali, Istri Mahathir Mohamad Wafat di Usia 100

Berita
28 September 2026 16:29
Saudi Jatuhkan 2 Drone dan 2 Misil Houthi
Wajib Halal Oktober 2026, Pemerintah Kedepankan Pembinaan
MUI Dorong Percepatan Sertifikasi Halal Program MBG
Patuhi Sanksi Amerika, UEA Larang Penerbangan Iran

Terbaru

  • Ubah Tradisi, Rektor UNIDA Gontor Ajak Dosen Jadi Magnet Keilmuan Mahasiswa karena Kepakarannya
  • UNIDA Gontor Kukuhkan 4 Guru Besar Baru, Dorong Tradisi Kepakaran Keilmuan
  • Jadi Beban dan Masalah, Malaysia Repatriasi Ribuan Pengungsi dan Migran Myanmar
  • Negara Bagian California Tetapkan Idul Fitri dan Idul Adha sebagai Hari Libur Resmi
  • Menolak Digaji Negara: Kisah Para Hakim Teladan dalam Sejarah Peradaban Islam
  • Teladan Umar bin Khattab Ra. dalam Mengatasi Problem Gratifikasi
  • Siti Hasmah Mohamad Ali, Istri Mahathir Mohamad Wafat di Usia 100
  • Timnas Irlandia Tolak Jabat Tangan dengan ‘Israel’ sebelum Libas Tiga Gol Tanpa Balas
  • Iran Klaim Tangkap Drone Bawah Laut Amerika di Selat Hormuz
  • Warga Maroko di Belasan Kota Gelar Demo Tolak Normalisasi Pemerintahnya dengan ‘Israel’

Mungkin Anda Juga Suka

Feature

Ketika Penghuni Muslim Terancam Ulah Tetangga

30 Juni 2026 16:15
Feature

Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

30 Mei 2026 17:30
Feature

Karena Politik Penjaga Sapi, Peternak Menangis Pasar Sepi

27 Mei 2026 07:57
Feature

Niat Ajak Teman Kembali Kristen, Pemuda Ini Justru Temukan Hidayah dan Masuk Islam

30 April 2026 14:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?