Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Wawancara

“Menghubungkan NU Dengan Syiah Seperti Othak-Athik Gathuk”

Ahmad
Terakhir diupdate: 20 September 2012 14:04 2:04 pm
Ahmad
Dipublikasikan 20 September 2012 14:04
Bagikan
Bagikan

SELASA kemarin (18/09/2012), bertempat di Gedung Sucofindo, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Syiah telah meluncurkan buku putihnya yang berjudul “Buku Putih Mazhab Syiah Menurut Ulama yang Muktabar” dan mengadakan seminar “Menuju Kesepahaman dan Kerukunan Umat Islam”. Dalam acara yang digagas oleh organisasi Syiah, Ahlulbait Indonesia (ABI), Anggota Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI), Dr Muhsin Labib mengatakan, antara Nahdhatul Ulama (NU) dan Syiah ada kemiripan. [baca:Mengaku Ada Kemiripan dengan NU, Syiah Ajak Waspadai Al Bayyinat]

Namun pendapat Muhsin ini dibantah mantan Khatib Aam Syuriah NU Cabang Istimewa Malaysia, Dr Anis Malik Thoha. Menurut kemenakan Kiai Sahal Mahfudz, ini, mengatakan NU sama dengan Syiah adalah sebuah pernyataan “Othak-Athik Gathuk” (dikait-kaitkan, red).
Seperti diketahui, Anis Malik Toha dikenal sebagai pakar masalah pluralisme agama dan sehari-hari sebagai dosen Ilmu Perbandingan Agama pada International Islamic University, Malaysia (IIUM).

“Tidak bisa serta-merta menjadi justifikasi bahwa NU itu asalnya adalah Syi’ah,” ujar Anis yang juga penulis “Tren Pluralisme Agama” ini. Apa maksudnya? Berikut wawancara hidayatullah.com dengan Dr. Anis, Kamis (20/09/2012).

Benarkah klaim bahwa Islam Syafi’i adalah mazhab yang paling dekat dengan esoterisme dan Syiah, juga bahwa NU esoterismenya berwajah Syiah dan eksoteriknya berwajah Sunni. Juga dikatakan NU adalah proses untuk menggabungkan keduanya?

Sepanjang itu teori, ya saya rasa siapa saja boleh berteori. Tapi yang perlu diperhatikan adalah bagaimana teori itu dibangun, dan atas dasar apa?

Baca Juga

Pengamat Politik Internasional UI Sofwan Al-Banna Menampik Adanya Hubungan Kuat Hamas dengan Syiah
Kisah Hafizh Belajar Menghafal Qur’an: “Pahitnya” Bambu, Manisnya Pisang Goreng [2]
Kisah Hafizh Belajar Menghafal: Al-Qur’an Dieja Pakai Bahasa Latin [1]
Sinyo Egie, Pendiri Peduli Sahabat:  Pelaku LGBT Harus Punya Niat dan Keinginan Sembuh
Kisah Ustadz Hasan Ibrahim Bergabung Hidayatullah: Masuk Hutan, Batalkan Kuliah Madinah

Menurut Muhsin Labib, perkataan itu diambil dari ucapan Gus Dur?

Muhsin Labib itu siapa? dan Gus Dur itu siapa? Apakah ulama dan para kiai besar NU bisa membenarkan pendapat mereka?

Hidayatullah kemudian menjelaskan bahwa Muhsin Labib lulusan Qom, Iran dan Direktur Moderat Institute

Ya iya lah… karuan saja, wong dia digembleng di Qom, Iran. Logika dangkalnya, dia pasti cari-cari mana justifikasinya untuk mengatakan bahwa NU adalah Syi’ah. Kalau boleh saya katakan dalam istilah Jawanya, itu disebut “Othak-athik gathuk” (ilmu mengkait-kaitkan, red).

