Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Berabad-abad Vakum, Madrasah Syafi’iyah Masjid Sultan Hasan Aktif Kembali

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 21 Desember 2014 21:32 9:32 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 22 Desember 2014 07:41
Bagikan
Diperkirakan usia masjid terbesar di Mesir ini sudah mencapai 600 tahun
Bagikan

Hidayatullah.com—Hari Kamis (20/11/2014) pagi, ratusan pelajar Al Azhar dari berbagai belahan dunia memenuhi Masjid Sultan Hasan. Nampak pelajar dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Rusia, Afrika, Turki, semuanya berkumpul di bawah naungan ilmu.

Cuaca musim dingin yang mulai menyergap Kairo seolah-olah tak mengurangi energi dan semangat membara yang tampak dari wajah dan gelagat mereka. Bagaimana tidak, mereka ingin menjadi saksi sejarah pembukaan kembali Madrasah Syafi’iyah yang sudah berabad-abad vakum dari dunia turats (kitab klasik).

Adalah Syeikh Hisyam Kamil Al Azhari, sosok yang sudah sangat familiar di kalangan pelajar Al Azhar, orang yang sangat ditunggu-tunggu hari itu.

Ya, beliau akan menjadi tokoh sentral dalam penghidupan kembali tradisi belajar mengajar ilmu agama di Madrasah Syafi’iyah tersebut. Beliau akan memulai pembacaan Kitab Tafsir Jalalain, karya dua ulama besar, Jalaluddin Al Mahalli dan Jalaluddin Al Suyuthi.

Ketika sosok yang dinanti tersebut tiba, ratusan hadirin berdiri untuk menyambut dan menghormati kedatangannya. Hal seperti ini adalah pemandangan biasa disaksikan di kalangan Azhariyyin (pelajar Al Azhar). Karena ada slogan yang selalu dipegang oleh santri Al Azhar “Al Adabu Qabla al Ilmi” (sebelum berilmu, beradablah terlebih dahulu).

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Syeikh Hisyam Kamil memulai mukadimahnya dengan mengirimkan bacaan Al Fatihah kepada guru-guru beliau dan para ulama terdahulu yang pernah mengajar di Madrasah Syafi’iyah. Syeikh Hisyam mengutarakan alasan beliau memilih membaca kitab Tafsir Jalalain.

“Tafsir ini sangat cocok untuk pemula. Imam Jalaluddin Al Mahalli dan Jalaluddin Al Suyuthi keduanya dulu bermukim di Kairo dan keduanya adalah ulama besar Al Azhar. Mereka berdua mengikuti mazhab Imam Syafii. Oleh karenanya dalam menghidupkan kembali madrasah ini, kita akan membaca kitab tafsir mereka,” tegas Syeikh Hisyam hari itu.

Syeikh Hisyam menceritakan biografi singkat dua ulama pengarang tafsir agung tersebut dan proses penulisannya.

“Imam al Mahalli memulai tafsirnya dari surat Al Kahfi sampai surat Al Naas. Ketika beliau menafsirkan surat Al Fatihah, beliau dipanggil oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Setelah beberapa tahun, masyarakat waktu itu meminta Imam Al Suyuthi untuk menyempurnakan tafsir tersebut agar tidak hilang, mulailah Al Suyuthi menyempurnakan tafsir gurunya tersebut,” demikian kisah Syeikh Hisyam.

Tafsir Jalalain walaupun dikarang oleh dua ulama beda generasi, tapi metodologi dan kualitasnya sama, seolah-olah penulisnya hanya satu. Ini merupakan keistimewaan tersendiri bagi tafsir ini.

Diceritakan juga oleh Syeikh Hisyam bahwa saudara Imam Al Mahalli, Kamaluddin, suatu ketika pernah bermimpi bertemu dengan Imam Al Mahalli dan juga Imam Al Suyuthi. Kemudian beliau bertanya kepada Al Mahalli, “Manakah yang lebih bagus dari tafsir (Jalalain) itu, yang anda mulai atau yang beliau (Al Suyuthi) sempurnakan?” Imam Al Mahalli hanya tersenyum senang. Lalu Imam Al Suyuthi menjawab, “Yang saya sempurnakan lebih baik.” Keesokan harinya saudara Al Mahalli segera menemui Imam Al Suyuthi dan menceritakan perihal mimpinya. Al Suyuthi menjawab dengan sangat tawaduk, “Karangan Imam Mahalli, guruku, lebih baik daripada punyaku. Aku hanya mengutip ilmu yang Al Mahalli berikan.”

