Hidayatullah.com—Penangkapan mantan Pimpinan Redaksi (Pimred) Playboy Indonesia, Erwin Arnada rupanya ikut menjadi perhatian pers asing. Sejumlah pers asing menganggap penangkapan Erwin sebagai preseden buruk bagi kebebasan.
Beberapa media asing, diantaranya Straits Times, TODAY online, New York Dailynews, Digital Journal dan AP ikut memberikan laporan. Sebagian diantaranya juga ikut memberi dukungan.
Umumnya media asing menyoroti penangkapan Ermin Armada dengan mengaitkan masalah demokrasi dan kebebasan berpendapat. Sebaliknya jarang mengaitkan dengan kebebasan kaum Muslim yang juga merupakan penduduk terbesar di Indonesia.
“Aku diperlakukan seperti seorang kriminal, dimasukkan ke mobil tahanan. Aku masih belum percaya kalau ada demokrasi di Indonesia, setidaknya kasusku yang membuatku berpikir demikian. Jika ada demokrasi di Indonesia, maka kebebasan pers akan dijamin dan dihargai. Pers dan jurnalis tidak seharusnya diperlakukan seperti penjahat, seperti yang kualami,” ungkap Erwin dikutip Digital Journal versi terjemahan bahasa Inggris.
Sedang AP ikut mendukung Erwin dengan mengutip pernyataan aktivis Panitia Perlindungan Pers, Haris Azhar.
“Hal ini memperburuk citra kebebasan berekspresi di Indonesia. Dia (Erwin) bukan penjahat. Lihat saja gambar dalam majalahnya. Majalahnya sudah diadaptasi sedemikian rupa agar tidak menyinggung budaya Indonesia.
”Ini merupakan preseden buruk bagi kebebasan berekspresi,” ujar Haris Azhar pada AP. Ia menambahkan, kasus ini sebuah kemunduran setelah kediktatoran Soeharto yang berakhir dalam gelombang protes pro-demokrasi lebih dari 10 tahun yang lalu.
Sebelum ini, Dewan Pers menyatakan keputusannya tidak berubah sejak tahun 2007, bahwa majalah Playboy Indonesia tidak menyalahi pasal pornografi.
“Kita tidak berubah dari 2007, keputusan kita tetap sama bahwa Playboy Indonesia tidak menyalahi pasal pornografi,” kata Uni Lubis, perwakilan Dewan Pers saat ikut mendampingi Erwin Arnada di Kejari Jakarta Selatan, Sabtu (9/10).
Sementara itu, Ketua Dewan Pengurus Pusat (DPP) Front Pembela Islam (FPI) urusan advokasi, Munarman, SH menampik pendapat Dewan Pers. Menurutnya, Playboy secara sengaja didesain sebagai industry pornografi dan liberalisasi seksual di Indonesia.
“Tidak ada hubungannya dengan Dewan Pers sebab terbukti di persidangan, 98 persen keuntungan Playboy Indonesia disetor ke Playboy Amerika, “ ujarnya pada hidayatullah.com, Senin (11/10) sore. [cha/hidayatullah.com]