Kembali pada model “othak-athik gathuk” tadi, jelas itu tidak ilmiah. Saya sepenuhnya tidak bisa menerimanya. Di kalangan NU sendiri memang ada kecenderungan seperti itu. Khususnya orang-orang yang “ditokohkan” akhir-akhir ini. Gus Dur, adalah satu contoh model kalangan ini. Beliau tanpa tedeng aling-aling (terang-terangan, red) mengatakan bahwa banyak amalan-amalan ibadah NU itu berbau Syi’ah.

Saya sendiri bisa membenarkan adanya unsur-unsur Syi’ah dalam beberapa praktik ibadah (rites and rituals) NU. Tapi hal ini tidak bisa serta-merta menjadi justifikasi bahwa NU itu asalnya adalah Syi’ah. Banyak hal yang mesti diurai.

Contohnya seperti dalam syi’ir ini لي خمسة أطفي بها حر الوباء إلخ Pertama, dalam syi’ir ini tidak secara tegas (dalam tradisi NU, tentu) dinyatakan keyakinan akidah Syi’ah. Syi’ir ini hanya menurut saya hanya menegaskan keutamaan/posisi Ahlulbait Rasulullah. Tidak lebih dan tidak kurang. Dan setiap Muslim harus menghormati dan mencintai mereka. Jadi, ini tidak cukup untuk membuat kesimpulan bahwa NU itu Syi’ah atau bagian dari Syi’ah.

Kedua, sepengetahuan saya (bisa jadi saya salah), syi’ir ini mulai popular dilantunkan di masjid-masjid, langgar-langgar, mushalla-mushalla, pengajian-pengajian baru di kemudian hari (sekitar 70-an). Artinya sebelumnya “kurang” popular.

Ketiga, sejak berdirinya tahun 1926 garis panduan dasar (AD/ART) NU sangat-sangat jelas tidak ada sedikit pun kata-kata atau redaksi yang bisa ditafsirkan menyerupai kepercayaan Syi’ah. Bahkan Hadhratus Syaikh Hasyim Asy’ari sendiri tegas-tegas menolak Syi’ah.

Jadi, kalau kemudian hari cucunya, dan sebagian dari pengikutnya mencoba menarik-narik NU untuk diakurkan dengan Syi’ah tentu perlu dipertanyakan. Itulah yang saya maksud “othak-athik gathuk” yang ternyata ndak gathuk juga (tidak nyambung, red).

Istilahnya untuk mencari pembenaran ya pak?

Maksudnya ya itu tadi, mengotak-atik, mencari-cari sesuatu, pemikiran yang sebetulnya ndak ada saling keterkaitan antara satu dan lainnya, untuk kemudian bisa dipadukan dan menjadi sesuai.

Hanya saja perlu ditegaskan bahwa pendapat saya di atas bukan berarti menolak keberadaan mereka. Saya tetap berpendapat seperti yang selalu saya tekankan di dalam buku dan tulisan-tulisan saya dalam menyikapi perbedaan, pluralitas atau keragaman.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Menjual dan Tidak Takut Menunjukkan Cacat
Tulisan selanjutnya Pemerintah Sebaiknya Mengatasi Tawuran Pelajar, Bukan Rohis

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam

Berita
30 Mei 2026 13:38
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Wawancara

Pakar Anti Feminisme Dr Norsaleha Mohd Salleh: Liberalisme dan Feminisme Itu Satu Paket

24 Juli 2021 17:03
baitul maqdis
Wawancara

Dr. Khalid el-Awaisi: “Kini Banyak Orang Islam Berhati Zionis”

11 Juni 2021 09:55
Masjid Al-Aqsha
Wawancara

Akademisi Gaza: “Dihujani Berton-ton Bom, Kami akan Tetap Bersandar pada Allah untuk Perjuangkan Masjid Al-Aqsha”

22 Mei 2021 10:45
Wawancara

Ahmad Sarwat: Salafi Termasuk Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah

15 April 2021 11:06
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?