Sedikit tentang Syeikh Hisyam Kamil Al Azhari, ia adalah salah seorang ulama Al Azhar yang bermazhab Syafiii dan berakidah Asyari. Setiap hari waktunya dihabiskan untuk mengajar ilmu syariah di berbagai majelis ilmu.

Di usia beliau yang masih relatif muda (42 tahun), Syeikh Hisyam merupakan ulama yang produktif nan dermawan. Di tengah kesibukan beliau mengajar ia masih sempat menulis kitab. Terhitung sampai sekarang 17 kitab dari berbagai disiplin ilmu telah keluarkan, mulai dari Fikih Syafii, Akidah Ahlus Sunah, Sirah Rasul, Mawaris dan sebagainya.

Salah satu hal yang terbilang luar biasa dari Syeikh Hisyam adalah selalu membagikan kitab karangannya secara cuma-cuma.

Bahkan tidak jarang terdengar melarang dan memarahi mereka yang membeli buku karangannya. Hal yang jarang ditemukan di daerah kita.

Acara yang berlangsung tiga jam lebih tersebut ditutup dengan pembagian kitab secara cuma-cuma kepada hadirin. Syeikh Hisyam juga menegaskan akan memberikan sanad yang bersambung kepada pengarang kitab.

Masjid yang sudah sangat sepuh inipun menjadi saksi bernafasnya kembali Madrasah Syafiiyah yang telah melewati mati suri yang sangat lama.

Empat Madzhab Fikih

Masjid Sultan Hasan merupakan salah satu bangunan termegah di Kota Kairo, Mesir. Bangunan awet ini juga merupakan salah satu objek wisata yang ramai dikunjungi wisatawan-wisatawan asing.

Masjid bersejarah ini dibangun atas perintah Sultan Hasan bin Nasir Muhammad bin Qalawun, penguasa dinasti Mamluk waktu itu.

Sang Sultan kala itu ingin mendirikan sebuah masjid yang juga berfungsi sebagai madrasah agama yang ditujukan kepada pengikut Ahlus sunnah wal jamaah.

Masjid SUltan Hasan lagi1

Di dalam masjid terdapat 4 ruangan besar yang dikhususkan untuk pelajar 4 mazhab fikih yang menjadi pijakan Ahlus Sunnah Wal Jamaah; Syafiiyah, Hanafiyah, Malikiyah, dan Hanabilah. Setiap mazhab mengambil satu ruangan tersebut untuk dijadikan madrasah.

Dibangun tahun 757 H/1356 M, masjid yang mempunyai arsitektur menawan tersebut masih tampak sangat gagah dan kokoh meskipun usianya yang sudah ratusan tahun.

Diceritakan oleh guru kami, Prof. Dr. Ali Jum’ah, Anggota Dewan Ulama Senior Al Azhar yang juga mantan Mufti Mesir, bahwa dulu Sultan Hasan menunjuk seorang ulama ahli qiraat untuk berdiam setiap hari di dalam Madrasah Syafi’iyah.

Ulama tersebut berada di sana mulai setelah Subuh sampai tengah hari untuk mendengarkan bacaan atau hafalan para pelajar. Sang Sultan juga memberikan 50 dirham (senilai 1000 pound Mesir sekarang) kepada setiap anak yatim yang telah menyempurnakan hafalan Al Quran nya. Jadi tidaklah heran jika masjid ini merupakan pusat pengajaran 4 mazhab fikih di masanya.

MasjidSyadiiyah_mesir2

Dengan dibuka kembalinya madrasah tersebut, semoga tradisi belajar-mengajar ilmu agama yang bersanad sampai kepada Rasulullah terus tumbuh subur di negeri kinanah ini.*/Khalid Muddatstsir, penulis alumnus Dayah Darul Ihsan Tgk. H. Hasan Krueng Kalee, Mahasiswa Jurusan Akidah Filsafat, Universitas Al Azhar

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:adabahlus sunnahAl Azharilmuimam syafi'iKairopelajarturats
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ulama dan Cendekiawan Dunia Islam Bahas Tantangan Liberalisme di Kuala Lumpur
Tulisan selanjutnya Kaum Ibu Gugat Negara Lewat Kongres Ibu Nusantara Ke-2

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas

Berita
13 Juli 2026 16:30
Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?